Kati: Pemerintah Mali mengonfirmasi bahwa Menteri Pertahanan Sadio Camara tewas setelah rumahnya diserang di tengah gelombang serangan terkoordinasi yang dilancarkan kelompok pemberontak, termasuk afiliasi al-Qaeda di Afrika Barat.
Dilansir dari The Independent, Senin, 27 April 2026, pemerintah Mali menyatakan sebuah mobil bermuatan bahan peledak yang dikendarai pelaku bom bunuh diri menerobos kediaman Camara di kota Kati.
Juru bicara pemerintah Issa Ousmane Coulibaly mengatakan baku tembak kemudian terjadi, dan Camara mengalami luka-luka sebelum akhirnya meninggal dunia di rumah sakit.
Pemerintah juga menetapkan masa berkabung nasional selama dua hari.
Kati terletak sekitar 15 kilometer di utara ibu kota Bamako dan menjadi lokasi pangkalan utama militer Mali. Serangan Serentak di Sejumlah Wilayah Afiliasi regional Al-Qaeda, Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin atau Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin, disebut bekerja sama dengan kelompok pemberontak dominan Tuareg, Front Pembebasan Azawad (FLA), untuk melancarkan serangan serentak di lebih dari setengah lusin lokasi di seluruh negeri.
Pemerintah belum mengumumkan jumlah korban tewas, namun Coulibaly menyampaikan belasungkawa bagi seluruh korban sipil dan militer tanpa merinci angka.
Para analis dan diplomat menggambarkan operasi pada Sabtu itu sebagai salah satu serangan terkoordinasi terbesar yang terjadi di Mali dalam beberapa tahun terakhir.
United Nations pun menyerukan respons internasional terhadap meningkatnya kekerasan dan terorisme di kawasan Sahel, Afrika Barat.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB mengatakan pihaknya sangat prihatin atas laporan serangan di berbagai lokasi di Mali dan mengecam keras aksi kekerasan tersebut.
Selain Kati, serangan juga menghantam area dekat bandara Bamako serta wilayah-wilayah utara seperti Mopti, Sevare, dan Gao. Kota Kidal Diperebutkan Nasib kota strategis Kidal, bekas basis kuat Front Pembebasan Azawad, masih belum jelas.
FLA menyatakan Kidal telah jatuh, dan juru bicara kelompok itu mengatakan telah dicapai kesepakatan untuk membiarkan tentara bayaran Rusia meninggalkan kamp yang terkepung di luar kota, tempat pasukan bersenjata Mali masih bertahan.
Namun, Kepala Staf Militer Mali Jenderal Oumar Diarra menyebut militer hanya melakukan reposisi taktis di Kidal dan operasi di kawasan itu masih berlangsung. Rusia Terpukul Serangan ini dinilai menjadi pukulan bagi Rusia, yang selama ini mendukung pemerintahan militer Mali setelah negara tersebut mengusir pasukan Prancis, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat lainnya.
Media pemerintah Rusia melaporkan personel Africa Corps Rusia bersama Garda Presiden Mali dan pasukan bersenjata berhasil menahan serangan besar militan dan mencegah istana presiden direbut.
Disebutkan pula beberapa personel Rusia mengalami luka-luka.
Serangan Sabtu tersebut menjadi sinyal terbaru bahwa pemerintah Mali belum mampu menghadirkan keamanan yang lebih baik meski sebelumnya menjanjikan hal itu.
Pada September 2024, JNIM juga pernah menyerang sekolah pelatihan polisi paramiliter dekat bandara Bamako yang menewaskan sekitar 70 orang. Kelompok itu belakangan juga melancarkan blokade bahan bakar yang menyebabkan krisis listrik dan pasokan di ibu kota.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Mali bahkan menuding negara-negara tetangga dan kekuatan asing mendukung kelompok teroris, meski tidak menyebut nama negara yang dimaksud.
Baca juga: Menteri Pertahanan Mali Dikabarkan Tewas Dibunuh Militan Afiliasi Al-Qaeda



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5563401/original/061018900_1776864153-Jepretan_Layar_2026-04-19_pukul_20.16.28.jpg)
