Pesan Guru Wildan untuk Gus Salam Minta Agar NU Dijalankan dengan Landasan Keilmuan Pesantren

tvonenews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Banjar, tvOnenews.com - Jelang Muktamar NU ke-35, Abdussalam Shohib atau Gus Salam terus melakukan roadshow, meminta doa restu hingga nasihat para ulama dan pesantren Nahdlatul Ulama terkait pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Kali ini Gus Salam berkunjung ke Banjar, Kalimantan Selatan Minggu (26/4/2026) untuk sowan kepada KH Muhammad Wildan Salman, yang dikenal Guru Wildan; keturunan dari Syeikh M. Arsyad Al-Banjari (Datuk Kelampayan), Martapura, Banjar Kalimantan Selatan.

“Saya selalu dan menjadi protokol, kalau masuk ke suatu wilayah untuk menggalang kepercayaan ketua-ketua PCNU, saya akan sowan dulu ke Rais Syuriyah dan Kiai sepuh setempat. Dan saya sudah sowan silaturrohim Guru Wildan,” kata Gus Salam, Minggu (26/4/2026).

“Saya mengagumi beliau, karena murid langsung syeikh Yasin al-Fadani yang dijuluki Musnid Ad-Dunya (pemilik sanad ilmu terluas di dunia); ulama besar Makkah keturunan Minangkabau. Dan, Guru Wildan mengasuh pesantren tertua dan terbesar di Kalsel; Pesantren Darussalam dengan jumlah santri 12.000,” tambahnya.

Gus Salam mengaku mendapat pesan penting dari Guru Wildan agar menjaga dan menjalankan jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan landasan keilmuan berbasis pesantren serta etika-akhlaqul karimah yang kuat. 

“Guru Wildan juga berpesan agar NU dikelola dengan rasa cinta, saling mengasihi dan menguatkan ukhuwwah nahdliyyah,” ujar Gus Salam.

“Saya sudah pamit beliau dan mohon izin untuk komunikasi dengan PCNU se-Kalimantan Selatan. Dan, Alhamdulillah juga dido’akan beliau agar diberi kemudahan meraih cita-cita,” tambahnya.   

Disamping silaturrohim, Gus Salam direncanakan menyajikan kajian kitab kuning “Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asyfiya”.

Gus Salam menjelaskan bahwa membentuk karakter dan mendidik karakter sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, terutama NU dan berbangsa. 

Dan, kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asfiya’ menyuguhkan kajian, panduan dan kisah-kisah praksis membentuk karakter dari para sahabat, ulama dan aulia (para wali).

“Kita ingat, bagaimana character building, membangun kepribadian bangsa menjadi prioritas Ir. Soekarno. Bagaimana pendiri NU, Mbah KH Bishri Syansuri berwasiat agar tetap menjadi NU. Bahkan hebatnya, KH As’ad Syamsul Arifin menjadikan NU sebagai Thoriqoh,” ujar Gus Salam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perut Kenyang, Nasib Guru Melayang: Ironi MBG di Jawa Barat
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Vokalis For Revenge Hentikan Konser demi Tolong Penonton yang Pingsan
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Kemendagri Siap Bahas RUU Pemilu di DPR
• 2 jam lalukompas.com
thumb
13 Tersangka Kasus Penganiayaan Daycare di Jogja, Polda DIY Sebut Bisa Bertambah
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Bahlil soal Isu Reshuffle Kabinet Hari Ini: Nanti Kita Lihat
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.