Menteri ESDM Bahlil Lapor ke Presiden Prabowo: Ketahanan Energi RI Stabil Meski Timteng Memanas

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan cadangan energi nasional mulai dari bahan bakar minyak (BBM) hingga stok minyak mentah (crude) berada di atas standar minimum nasional.

Hal ini disampaikan Bahlil seusai mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.

BACA JUGA: Bahlil Lahadalia Jamin Stok LPG Aman, Dapat Pasokan dari AS hingga Australia

"Saya menyampaikan, melaporkan terkait dengan perkembangan energi nasional kita. Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin, dari semua aspek, alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional," kata Bahlil seusai rapat terbatas dengan Presiden RI Parbowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.

Bahlil menjelaskan bahwa kondisi ketahanan energi Indonesia tetap stabil meski tengah menghadapi tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurut dia, situasi di Selat Hormuz dalam dua bulan terakhir tidak mengganggu pasokan domestik secara signifikan.

BACA JUGA: 11 Orang Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Gudang BBM Ilegal di Musi Rawas

"Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian, geopolitik di Timur Tengah tentang Selat Hormuz, kita masih stabil," ujarnya menambahkan.

Selain produk BBM, stok minyak mentah untuk kilang atau refinery juga dilaporkan dalam kondisi aman. Bahlil menyebutkan ketersediaan stok tersebut relatif tidak menghadapi kendala berarti karena posisinya yang masih di atas batas minimum yang ditentukan.

BACA JUGA: Hyundai Tak Mau Buru-Buru Proyeksi Penjualan Mobil Listrik Seusai BBM Nonsubsidi Naik

Terkait dengan konsumsi LPG, Menteri ESDM melaporkan bahwa pemerintah sedang mencari langkah-langkah alternatif untuk melakukan substitusi impor. Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, namun produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6 hingga 1,7 juta ton.

Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahunnya sejak kebijakan konversi minyak tanah dilakukan. Ia mengakui bahwa keterbatasan bahan baku C3 (propana) dan C4 (butana) menjadi kendala utama dalam membangun industri LPG di tanah air.

"Dan saya juga melaporkan bahwa untuk LPG ini kita putar otak terus. Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya," tutur Bahlil.

Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah mempertimbangkan beberapa alternatif, termasuk konversi batu bara berkalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME). Selain itu, pemerintah juga tengah membahas opsi penggunaan Compressed Natural Gas (CNG).

"Ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan," kata dia.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di NTT Didorong DPR untuk Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Polisi Bongkar Ladang Ganja 20 Ha di Empat Lawang Sumsel, 220 Kg Disita
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
53 Anak Jadi Korban Kekerasan Daycare Little Aresha, Pemprov DIY Beri Pendampingan Psikologis
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Hokkaido Jepang Diguncang GempaM6,0, BMKG: Tak Berdampak ke Indonesia
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Hari Otonomi Daerah ke-30, Mendagri Dorong Inovasi Layanan Publik
• 8 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.