Cirebon (ANTARA) - Tulisan “Es Puter” berwarna merah masih terlihat mencolok di atas gerobak kecil milik Ili (62) yang catnya mulai kusam, ditopang sepeda motor yang nampak renta.
Gerobak itu terparkir di halaman rumah mungilnya di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumber, Cirebon, Selasa (14/4) siang.
Dari gerobak sederhana itulah, jalan menuju Baitullah perlahan dirintis oleh Ili, penjual es krim yang kini memasuki usia senja.
Siang itu, terik matahari menyelimuti halaman; seekor kucing rebah di lantai, sementara angin tipis menyusup di antara pintu dan jendela terbuka.
Di dalam rumah, suasana terasa lebih hidup. Yayah (49), istri Ili, sibuk menata perlengkapan haji seperti kain ihram, tas, sandal, ember kecil, hingga charger telepon genggam .
Rumah itu memang sempit, namun teduh; di sudut ruang, barang-barang tersusun seperti penanda bahwa penantian panjang kian mendekati muara.
Ili datang ke Cirebon dari Ciamis dengan bekal seadanya, mengikuti kakaknya sambil mencari cara agar dapur tetap berasap. Sebagai perantau “wong cilik”, ia bertahan lewat es mung-mung, jajanan tradisional pesisir yang akrab di lidah warga.
Jajanan tersebut dibuat dari santan, gula, dan tepung, lalu diputar manual dalam tabung berisi es batu dan garam hingga membeku. Rasanya gurih manis, membekas di lidah siapa pun yang mencicipinya.
Harganya terjangkau, sekitar Rp2.000–Rp5.000 per porsi. Anak-anak hingga orang dewasa mengenali bunyi bel kecil dari gerobak Ili yang saban siang melintas.
Seorang calon haji bernama Ili (kanan) saat bersiap menjajakan es "mung-mung" di Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Setiap pagi, ili menyusuri gang dan berhenti di sekitar sekolah. Salah satunya SD Kartini, tempat sebuah niat besar tumbuh tanpa aba-aba, lalu menetap dalam dada.
Ia mengenang momen sekitar 2005, saat berjualan dan melihat rombongan calon haji melintas di depan sekolah. Pakaian putih dan wajah penuh harap itu membuat hatinya bergetar.
“Ya saya lihat rombongan haji, saya ingin juga seperti orang lain, ingin ke Baitullah,” ujar Ili, lirih saat berbincang dengan ANTARA.
Sejak momen itu, ia mulai menabung dari sisa dagang. Kadang Rp10 ribu, esok harinya bisa Rp20 ribu. Nilainya kecil, tetapi tekadnya tak pernah ikut mengecil.
Hari ramai memberi lebih, hari sepi menguji kesabaran. Musim hujan menjadi masa paling berat ketika pembeli berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Di tengah jatuh bangun itu, usahanya sempat berkembang. Pada 2010, ia memiliki 19 karyawan, dan gerobak dorong beralih ke sepeda motor agar jangkauan dagangan lebih luas.
Namun tabungan haji tetap berjalan dengan ritme yang sama. Selalu ada bagian yang disisihkan untuk ongkos menuju Tanah Suci.
Hampir delapan tahun setelah niat itu tumbuh, Ili berhasil membeli nomor porsi haji pada 2013, penanda bahwa kesabaran memiliki jalannya sendiri menuju takdir.
“Tadinya nggak nyangka. Menabung sedikit demi sedikit, tetapi alhamdulillah bisa sampai lunas,” ujarnya sambil tersenyum kecil yang sukar disembunyikan.
Kini, penantian panjang itu hampir usai. Ili dijadwalkan berangkat pada 19 Mei 2026 bersama Yayah, yang setia mendampinginya selama bertahun-tahun.
Menjelang keberangkatan, haru kerap terpancar di wajahnya. Penjual es krim itu merasa telah tiba di titik yang dulu hanya ia titipkan dalam doa.
