Jakarta: Di Indonesia, ikan sapu-sapu kini semakin banyak ditemukan karena kemampuan berkembang biaknya yang cepat, terutama di perairan yang sudah tercemar dan minim predator alami.
Kondisi ini membuat populasinya sulit dikendalikan dan kerap mendominasi ekosistem perairan. Meski begitu, di sejumlah negara lain, ikan sapu-sapu justru dimanfaatkan dan dikonsumsi.
Baca Juga :
Pakar Ungkap Cara Ikan Sapu-sapu Merusak EkosistemDi Brazil, ikan ini dikenal dengan nama acari dan biasa dijual hidup di pasar tradisional. Masyarakat setempat mengolahnya dengan cara dipanggang, dimasak menjadi sup, hingga digiling menjadi piracui atau tepung ikan yang digunakan sebagai bahan olahan makanan. 2. Peru Ikan yang dikenal sebagia carachama juga dimanfaatkan sebagai bahan sup tradisional. Sementara di Venezuela dan Kolombia, ikan ini menjadi alternatif sumber protein karena ketersediaannya melimpah. 3. Meksiko Di Meksiko, ikan sapu-sapu dikenal sebagai pez diablo atau “ikan iblis”. Melansir NPR, berbagai inisiatif di negara itu sempat mengembangkan pemanfaatan ikan ini menjadi tepung ikan untuk pakan ternak dan pupuk, meski sebagian masih dalam tahap uji coba. Selain dikonsumsi, pemanfaatan tersebut juga menjadi salah satu cara mengendalikan populasinya di perairan yang mengalami invasi spesies ini. 4. Venezuela dan Kolombia Kondisi dari kedua negara ini hampir sama, karena jumlahnya yang melimpah, ikan ini jadi solusi pangan saat harga daging sedang naik. Mereka mengolahnya dengan bumbu lokal khas setempat yang kaya rempah.
Baca Juga :
Lima Pria Penjual Daging Ikan Sapu-sapu di Jakpus DiamankanHal ini berbeda dengan sejumlah perairan di Indonesia, di mana spesies ini berkembang tanpa banyak predator alami dan mudah mendominasi lingkungan. Potensi Gizi Ikan Sapu-Sapu Melansir dari Halodoc, ikan sapu-sapu yang berasal dari sumber air bersih sebenarnya memiliki kandungan gizi yang cukup baik, seperti protein, kalsium, fosfor, vitamin D, selenium, omega-3, dan asam amino esensial yang berpotensi mendukung kesehatan tulang, metabolisme, hingga fungsi jantung dan otak.
Namun, konsumsinya perlu diwaspadai karena sifatnya sebagai ikan pemakan dasar (bottom feeder) yang rentan mengakumulasi logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium jika hidup di perairan tercemar. Paparan zat berbahaya ini berisiko menimbulkan gangguan kesehatan serius, mulai dari keracunan dan kerusakan organ hingga efek jangka panjang pada sistem saraf.
(Jessica Nur Faddilah)




