Pantau - Ilmuwan China mengumumkan terobosan dalam teknologi kloning yak setelah berhasil menghasilkan 10 anak yak yang lahir secara alami di Daerah Otonom Xizang, China barat daya, pada akhir Maret hingga awal April 2026.
Kelahiran Massal dan Perkembangan TeknologiSebanyak 10 anak yak terdiri dari tiga yak hitam dan tujuh yak putih lahir di pusat penangkaran dan penelitian yak di Damxung, dengan kondisi sehat dan menunjukkan pertumbuhan bobot tubuh sesuai standar.
Ketua tim peneliti dari Universitas Zhejiang, Fang Shengguo, menyatakan, "Ini menunjukkan teknologi tersebut telah beralih dari kesuksesan sekali waktu menjadi aplikasi skala besar yang stabil."
Keberhasilan ini melanjutkan capaian sebelumnya, yakni kelahiran yak kloning pertama pada Juli 2025 yang kini tumbuh sehat dengan bobot sekitar 183 kilogram.
Manfaat bagi Ekonomi dan Lingkungan Dataran TinggiYak merupakan hewan endemik Dataran Tinggi Qinghai-Tibet yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat penggembala serta keseimbangan ekosistem.
Teknologi kloning ini dikembangkan melalui kolaborasi antara lembaga penelitian biologi dataran tinggi, pemerintah wilayah Damxung, dan Universitas Zhejiang dengan memanfaatkan metode seleksi genom lengkap dan kloning sel somatik.
Selain itu, yak memiliki kemampuan adaptasi unik terhadap kondisi ekstrem seperti kadar oksigen rendah dan radiasi ultraviolet tinggi, sehingga proses kloningnya lebih kompleks dibandingkan sapi biasa.
Fang menjelaskan teknologi ini mampu mengatasi tantangan lama seperti lambatnya siklus pemuliaan genetik dan penurunan kualitas ternak.
Pengembangan ini juga menjadi bagian dari strategi China dalam mendorong pertanian dan peternakan modern di wilayah dataran tinggi dalam Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026–2030.




