DPP PATRIA Bertemu Jusuf Kalla, Gustaf Tegaskan Pentingnya Menjaga Persatuan, Merawat Keberagaman

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Alumni Margasiswa Republik Indonesia (DPP PATRIA PMKRI) bertemu dan berdialog dengan Wakil Presiden ke-10 dan 12 Republik Indonesia Jusuf Kalla di kediamannnya, Kawasan Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum DPP PATRIA Agustinus Tamo Mbapa menegaskan organisasi yang dipimpinnya berdiri pada posisi yang jelas, yaitu menjaga persatuan, merawat keberagaman, dan menolak segala bentukl kekerasan yang mengatasnamakan agama.

BACA JUGA: Jusuf Kalla Akan Terima DPP PATRIA PMKRI Perihal Dialog Merawat Kebangsaan

Ketua Umum DPP PATRIA Agustinus Tamo Mbapa menyerahkan cendera mata berupa plakat kepada Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla saat dialog di kediamannya, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Dok. DPP PATRIA PMKRI

BACA JUGA: DPP PATRIA PMKRI Undang Jusuf Kalla Berdialog Tentang Merawat Kebangsaan

“Kami percaya, melalui dialog yang jernih dan niat baik bersama, kita dapat mengubah polemik menjadi pembelajaran dan perbedaan menjadi kekuatan,” ujar Gustaf sapaan akrab Agustinus Tamo Mbapa didampingi jajaran DPP PATRIA, yaitu Septyarini (Sekjen), Maksimus Ramses Lalongkoe (Wakil Ketua Umum), dan Friederich Batari (Ketua Bidang Internal Organisasi).

Sebelumnya, DPP PATRIA PMKRI menyurati Jusuf Kalla untuk berdialog dalam rangka merawat kebangsaan.

BACA JUGA: Menjelang Pelantikan DPP PATRIA 2025-2030, Gustaf Bertemu Profesor Purnomo Yusgiantoro, Begini Pesannya

Foto bersama seusai berdialog dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla di kediamannya, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Dok. DPP PATRIA PMKRI

Untuk diketahui, dalam dialog dengan Jusuf Kalla, turut hadir di antaranya Ketua Umum Vox Point Yohanes Handojo Budhisedjati dan Sekjen FORMAS Hoga Saragih.

Pada kesempatan itu, Jusuf Kalla menyambut baik upaya dialog dalam semangat merawat kebangsaan.

Sementara itu, Gustaf berkesempatan membacakan pandangan DPP PATRIA PMKRI saat momen dialog dengan Jusuf Kalla.

Setelah membacakan dan menyerahkan beberapa pointer pemikiran DPP PATRIA, Gustaf juga menyerahkan plakat DPP PATRIA kepada Jusuf Kalla.

Adapun isi pandangan dan pemikiran DPP PATRIA yang disampaikan kepada Jusuf Kalla Adalah sebagai berikut:

DIALOG DPP PATRIA PMKRI BERSAMA Jusuf Kalla

Senin, 27 April 2026 Pukul 14:00 WIB

Kebayoran Baru - Jakarta Selatan

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

 

Yang kami hormati Bapak Jusuf Kalla,

 

Tokoh bangsa yang telah banyak berkontribusi dalam perjalanan demokrasi dan perdamaian di Indonesia. 

Perkenalkan, kami dari DPP PATRIA PMKRI, organisasi alumni PMKRI. Saat ini yang hadir, saya, Agustinus Tamo Mbapa sebagai Ketua Umum bersama Ibu Septyarini selaku Sekretaris Jenderal, Maksimus Ramses Lalongkoe sebagai Wakil Ketua Umum, dan Friederich Batari sebagai Ketua Bidang Internal Organisasi.

Perkenankan kami dari DPP PATRIA PMKRI menyampaikan terima kasih atas kesediaan Bapak menerima kami dalam ruang dialog ini 

Bagi kami, pertemuan ini bukan sekadar klarifikasi, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama untuk merawat kebangsaan di tengah situasi publik yang mudah terpolarisasi.

Bapak Jusuf Kalla yang kami hormati, 

Belakangan ini, pernyataan Bapak yang beredar di berbagai platform telah memicu perdebatan luas di masyarakat.

Kami memahami bahwa dalam era digital hari ini, potongan informasi sering kali lebih cepat menyebar daripada konteks utuhnya, sehingga berpotensi melahirkan kesalahpahaman. 

