EtIndonesia. Di tengah perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 25 April menyatakan akan meningkatkan serangan dengan menargetkan Hezbollah. Sebelumnya, militer Israel menuduh Hezbollah menembakkan roket ke wilayah Israel, menambah ketidakpastian pada gencatan senjata yang rapuh.
Menurut laporan Reuters, militer Israel meminta warga Lebanon untuk tidak mendekati wilayah selatan Sungai Litani River, karena pasukan Israel sedang bertempur dengan Hezbollah di daerah tersebut.
Militer Israel menyatakan bahwa di wilayah yang saat ini mereka kendalikan, mereka telah mencegat satu “target udara mencurigakan”. Selain itu, Hezbollah disebut menembakkan dua roket ke Israel utara, salah satunya berhasil dicegat, dan tidak ada laporan korban.
Sementara itu, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon, serangan udara Israel pada 25 April di Lebanon selatan menyebabkan empat orang tewas, meski belum jelas apakah korban tersebut terkait langsung dengan serangan tersebut.
Sehari sebelumnya, pasukan Israel terlibat bentrokan dengan Hezbollah di kota Bint Jbeil di Lebanon selatan, dan menewaskan enam anggota kelompok tersebut. Wilayah ini sebelumnya mengalami pertempuran sengit sebelum gencatan senjata diumumkan pekan lalu.
Perdana Menteri Netanyahu mengatakan bahwa setelah menyetujui perpanjangan gencatan senjata, Hezbollah berusaha “merusak” upaya perdamaian antara Israel dan Lebanon.
Sejak tahun 1948, Israel dan Lebanon berada dalam kondisi konflik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berharap dapat mendorong perdamaian yang lebih luas antara kedua negara.
Perjanjian gencatan senjata Israel-Lebanon yang semula berakhir pada 26 April, diumumkan diperpanjang selama tiga minggu oleh Trump pada 23 April setelah pembicaraan di Gedung Putih. Namun, seorang anggota parlemen Hezbollah pada 24 April menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tidak memiliki arti.
Sumber : ntdtv.com





