Dirjen Imigrasi Kantongi Identitas WNA Minta Tumpangan Gratis

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Direktorat Jenderal Imigrasi telah mengantongi identitas warga negara asing yang viral setelah meminta tumpangan gratis di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Ke depan, warga diharapkan tak ragu melaporkan tindak tanduk warga negara asing (WNA) di Indonesia. Laporan bisa melalui kanal pengaduan masyarakat, seperti laman resmi, media sosial, dan seluruh kantor imigrasi.

Koordinator Fungsi Komunikasi Publik Direktorat Jenderal Imigrasi Achmad Nur Saleh menyebut, pihaknya langsung memantau WNA tersebut setelah ada kejadian itu. Identitasnya telah diketahui dan Dirjen Imigrasi sudah berkoordinasi dengan kedutaan besar terkait.

Baca JugaWNA Minta Tumpangan Gratis, Pengungsi dan Pengawasan Imigrasi Disorot

"Sementara ini yang bersangkutan adalah warga negara Rusia. Petugas kami sudah mengecek di daerah sekitar (Setiabudi) dan parameternya, sambil bertanya-tanya juga ke masyarakat apakah masih melihat keberadaan yang bersangkutan," tutur Achmad, Senin (27/4/2026).

Sebelumnya, pengguna X, pada Minggu (26/4/2026) pukul 17.08 WIB mencuitkan pengalamannya dimintai tumpangan dan penginapan gratis oleh seorang WNA. Saat itu, ia dan kekasihnya sedang menunggu taksi daring (online).

Menurut Achmad, petugas di lapangan siap untuk menindak WNA tersebut jika sudah ditemukan. Namun, belum diketahui sudah berapa lama ia berada di Tanah Air atau apakah dia melanggar izin, seperti overstay.

"Kalau untuk hal itu (pelanggaran), kami masih butuh pendalaman lagi. Namun, yang jelas sampai saat ini dia masih berada di Indonesia," ujar Achmad.

Achmad sangat berharap partisipasi aktif masyarakat dalam memberikan informasi tentang WNA di kanal-kanal milik Dirjen Imigrasi. Sinergi tersebut sangat penting untuk menjaga sekaligus meminimalkan pelanggaran keimigrasian.

Operasi Wirawaspada se-Indonesia pada 7-11 April 2026, misalnya, menangkap 346 WNA. Mereka melanggar izin tinggal karena tidak sesuai peruntukannya, dugaan tidak melaporkan perubahan data keimigrasian, dan indikasi bekerja tanpa izin.

Dalam siaran persnya disebutkan bahwa WNA yang terjaring operasi berasal dari sejumlah negara. Paling banyak China (183 orang), disusul Pakistan (21 orang), Nigeria (20 orang), Jepang (13 orang), dan negara lain, seperti Singapura, Korea Selatan, dan India.

Pengungsi

Aksi WNA meminta tumpangan gratis di Setiabudi sempat dikaitkan dengan keberadaan pengungsi di depan kantor Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR). Sebab, mereka mendirikan tenda dan tinggal di depan kantor yang terletak di Setiabudi.

Assistant Protection Officer UNHCR Hendrik Therik menuturkan, sampai saat ini, memang banyak pengungsi tinggal di depan kantor UNHCR. Mereka menggelar lapak dan tenda seadanya di sebagian trotoar.

UNHCR selalu mengingatkan pengungsi untuk tidak tidur di pinggir jalan karena melanggar Peraturan Daerah Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Namun, orang asing tidak hanya pengungsi. UNHCR harus mengecek dan memverifikasi identitasnya agar diketahui terdaftar dalam dokumen yang diterbitkan.

”Kalau siang, jumlahnya (pengungsi) memang sedikit. Biasanya mereka ditegur kalau ada aduan ke kecamatan dan sudah pernah dilakukan penertiban sebelumnya ketika dinilai sudah mengganggu,” kata Hendrik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
1 Tentara Israel Tewas dalam Pertempuran di Lebanon Selatan
• 15 jam laludetik.com
thumb
Reshuffle Kabinet, Ini Daftar Lengkap Pejabat yang Dilantik Prabowo
• 4 jam laludetik.com
thumb
Indomobil boyong SUV listrik keluarga Leapmotor C10 ke Indonesia
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Jelang Iduladha, Wamentan Ingatkan Pentingnya Jaga Sapi Betina Produktif
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Komisi III DPR Desak Pemilik Daycare Little Aresha Dipidana: Sangat Keji
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.