Dalam semangat itulah, kami hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami secara utuh konteks pemikiran Bapak, sekaligus mencari titik temu demi menjaga ketenangan publik.

Kami juga menyadari bahwa Bapak memiliki pengalaman panjang dalam menyelesaikan konflik di Indonesia, termasuk dalam peristiwa besar seperti Konflik Poso dan Konflik Ambon.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membaca relasi antara agama dan konflik sosial di Indonesia.

Oleh karena itu, kami ingin memandang pernyataan Bapak dalam kerangka yang lebih luas: bahwa sering kali, konflik yang terjadi di masyarakat bukanlah konflik ajaran agama, melainkan konflik sosial dan politik yang menggunakan identitas agama sebagai legitimasi.

Bapak yang kami hormati, 

Sebagai bagian dari komunitas Kristiani, kami diajarkan nilai kasih, pengampunan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Nilai-nilai ini bukan hanya menjadi ajaran iman, tetapi juga menjadi kontribusi kami dalam kehidupan berbangsa.

Dalam iman Katolik, ajaran cinta kasih dan pengampunan berakar langsung pada sabda Yesus dalam Injil yakni mengasihi Tuhan dan sesama sebagai hukum yang terutama (Matius 22:37–40), bahkan sampai pada kasih kepada musuh (Matius 5:44).

Pengampunan bukan sekadar anjuran, tetapi menjadi syarat hidup rohani, sebagaimana dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:12), dan ditegaskan untuk dilakukan tanpa batas (Matius 18:22).

Puncaknya, Yesus sendiri memberi teladan dengan mengampuni di tengah penderitaan di salib (Lukas 23:34).

Karena itu, bagi umat Katolik, kasih dan pengampunan bukan hanya nilai moral, melainkan fondasi hidup yang harus diwujudkan dalam relasi sosial, termasuk dalam menjaga perdamaian dan persaudaraan di tengah keberagaman.

Kami juga menyadari, bahwa dalam ruang publik yang sensitif seperti Indonesia, setiap narasi yang menyentuh agama memerlukan kehati-hatian ekstra.

Karena itu, penting bagi kita semua—terutama para tokoh bangsa—untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan tidak menimbulkan tafsir yang berpotensi memecah belah.

Dalam konteks ini, kami ingin mengajukan satu pertanyaan terbuka kepada Bapak:

Bagaimana seharusnya kita, sebagai bangsa yang majemuk, membangun narasi publik tentang agama agar tidak mudah disalahpahami dan tidak dimanfaatkan untuk memperdalam konflik?

Lebih jauh, kami juga melihat pentingnya membangun ruang-ruang dialog seperti ini secara berkelanjutan.

Bukan hanya untuk merespons polemik, tetapi sebagai upaya preventif dalam menjaga kohesi sosial bangsa kita. Indonesia punya banyak nilai baik, tetapi sering kali kekurangan ruang dialog yang jujur dan setara.

Oleh karena itu, kami berharap pertemuan ini tidak berhenti pada diskusi hari ini, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk: membangun narasi kebangsaan yang lebih inklusif, memperkuat semangat persaudaraan lintas iman, dan menjaga Indonesia tetap sebagai rumah bersama bagi seluruh warganya.

Sebagai penutup, kami ingin menegaskan bahwa PATRIA PMKRI berdiri pada posisi yang jelas yaitu menjaga persatuan, merawat keberagaman, dan menolak segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Kami percaya, melalui dialog yang jernih dan niat baik bersama, kita dapat mengubah polemik menjadi pembelajaran, dan perbedaan menjadi kekuatan.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Sejahtera.

 

DPP PATRIA PMKRI

Agustinus Tamo Mbapa, S.Sos., M.Si (Ketua Umum)

Septyarini S.Si (Sekretaris Jenderal).(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ajak Pedagang Naik Kelas, BSI Perkuat Transformasi Digital Lewat QRIS Soundbox
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Harga Beras Naik Kala Cadangan Beras RI Cetak Rekor Tertinggi
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Saddil Ramdani resmi kembali ke timnas Indonesia
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Dikabarkan Jadi Utusan Khusus Presiden, Hasan Nasbi: Kalau Diperintah Presiden, Saya Siap
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
AS Putar Balik 38 Kapal di Tengah Blokade Pelabuhan Iran
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.