Maskapai BUMN PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) telah memangkas sebanyak 101 karyawan hingga kuartal pertama 2026. Merujuk laporan resmi perusahaan, jumlah karyawan Garuda Indonesia dan entitas anak pada 31 Maret 2026 total 10.724. Sedangkan jumlah karyawan yang tidak diaudit sepanjang 2025 sebanyak 10.852.
Berdasarkan laporan keuangannya, emiten maskapai pelat merah itu pun membukukan rugi bersih US$ 41,62 juta atau setara dengan Rp 707,49 miliar pada kuartal pertama 2026. Kala merugi pendapatan GIAA justru naik menjadi US$ 762,35 juta dari US$ 723,56 juta secara tahunan atau year on year (YoY).
Pendapatan tersebut diperoleh dari penerbangan berjadwal sebesar US$ 648,10 juta, penerbangan tidak berjadwal sebesar US$ 24,98 juta dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 89,27 juta. Seiring dengan pendapatan Garuda naik, beban usaha GIAA pun tercatat turun dari US$ 718,36 juta dari US$ 713,22 juta secara tahunan.
Sementara itu Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia mengatakan rencana penggabungan usaha atau merger maskapai Garuda Indonesia dengan Pelita Air ditargetkan rampung semester pertama 2026.
Managing Director Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan rencana holdingisasi maskapai antara Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan menjadi satu integrasi. Melalui skema itu, nantinya ketiga maskapai akan memiliki sistem pemesanan satu pintu, hingga program loyalitas yang terintegrasi seperti Garuda Points dan mileage, hingga sistem registrasi penumpang yang sama.
Tak hanya itu, penggabungan ini juga nantinya memungkinkan pengaturan kursi penerbangan lebih fleksibel antar maskapai dalam satu grup. Dengan sistem itu, penumpang dari penerbangan Garuda Indonesia yang kelebihan pemesanan (overbook) dapat langsung dialihkan ke penerbangan Citilink atau Pelita Air.
Ia menyebut skema ini dinilai lebih efisien dibandingkan harus mengalihkan penumpang ke maskapai lain di luar grup seperti Batik Air atau Lion Air. Selain itu, penggabungan ekosistem maskapai juga akan memperbesar total armada di bawah Garuda Indonesia.
“Seperti itu tujuannya, jadi optimalisasi dari sistem booking satu, kedua jumlah pesawat jadi lebih banyak kalau bergabung,” ujar Rohan dalam Exclusive Group Interview di Gedung Danantara, Jakarta, Kamis (26/2).
Dampak Perang, Lonjakan Harga Minyak dan RupiahSebelumnya Danantara Indonesia mengungkapkan dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan ekskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran terhadap sektor penerbangan.
Managing Director Finance Danantara Asset Management, Sahala Situmorang, mengakui dampak signifikan dari perang serta lonjakan harga minyak terhadap kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).
“Tentu saja, kami semua tahu mereka sangat terdampak,” kata Sahala dalam dalam diskusi Fitch on Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (23/4).
Sahala pun menyoroti lonjakan harga bahan bakar yang naik hampir dua kali lipat dan pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menembus level 17.300 per dolar AS. Menurut dia, pihaknya terus berkomunikasi dengan manajemen GIAA untuk memantau dampak, khususnya terhadap arus kas.
Ia menyatakan, tekanan yang dihadapi maskapai nasional itu terbilang signifikan. Danantara juga membahas skema dukungan, termasuk dari sisi pembiayaan.
“Tetapi yang pasti, kami ada di sana untuk mendukung Garuda,” kata Sahala.
Sahala juga mengatakan konflik di Timur Tengah tidak mengubah pengelolaan terhadap BUMN. Menurutnya, ketidakpastian global seperti perang maupun bencana akan terus terjadi dan sudah menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi.
Danantara Asset Management tetap konsisten dalam strategi pengelolaan perusahaan pelat merah. Kendati demikian, ia memastikan perusahaan tetap rutin melakukan uji stres dan analisis sensitivitas demi mengantisipasi berbagai potensi risiko ke depan.
“Dan perang ini dimulai mungkin satu atau dua bulan yang lalu, kemudian kami mulai melakukan uji stres. Tentu saja, uji stresnya sedikit berbeda,” ucap Sahala.




