AS, KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur vital Iran jika Teheran menolak kesepakatan yang ditawarkan Washington. Salah satu infrastruktur yang berulang kali disoroti Trump adalah fasilitas minyak mentah milik Iran.
Beberapa hari sebelumnya, Trump menyatakan kepada media Amerika bahwa Iran berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan.
Hal ini dipicu oleh kapasitas penyimpanan minyak Iran yang disebut akan mencapai titik kritis setelah adanya blokade maritim Amerika Serikat, yang membuat Iran tidak dapat mengekspor minyak.
Sementara itu, anggota parlemen Iran, Manouchehr Mottaki, menyatakan bahwa satu-satunya penghalang dalam negosiasi dengan Amerika Serikat adalah Donald Trump. Mantan Menteri Luar Negeri Iran tersebut bahkan menyarankan rakyat Amerika Serikat untuk memilih pemimpin yang lebih bijak.
Di sisi lain, Rusia mendorong agar kesepakatan damai segera tercapai, mengingat krisis energi global yang semakin dalam akibat terbatasnya salah satu pemasok utama minyak dunia dari pasar internasional.
Militer Amerika Serikat hingga kini masih melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran. Mereka juga disebut tidak segan menembak dan menyita kapal tanker yang mengabaikan peringatan.
Ancaman Amerika Serikat untuk memaksa Iran menyepakati syarat dari Washington disebut semakin berpacu dengan waktu, terutama terkait kapasitas penyimpanan minyak di tengah blokade di perairan sekitar Selat Hormuz.
Situasi ini memunculkan pertanyaan apakah strategi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kali ini akan membuahkan hasil.
Untuk membahas hal tersebut, turut dihadirkan pakar geopolitik dan keamanan nasional, Wibawanto Nugroho Widodo, serta peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka.
#trump #iran #perang #timurtengah
Penulis : Shinta-Milenia
Sumber : Kompas TV
- iran
- as
- trump
- negosiasi as iran
- perang
- minyak iran