“Bahagia banget, seperti orang lain sama, macam bos-bos. Saya jualan es,” ucapnya.
Di Tanah Suci nanti, ia tak membawa banyak permintaan. Doanya sederhana: agar anak cucu, keluarga, dan teman-temannya mendapat panggilan yang sama.
Ketua KBIHU Al-Washliyah Kabupaten Cirebon Sofyan menyebut kisah Ili sebagai suluh kecil yang layak dilihat banyak orang, terutama mereka yang merasa haji terlalu jauh digapai.
Sofyan menilai keberhasilan itu menyimpan pelajaran penting. Jalan berhaji kerap lahir dari ketekunan yang sunyi, serta ikhtiar kecil yang dirawat tanpa ingin dipuji.
Baca juga: Pedasnya rujak khas Cirebon hantarkan asa pergi haji ke Tanah Suci
Dari sawah ke Baitullah
Di tengah deretan bus biru yang terparkir di Asrama Haji Watubelah, Cirebon, Jumat (24/4) pagi, Abdul Karpi (57) berdiri tenang dengan baju biru muda dan peci hitam rapi.
Wajahnya teduh, nyaris tanpa banyak kata. Namun dari sorot matanya, tersimpan penantian panjang yang akhirnya tiba di ambang keberangkatan menuju Tanah Suci.
Warga Desa Panguragan Lor itu bukan pengusaha besar, melainkan petani yang hidup dari hasil panen yang tak selalu pasti.
Dari sawah, ia menata asa. Lumpur, terik, dan musim tanam menjadi saksi bagaimana ia bersama istri perlahan mengumpulkan ongkos haji.
Ia mendaftar pada 2013. Sejak itu, penantian menjadi bagian dari hidupnya, seperti petani yang paham, hasil tak pernah datang seketika.
Pelepasan jamaah calon haji di Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/HO-Pemkab Cirebon.
Sebagai petani, ia tak memiliki penghasilan tetap. Harapan itu ia sisihkan dari hasil panen, sedikit demi sedikit, mengikuti musim dan rezeki.
“Setiap panen saya sisihkan. Namanya juga orang tani, nabung di bank dikit-dikit,” katanya sambil tersenyum tipis.
Saat panen baik, ada yang bisa disimpan; saat kurang berpihak, ia bertahan sambil menjaga niat agar tak goyah.
Lebih dari satu dekade ia menunggu. Tahun demi tahun berlalu, namun tekad berhaji tetap dijaga, seperti petani merawat benih agar tak hilang diterpa musim.
“Yang penting sabar aja nunggunya. Orang juga dapat dari tani sih, lama-lama menabung gitu kan,” ucapnya.
Kini, bersama istrinya, Abdul bersiap menunaikan rukun Islam kelima. Tanpa kemewahan, hanya syukur yang tumbuh perlahan dan utuh.
Di tengah hiruk-pikuk koper dan pelukan keluarga, ia lebih banyak diam. Kebahagiaannya hadir dalam ketenangan.
Bus membawanya menuju embarkasi, lalu ke Tanah Suci pada Sabtu (25/4). Namun perjalanannya sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya.
Dari Panguragan Lor, ia membawa kisah ikhtiar, bahwa jalan menuju Baitullah bisa lahir dari tangan yang kasar oleh cangkul dan doa yang tak pernah putus.
Baca juga: Kemenhaj pastikan jamaah calon haji Kota Cirebon berangkat awal Mei
Perkuat layanan
Pada 2026, persiapan keberangkatan calon haji di Kabupaten Cirebon telah rampung. Para peserta yang lama menunggu kini tinggal menghitung hari menuju Tanah Suci.
Sebanyak 2.576 calon haji dipastikan berangkat tahun ini, terbagi dalam tujuh kelompok terbang (kloter).
