JAKARTA, KOMPAS.com — Kenaikan harga kedelai dan bahan kemasan mulai menekan pelaku usaha tempe rumahan di Jakarta. Anto (38), perajin tempe di Cilincing, Jakarta Utara, menjadi salah satu yang merasakan dampaknya.
Ia harus memutar strategi agar pabrik tempe rumahan berusia 45 tahun milik keluarganya tetap bertahan di tengah biaya produksi yang terus meningkat.
Pabrik tempe tersebut telah berdiri sejak 1981 dan merupakan usaha turun-temurun dari orangtuanya. Anto kini menjadi generasi kedua yang berusaha mempertahankan sekaligus mengembangkan usaha tersebut.
Baca juga: Banting Setir dari Buruh Pabrik, Anto Raup Omzet Rp 51 Juta dari Usaha Tempe Rumahan
Namun, mempertahankan pabrik tempe saat ini tidaklah mudah. Ia menghadapi berbagai tantangan, salah satunya kenaikan harga kacang kedelai.
Sebelum Hari Raya Idul Fitri 2026, harga kedelai masih Rp 9.600 per kilogram. Kini, harganya telah naik menjadi Rp 10.800 per kilogram.
Setiap hari, Anto membutuhkan sekitar 100 kilogram kedelai untuk memproduksi tempe. Kenaikan harga bahan baku tersebut otomatis meningkatkan biaya produksi harian.
Di tengah naiknya harga kedelai, para perajin tempe juga dibebani melonjaknya harga plastik. Dalam proses pencetakan, perajin masih mengandalkan plastik bening sepanjang 2,4 meter sebagai pembungkus tempe.
Anto mengatakan, untuk kebutuhan produksi, ia membutuhkan sekitar satu kilogram plastik bening. Harga plastik kini mencapai Rp 55.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp 35.000.
Dalam satu bulan, ia harus mengeluarkan sekitar Rp 1,6 juta hanya untuk membeli plastik. Kenaikan harga kemasan tersebut membuat keuntungan para perajin tempe semakin tipis.
Baca juga: Potret Pabrik Tempe Rumahan di Jakut, 45 Tahun Bertahan di Tengah Guncangan Harga Kedelai
Kecilkan ukuran tempeMelonjaknya harga kacang kedelai dan plastik membuat para perajin tempe berpikir keras agar tetap memperoleh keuntungan tanpa menaikkan harga. Anto memilih menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran tempe yang dijual.
"Biasanya harga Rp 10.000 yang panjangnya 80 sentimeter (cm), diperkecil jadi 75 cm," kata Anto saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (24/4/2026).
Sejauh ini, ia memilih tidak menaikkan harga agar tidak memberatkan pelanggan. Namun, jika harga kedelai dan plastik terus naik, Anto mempertimbangkan untuk menaikkan harga tempenya.
Sebelum menaikkan harga, ia berencana memberi tahu pelanggan lebih dulu agar tidak terkejut.
Air dan cuaca juga jadi tantanganSelain kenaikan harga bahan baku, faktor alam seperti cuaca dan kondisi air juga menjadi tantangan dalam menghasilkan tempe berkualitas. Cuaca Jakarta yang tidak menentu sering mempersulit proses fermentasi.
"Berpengaruh sekali kalau cuacanya lagi hujan terus tempe itu susah untuk peragian, tumbuh jamur itu susah," kata dia.





