Peringatan Confucius Agar Tidak Menjadi “Manusia Alat” Masih Relevan di Era Algoritma

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

Dalam slang internet Tiongkok masa kini, istilah “manusia alat” (gongju ren) merujuk pada seseorang yang dihargai hanya karena kegunaannya—mudah digantikan, bisa dikorbankan, dan didefinisikan semata oleh fungsinya. Lebih dari 2.500 tahun lalu, Konfusius sudah menggambarkan kondisi serupa dalam ungkapan yang jauh lebih sederhana: junzi bu qi—manusia unggul bukanlah alat.

Konsep junzi, yang sering diterjemahkan sebagai “pribadi luhur” atau “manusia teladan,” berada di pusat pemikiran Konfusianisme. Sosok ini tidak ditentukan hanya oleh keterampilan. Kompetensi memang penting, tetapi bukan penentu nilai seseorang. Yang lebih utama adalah kemampuan menjaga penilaian, keseimbangan moral, dan rasa proporsi dalam berbagai situasi yang terus berubah.

Cendekiawan dan penerjemah Gu Hongming pada awal abad ke-20 pernah menyatakan bahwa seluruh sistem pemikiran Konfusius dapat diringkas menjadi satu gagasan: pembentukan manusia teladan. Tujuan ini membentuk generasi demi generasi ajaran moral dan praktik pengembangan diri dalam sejarah intelektual Tiongkok.

Alat Memiliki Fungsi Tetap; Manusia Seharusnya Tidak

Istilah yang digunakan Konfusius untuk “alat,” yaitu qi, awalnya merujuk pada wadah atau peralatan—sesuatu yang ditentukan oleh bentuknya, dan karena itu oleh fungsinya. Wadah digunakan untuk menuang air. Pisau untuk memotong. Masing-masing memiliki tujuan spesifik dan sulit melampauinya.

Peringatan Konfusius menerapkan gagasan ini pada kehidupan manusia. Seseorang yang direduksi menjadi satu fungsi berisiko menjadi dapat dipertukarkan. Hal ini sangat relevan bagi para spesialis dan individu berprestasi tinggi, yang mana identitasnya bisa menyempit hanya pada apa yang paling mereka kuasai.

Pemikir Taoisme mencapai kesimpulan serupa dari sudut pandang berbeda. Sebuah kalimat dalam Tao Te Ching menyatakan bahwa “wadah besar” yang sejati tidak pernah sepenuhnya selesai, yang menyiratkan bahwa bentuk yang tetap membatasi kemungkinan. Zhuangzi menggambarkan ide ini melalui kisah Juru Masak Ding, yang keterampilannya dalam memotong daging tampak tanpa usaha. Saat diminta menjelaskan, ia berkata, “Yang saya kejar adalah Tao, yang melampaui teknik.” Keterampilan semata bukanlah tujuan akhir.

Konfusius menyoroti perbedaan ini melalui pendidikan. “Para sarjana zaman dahulu belajar untuk diri mereka sendiri,” katanya, “sedangkan yang sekarang belajar untuk orang lain.” Pengikutnya, Xunzi, memperjelas perbedaan itu: manusia teladan belajar untuk membina diri, sementara manusia biasa belajar untuk memamerkan kemampuan.

Sosiologi modern menggambarkan masalah serupa sebagai “rasionalitas instrumental”—kebiasaan menilai tindakan dan hubungan semata berdasarkan kegunaan. Dalam kondisi seperti ini, manusia mulai memperlakukan diri mereka sendiri seperti alat.

Doktrin Jalan Tengah Menolak Ekstrem

Gagasan inti lain dalam pemikiran Konfusianisme membahas bentuk ketidakseimbangan yang berbeda. Dalam sebuah percakapan terkenal, Konfusius diminta membandingkan dua murid. Yang satu, katanya, melampaui batas; yang lain, tidak mencapai cukup jauh. Ketika diminta memilih siapa yang lebih baik, ia menjawab bahwa keduanya sama-sama memiliki kekurangan.

Ini menjadi salah satu ungkapan awal dari konsep zhongyong, yang sering diterjemahkan sebagai doktrin jalan tengah.

Konsep ini bukan sekadar menganjurkan kompromi. Sebaliknya, ia menuntut kemampuan menilai proporsi. Setiap situasi mengandung dua ekstrem—terlalu banyak dan terlalu sedikit, berlebihan dan kekurangan. Tugasnya adalah menemukan apa yang paling tepat.

Teks klasik menggambarkan proses ini sebagai “memegang kedua ujung dan menerapkan bagian tengah.” Hal ini bergantung pada pengalaman, refleksi, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri.

Konfusius menjelaskannya secara praktis: “Ketika substansi melebihi kehalusan, seseorang menjadi kasar. Ketika kehalusan melebihi substansi, seseorang menjadi dangkal. Keseimbangan menghasilkan manusia teladan.”

Jalan tengah juga menuntut fleksibilitas seiring waktu. Apa yang dianggap seimbang akan berubah sesuai keadaan. Menjaganya membutuhkan kesadaran dan refleksi diri, bukan aturan yang kaku.

Kenapa Gagasan Ini Masih Relevan Sampai Sekarang

Di era digital, sistem modern justru makin memperkuat dua hal yang sudah diperingatkan oleh Confucius sejak dulu.

Pertama, reduksi: manusia dinilai dari hal yang sempit—misalnya cuma dari pekerjaan, angka, atau pencapaian tertentu.
Kedua, polarisasi: opini makin ditarik ke arah ekstrem, jadi serba hitam-putih.

Platform online cenderung “menghadiahi” perhatian, dan perhatian biasanya muncul dari konflik. Akibatnya, pendapat yang santai, seimbang, atau penuh nuansa jadi kalah cepat menyebar dibanding yang keras dan ekstrem. Lama-kelamaan, lingkungan seperti ini bikin cara berpikir jadi makin kaku dan tidak fleksibel.

sumber : visiontimes.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dorong Kemandirian Pangan, DPRD Anambas Tinjau Lahan untuk Pembangunan Kompleks Bulog
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Dijaga Ketat, Begini Situasi di Hotel Hilton Washington Usai Insiden Penembakan | KOMPAS SIANG
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Waka DPR Soroti Kasus Kekerasan Daycare Yogyakarta, Minta Diusut Tuntas
• 21 jam laludetik.com
thumb
Antisipasi Kebuntuan di DPR, Kemendagri Siapkan Draf Substansi RUU Pemilu
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Bobo the Origin Resmi Diluncurkan, Hadirkan Wajah Baru Bobo
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.