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Cirebon, Mualim Tamim, mengatakan setiap kloter dilengkapi petugas pendamping untuk memastikan proses pemberangkatan berjalan lancar.
Peran mereka krusial, terutama dalam mendampingi calon haji lanjut usia yang jumlahnya sekitar 40 persen dari total peserta.
Seluruh calon haji yang berangkat dipastikan telah memenuhi syarat, baik pelunasan biaya maupun kesehatan.
Ia menegaskan, pelayanan bagi lansia, difabel, dan perempuan menjadi fokus utama penyelenggaraan haji tahun ini.
Jamaah calon haji saat tiba di Asrama Haji Indramayu, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Ia menegaskan, jangan sampai ada calon haji yang terabaikan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Keberangkatan jamaah asal Kabupaten Cirebon tahun ini dipusatkan melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Jika terjadi keterlambatan penerbangan, informasi akan segera disampaikan sesuai prosedur.
Di balik semua itu, tersimpan perjalanan panjang para calon haji dalam menyiapkan biaya keberangkatan. Ada yang menabung bertahun-tahun, menjual hasil panen, hingga menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit demi sampai ke Baitullah.
Bagi mereka, berhaji adalah perjuangan panjang dalam menata niat dan kemampuan.
Berdasarkan data Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), rata-rata Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1447 Hijriah atau 2026 sekitar Rp87,4 juta per orang.
Dari jumlah itu, biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) yang dibayar langsung oleh calon haji sekitar Rp54,1 juta atau 62 persen, sementara sisanya ditopang nilai manfaat pengelolaan keuangan haji oleh BPKH.
Skema ini meringankan beban jamaah, terutama bagi masyarakat kecil yang telah lama menabung untuk berangkat ke Tanah Suci.
Baca juga: Jamaah diminta selalu bawa kartu nusuk saat keluar hotel
Pemerataan
Pemerintah berkomitmen menciptakan keadilan bagi seluruh calon haji melalui transformasi distribusi kuota.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka, Senin (6/4), mengatakan pembagian kuota kini didasarkan pada daftar tunggu untuk mengurangi ketimpangan.
Ia mencontohkan, masa tunggu di Jawa Barat sebelumnya sekitar 18 tahun, sementara di Sulawesi Selatan mencapai 47 tahun. Dengan metode baru, disparitas itu ditargetkan menyempit.
“Mungkin empat sampai lima tahun lagi akan sama, rata-rata 26,4 tahun dari Aceh sampai Papua, sama semuanya,” kata Menhaj dalam arahannya.
Kebijakan ini juga menyentuh keadilan nilai manfaat dana haji. Selama ini, calon haji dengan setoran awal sama bisa menunggu waktu berbeda, namun menerima nilai manfaat yang setara.
Karena itu, pemerintah berupaya agar nilai manfaat dirasakan lebih adil tanpa kesenjangan antarwilayah.
Selain itu, Kemenhaj pun mulai memperkuat pemanfaatan dana haji agar memberi dampak langsung bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM. Salah satunya melalui penggunaan bumbu dapur produksi UMKM lokal untuk konsumsi jamaah di Tanah Suci.
Pemerintah juga mengkaji agar kebutuhan lauk, seperti ikan patin, dapat dipasok dari dalam negeri. Selama ini, sebagian masih diimpor, termasuk dari Vietnam, padahal daerah seperti Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai produsen ikan air tawar.
“Padahal kita ini produsen ikan yang luar biasa. Jawa Barat ini produksi ikan juga, ikan tawar yang luar biasa juga. Kenapa kita tidak pakai ikan produk kita?,” tuturnya.
Langkah-langkah ini menunjukkan pembenahan haji tak hanya menyentuh layanan, tetapi juga ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa jalan menuju Baitullah harus terbuka adil bagi semua kalangan, termasuk masyarakat kecil.
