REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan pada Senin bahwa kepemimpinan Iran mempermalukan Amerika Serikat. Iran membuat para pejabat AS melakukan perjalanan ke Pakistan dan kemudian pergi tanpa hasil. Merz juga tidak melihat strategi keluar apa yang dikejar AS dalam perang Iran.
"Jelas sekali Iran sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad dan kemudian pergi lagi tanpa hasil apa pun," katanya saat berbicara kepada mahasiswa di kota Marsberg seperti dilansir NDTV, Senin.
Baca Juga
Blokade AS Nggak Ngaruh, Iran Berhasil Ekspor 10,7 Juta Barel Minyak ke China pada April
Perundingan Kembali Kandas, Apakah AS dan Iran akan Kembali Berperang? Ini Kata Para Pakar
Benarkah Persediaan Amunisi AS Benar-Benar Habis Akibat Perang Iran atau Hanya Cara Tambah Anggaran?
"Seluruh bangsa dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh apa yang disebut Garda Revolusioner ini. Dan karena itu saya berharap ini berakhir secepat mungkin," tambahnya di tempat tersebut di negara bagian Rhine Utara-Westphalia.
Komentar Merz menggarisbawahi perpecahan mendalam antara Washington dan sekutu NATO Eropa-nya, yang telah memburuk terkait Ukraina dan masalah lainnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Presiden AS Donald Trump berulangkali mengkritik keras sekutu NATO karena tidak mengirimkan angkatan laut mereka untuk membantu membuka Selat Hormuz selama konflik tersebut.
Jalur air tersebut praktis tetap tertutup, menyebabkan kekacauan pasar dan gangguan pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Merz menegaskan kembali bahwa Jerman dan Eropa tidak dikonsultasikan sebelum AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari. Jerman, kata ia, telah menyampaikan keraguannya langsung kepada Trump setelahnya.
"Jika saya tahu bahwa ini akan berlanjut seperti ini selama lima atau enam minggu dan semakin memburuk, saya akan mengatakan kepadanya dengan lebih tegas," kata Merz, membandingkannya dengan perang AS sebelumnya di Irak dan Afghanistan.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)