Saat Food Station Keluhkan Rugi Jual Beras, Stok Ritel Terancam Kosong

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Food Station Tjipinang Jaya mengakui saat ini menjual beras dalam kondisi merugi karena biaya produksi telah melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Dampak dari kondisi tersebut, pasokan beras ke ritel modern mulai ditahan dan berpotensi menyebabkan kekosongan stok di pasaran.

Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya Dodot Tri Widodo menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi C DPRD DKI Jakarta, Senin (27/4/2026).

“Sekarang cost production kami itu sudah di atas HET. Jadi kalau kami jual, ya rugi,” ujar Dodot, Senin.

Baca juga: Terjepit Biaya Produksi, Food Station Usul Penyesuaian HET Beras di Jakarta

Biaya produksi melonjak

Dodot menjelaskan, lonjakan biaya produksi dipicu oleh kenaikan harga gabah serta berbagai komponen lain, termasuk bahan baku kemasan.

Ia menyebutkan, harga plastik kemasan mengalami kenaikan signifikan hingga hampir dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

“Jadi sudah hampir dua kali lipat dan ini naiknya sudah 84 persen. Ini tidak hanya di industri beras, tapi semua industri yang memakai bahan baku plastik,” jelasnya.

Selain itu, harga gabah di pasar saat ini mencapai sekitar Rp 7.500 per kilogram. Jika dikonversi menjadi beras, biaya produksinya bisa menyentuh Rp 15.000 per kilogram.

Sementara itu, harga jual dibatasi pada angka maksimal Rp 14.900 per kilogram, bahkan di ritel modern hanya sekitar Rp 14.700 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat Food Station memutuskan untuk sementara menahan pasokan beras ke ritel modern seperti minimarket dan supermarket.

Permintaan dari sejumlah jaringan ritel seperti Indomaret, Alfamart, dan Superindo pun belum dipenuhi karena dinilai berpotensi memperbesar kerugian perusahaan.

“Permintaan dari Indomaret, Alfamart, kemudian Superindo, kami masih pending dulu, karena kalau kami penuhi, rugi pak rugi,” ungkap Dodot.

Ia memperingatkan, jika kondisi ini berlanjut, maka beras di ritel modern berpotensi mengalami kekosongan.

“Impactnya nantinya adalah beras di modern trade itu nantinya kosong,” kata dia.

Baca juga: Dirut Food Station Wanti-wanti Stok Beras di Ritel Modern Terancam Kosong

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Industri beras nasional tertekan

Dodot menegaskan, persoalan ini tidak hanya dialami Food Station, tetapi juga hampir seluruh pelaku industri beras nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota Kopassus Serka Nasir Peragakan Melilit Korban di Sidang Pembunuhan Kacab Bank
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Buntut Polemik Kursi Pijat dan Akuarium Laut, Gubernur Kaltim Minta Maaf
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Fantastis, Hadiah Juara Piala Dunia 2026 Naik, Semua Tim Dapat Tambahan Dana
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Gustavo Tocantins Ukir Sejarah di PSS: Lampaui Marcelo Braga, Jadi Top Skor Sepanjang Masa Super Elang Jawa
• 21 jam lalubola.com
thumb
Lonjakan Harga BBM Picu Tren Kendaraan Listrik di Jakarta, Pengguna Naik Sembilan Kali Lipat
• 6 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.