Baca juga: KJRI siapkan 700 tenaga pendukung untuk layani jamaah haji di Makkah
Baca juga: Kemenhaj minta jamaah melapor jika ada pungutan biaya
Gerobak itu terparkir di halaman rumah mungilnya di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumber, Cirebon, Selasa (14/4) siang.
Dari gerobak sederhana itulah, jalan menuju Baitullah perlahan dirintis oleh Ili, penjual es krim yang kini memasuki usia senja.
Siang itu, terik matahari menyelimuti halaman; seekor kucing rebah di lantai, sementara angin tipis menyusup di antara pintu dan jendela terbuka.
Di dalam rumah, suasana terasa lebih hidup. Yayah (49), istri Ili, sibuk menata perlengkapan haji seperti kain ihram, tas, sandal, ember kecil, hingga charger telepon genggam .
Rumah itu memang sempit, namun teduh; di sudut ruang, barang-barang tersusun seperti penanda bahwa penantian panjang kian mendekati muara.
Ili datang ke Cirebon dari Ciamis dengan bekal seadanya, mengikuti kakaknya sambil mencari cara agar dapur tetap berasap. Sebagai perantau “wong cilik”, ia bertahan lewat es mung-mung, jajanan tradisional pesisir yang akrab di lidah warga.
Jajanan tersebut dibuat dari santan, gula, dan tepung, lalu diputar manual dalam tabung berisi es batu dan garam hingga membeku. Rasanya gurih manis, membekas di lidah siapa pun yang mencicipinya.
Harganya terjangkau, sekitar Rp2.000–Rp5.000 per porsi. Anak-anak hingga orang dewasa mengenali bunyi bel kecil dari gerobak Ili yang saban siang melintas.
Seorang calon haji bernama Ili (kanan) saat bersiap menjajakan es "mung-mung" di Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Setiap pagi, ili menyusuri gang dan berhenti di sekitar sekolah. Salah satunya SD Kartini, tempat sebuah niat besar tumbuh tanpa aba-aba, lalu menetap dalam dada.
Ia mengenang momen sekitar 2005, saat berjualan dan melihat rombongan calon haji melintas di depan sekolah. Pakaian putih dan wajah penuh harap itu membuat hatinya bergetar.
“Ya saya lihat rombongan haji, saya ingin juga seperti orang lain, ingin ke Baitullah,” ujar Ili, lirih saat berbincang dengan ANTARA.
Sejak momen itu, ia mulai menabung dari sisa dagang. Kadang Rp10 ribu, esok harinya bisa Rp20 ribu. Nilainya kecil, tetapi tekadnya tak pernah ikut mengecil.
Hari ramai memberi lebih, hari sepi menguji kesabaran. Musim hujan menjadi masa paling berat ketika pembeli berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Di tengah jatuh bangun itu, usahanya sempat berkembang. Pada 2010, ia memiliki 19 karyawan, dan gerobak dorong beralih ke sepeda motor agar jangkauan dagangan lebih luas.
Namun tabungan haji tetap berjalan dengan ritme yang sama. Selalu ada bagian yang disisihkan untuk ongkos menuju Tanah Suci.
Hampir delapan tahun setelah niat itu tumbuh, Ili berhasil membeli nomor porsi haji pada 2013, penanda bahwa kesabaran memiliki jalannya sendiri menuju takdir.
“Tadinya nggak nyangka. Menabung sedikit demi sedikit, tetapi alhamdulillah bisa sampai lunas,” ujarnya sambil tersenyum kecil yang sukar disembunyikan.
Kini, penantian panjang itu hampir usai. Ili dijadwalkan berangkat pada 19 Mei 2026 bersama Yayah, yang setia mendampinginya selama bertahun-tahun.
Menjelang keberangkatan, haru kerap terpancar di wajahnya. Penjual es krim itu merasa telah tiba di titik yang dulu hanya ia titipkan dalam doa.
“Bahagia banget, seperti orang lain sama, macam bos-bos. Saya jualan es,” ucapnya.
