Penulis: Chairil Ansyorie
TVRINews, Bengkulu
Batik Les Plank, Sentuhan Modern Ornamen Rumah Adat Bengkulu
Warisan ornamen pada rumah adat Melayu Bengkulu kini tak lagi hanya menghiasi bangunan. Motif-motif sarat makna tersebut bertransformasi menjadi karya wastra melalui inovasi Batik Les Plank, sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas lokal.
Ornamen rumah adat Bengkulu selama ini dikenal bukan sekadar ukiran kayu, melainkan simbol kearifan lokal yang mencerminkan filosofi hidup dan harmoni manusia dengan alam.
Melalui Batik Les Plank, motif-motif tersebut diadaptasi ke dalam kain, menjadikannya lebih dekat dan relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Secara filosofi, ornamen rumah adat Bengkulu terbagi dalam tiga bagian utama, yakni bagian atas (atap), tengah (dinding, jendela, pintu), dan bawah (tiang atau kolom). Setiap detail ukiran memiliki makna mendalam yang kemudian dituangkan kembali dalam desain batik.
Beberapa motif ikonik yang diangkat dalam Batik Les Plank antara lain Angin Belitung dan Pohon Hayat. Kekuatan visualnya semakin dipertegas melalui pemilihan warna yang sarat simbol, seperti merah bata yang melambangkan keberanian, kuning emas sebagai cerminan kebijaksanaan, serta hitam pekat yang merepresentasikan kemuliaan.
Salah satu penjual Batik Les Plank, Yukey Anggraini, mengatakan inovasi ini berangkat dari keinginan untuk mengabadikan keindahan ornamen rumah adat dalam bentuk yang lebih aplikatif.
"Hiasan motif pada rumah adat memberikan keindahan pada bangunan. Jika motif tersebut diabadikan pada kain, maka Les Plank ini akan memperindah orang yang memakainya," ujar Yukey, Selasa, 28 April 2026.
Saat ini, produksi Batik Les Plank masih dilakukan secara rumahan menggunakan teknik cap, dengan motif yang telah disesuaikan dari ukiran asli.
Meski belum memiliki toko fisik dan masih mengandalkan platform digital, minat pasar terhadap batik ini terus meningkat, terutama dari kalangan pekerja kantoran yang ingin tampil formal sekaligus menonjolkan identitas budaya.
Dari sisi harga, Batik Les Plank ditawarkan cukup variatif. Produk syal berukuran 165–170 cm dijual seharga Rp200 ribu, sementara kain dua meter yang siap dijahit menjadi busana dibanderol sekitar Rp400 ribu.
Lebih dari sekadar produk fesyen, Batik Les Plank menjadi medium pelestarian budaya. Inovasi ini diharapkan mampu menjaga eksistensi ornamen rumah adat Bengkulu agar tidak hanya menjadi bagian dari bangunan tradisional, tetapi juga hidup dalam keseharian masyarakat.
Melalui kreativitas, Batik Les Plank membuktikan bahwa warisan budaya dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi lokal tanpa kehilangan nilai dan maknanya di tengah arus modernisasi.
Editor: Redaktur TVRINews