Di Tanah Suci nanti, ia tak membawa banyak permintaan. Doanya sederhana: agar anak cucu, keluarga, dan teman-temannya mendapat panggilan yang sama.
Ketua KBIHU Al-Washliyah Kabupaten Cirebon Sofyan menyebut kisah Ili sebagai suluh kecil yang layak dilihat banyak orang, terutama mereka yang merasa haji terlalu jauh digapai.
Sofyan menilai keberhasilan itu menyimpan pelajaran penting. Jalan berhaji kerap lahir dari ketekunan yang sunyi, serta ikhtiar kecil yang dirawat tanpa ingin dipuji.
Baca juga: Pedasnya rujak khas Cirebon hantarkan asa pergi haji ke Tanah Suci
Dari sawah ke Baitullah
Di tengah deretan bus biru yang terparkir di Asrama Haji Watubelah, Cirebon, Jumat (24/4) pagi, Abdul Karpi (57) berdiri tenang dengan baju biru muda dan peci hitam rapi.
Wajahnya teduh, nyaris tanpa banyak kata. Namun dari sorot matanya, tersimpan penantian panjang yang akhirnya tiba di ambang keberangkatan menuju Tanah Suci.
Warga Desa Panguragan Lor itu bukan pengusaha besar, melainkan petani yang hidup dari hasil panen yang tak selalu pasti.
Dari sawah, ia menata asa. Lumpur, terik, dan musim tanam menjadi saksi bagaimana ia bersama istri perlahan mengumpulkan ongkos haji.
Ia mendaftar pada 2013. Sejak itu, penantian menjadi bagian dari hidupnya, seperti petani yang paham, hasil tak pernah datang seketika.
Pelepasan jamaah calon haji di Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/HO-Pemkab Cirebon.
Sebagai petani, ia tak memiliki penghasilan tetap. Harapan itu ia sisihkan dari hasil panen, sedikit demi sedikit, mengikuti musim dan rezeki.
“Setiap panen saya sisihkan. Namanya juga orang tani, nabung di bank dikit-dikit,” katanya sambil tersenyum tipis.
Saat panen baik, ada yang bisa disimpan; saat kurang berpihak, ia bertahan sambil menjaga niat agar tak goyah.
Lebih dari satu dekade ia menunggu. Tahun demi tahun berlalu, namun tekad berhaji tetap dijaga, seperti petani merawat benih agar tak hilang diterpa musim.
“Yang penting sabar aja nunggunya. Orang juga dapat dari tani sih, lama-lama menabung gitu kan,” ucapnya.
Kini, bersama istrinya, Abdul bersiap menunaikan rukun Islam kelima. Tanpa kemewahan, hanya syukur yang tumbuh perlahan dan utuh.
Di tengah hiruk-pikuk koper dan pelukan keluarga, ia lebih banyak diam. Kebahagiaannya hadir dalam ketenangan.
Bus membawanya menuju embarkasi, lalu ke Tanah Suci pada Sabtu (25/4). Namun perjalanannya sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya.
Dari Panguragan Lor, ia membawa kisah ikhtiar, bahwa jalan menuju Baitullah bisa lahir dari tangan yang kasar oleh cangkul dan doa yang tak pernah putus.
Baca juga: Kemenhaj pastikan jamaah calon haji Kota Cirebon berangkat awal Mei
Perkuat layanan
Pada 2026, persiapan keberangkatan calon haji di Kabupaten Cirebon telah rampung. Para peserta yang lama menunggu kini tinggal menghitung hari menuju Tanah Suci.
Sebanyak 2.576 calon haji dipastikan berangkat tahun ini, terbagi dalam tujuh kelompok terbang (kloter).
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Cirebon, Mualim Tamim, mengatakan setiap kloter dilengkapi petugas pendamping untuk memastikan proses pemberangkatan berjalan lancar.
Peran mereka krusial, terutama dalam mendampingi calon haji lanjut usia yang jumlahnya sekitar 40 persen dari total peserta.
Seluruh calon haji yang berangkat dipastikan telah memenuhi syarat, baik pelunasan biaya maupun kesehatan.
Ia menegaskan, pelayanan bagi lansia, difabel, dan perempuan menjadi fokus utama penyelenggaraan haji tahun ini.
Jamaah calon haji saat tiba di Asrama Haji Indramayu, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Ia menegaskan, jangan sampai ada calon haji yang terabaikan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Keberangkatan jamaah asal Kabupaten Cirebon tahun ini dipusatkan melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Jika terjadi keterlambatan penerbangan, informasi akan segera disampaikan sesuai prosedur.
Di balik semua itu, tersimpan perjalanan panjang para calon haji dalam menyiapkan biaya keberangkatan. Ada yang menabung bertahun-tahun, menjual hasil panen, hingga menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit demi sampai ke Baitullah.
Bagi mereka, berhaji adalah perjuangan panjang dalam menata niat dan kemampuan.
Berdasarkan data Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), rata-rata Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1447 Hijriah atau 2026 sekitar Rp87,4 juta per orang.
Dari jumlah itu, biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) yang dibayar langsung oleh calon haji sekitar Rp54,1 juta atau 62 persen, sementara sisanya ditopang nilai manfaat pengelolaan keuangan haji oleh BPKH.
Skema ini meringankan beban jamaah, terutama bagi masyarakat kecil yang telah lama menabung untuk berangkat ke Tanah Suci.
Baca juga: Jamaah diminta selalu bawa kartu nusuk saat keluar hotel
Pemerataan
Pemerintah berkomitmen menciptakan keadilan bagi seluruh calon haji melalui transformasi distribusi kuota.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka, Senin (6/4), mengatakan pembagian kuota kini didasarkan pada daftar tunggu untuk mengurangi ketimpangan.
Ia mencontohkan, masa tunggu di Jawa Barat sebelumnya sekitar 18 tahun, sementara di Sulawesi Selatan mencapai 47 tahun. Dengan metode baru, disparitas itu ditargetkan menyempit.
“Mungkin empat sampai lima tahun lagi akan sama, rata-rata 26,4 tahun dari Aceh sampai Papua, sama semuanya,” kata Menhaj dalam arahannya.
Kebijakan ini juga menyentuh keadilan nilai manfaat dana haji. Selama ini, calon haji dengan setoran awal sama bisa menunggu waktu berbeda, namun menerima nilai manfaat yang setara.
Karena itu, pemerintah berupaya agar nilai manfaat dirasakan lebih adil tanpa kesenjangan antarwilayah.
Selain itu, Kemenhaj pun mulai memperkuat pemanfaatan dana haji agar memberi dampak langsung bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM. Salah satunya melalui penggunaan bumbu dapur produksi UMKM lokal untuk konsumsi jamaah di Tanah Suci.
Pemerintah juga mengkaji agar kebutuhan lauk, seperti ikan patin, dapat dipasok dari dalam negeri. Selama ini, sebagian masih diimpor, termasuk dari Vietnam, padahal daerah seperti Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai produsen ikan air tawar.
“Padahal kita ini produsen ikan yang luar biasa. Jawa Barat ini produksi ikan juga, ikan tawar yang luar biasa juga. Kenapa kita tidak pakai ikan produk kita?,” tuturnya.
Langkah-langkah ini menunjukkan pembenahan haji tak hanya menyentuh layanan, tetapi juga ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa jalan menuju Baitullah harus terbuka adil bagi semua kalangan, termasuk masyarakat kecil.
Baca juga: KJRI siapkan 700 tenaga pendukung untuk layani jamaah haji di Makkah
Baca juga: Kemenhaj minta jamaah melapor jika ada pungutan biaya





