Makkah (ANTARA) - Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Makkah pada musim haji 2026 menghadirkan sistem layanan baru berkonsep Urgent Care Center (UCC) yang beroperasi selama 24 jam penuh tanpa menyediakan fasilitas rawat inap bagi jamaah.
Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah PPIH Arab Saudi Edi Supriyatna di Makkah, Selasa, mengatakan kebijakan tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan dengan penyelenggaraan layanan kesehatan haji pada tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini tidak ada rawat inap di KKHI. Semua berbasis rawat jalan, tindakan, dan rujukan," ujar Edi.
Baca juga: Kemenhaj pastikan layanan kesehatan jamaah calon haji buka 24 Jam
Ia menjelaskan dalam implementasi layanan UCC tersebut, penanganan pasien dibagi secara ketat berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Pasien dengan kasus berat (level 1–2) akan langsung dirujuk ke rumah sakit milik Pemerintah Arab Saudi, kasus sedang (level 3) ditangani di fasilitas KKHI, sementara kasus ringan (level 4–5) dikelola oleh tim kloter di pos kesehatan satelit.
Guna mendukung kelancaran operasional layanan 24 jam tersebut, sebanyak 122 personel kesehatan telah disiagakan. Jumlah itu terdiri atas 54 petugas di KKHI Makkah dan 68 petugas yang disebar di 10 sektor. KKHI juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang, seperti radiologi dan laboratorium yang tidak tersedia di tingkat pos kesehatan sektor.
Terkait aspek legalitas operasional, Edi menyebutkan bahwa KKHI tahun ini menggandeng pihak ketiga, yakni Saudi German Hospital, untuk memfasilitasi perizinan layanan. Sesuai regulasi yang berlaku di Arab Saudi, setiap pelayanan kesehatan wajib berkolaborasi dengan pihak ketiga setempat.
Untuk memenuhi rasio pelayanan satu klinik per 5.000 calon haji, KKHI telah menyiapkan sekitar 47 pos kesehatan yang tersebar di Makkah, Madinah, hingga kawasan Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).
Baca juga: DPR RI nilai Indonesia perlu punya RS di Makkah, ini sebabnya
Baca juga: Menag bersyukur klinik kesehatan haji diizinkan beroperasi kembali
Edi menyoroti tingginya angka jamaah calon haji berisiko tinggi (risti) tahun ini yang mencapai lebih dari 70 persen, dengan 30 persen diantaranya merupakan kelompok lanjut usia (lansia).
"Inilah pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memberikan perlindungan. Lansia membutuhkan perhatian khusus, baik dari sisi kesehatan, transportasi, maupun akomodasi,” kata Edi.
Sebagai langkah mitigasi kesehatan, Edi mengimbau jamaah untuk senantiasa menjaga kondisi fisik dengan rutin mengonsumsi air putih minimal 200 mililiter per jam, menghindari paparan cuaca panas berlebih, serta mengutamakan waktu istirahat sebelum menjalankan ibadah, khususnya bagi jamaah yang baru tiba dari Madinah.
Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah PPIH Arab Saudi Edi Supriyatna di Makkah, Selasa, mengatakan kebijakan tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan dengan penyelenggaraan layanan kesehatan haji pada tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini tidak ada rawat inap di KKHI. Semua berbasis rawat jalan, tindakan, dan rujukan," ujar Edi.
Baca juga: Kemenhaj pastikan layanan kesehatan jamaah calon haji buka 24 Jam
Ia menjelaskan dalam implementasi layanan UCC tersebut, penanganan pasien dibagi secara ketat berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Pasien dengan kasus berat (level 1–2) akan langsung dirujuk ke rumah sakit milik Pemerintah Arab Saudi, kasus sedang (level 3) ditangani di fasilitas KKHI, sementara kasus ringan (level 4–5) dikelola oleh tim kloter di pos kesehatan satelit.
Guna mendukung kelancaran operasional layanan 24 jam tersebut, sebanyak 122 personel kesehatan telah disiagakan. Jumlah itu terdiri atas 54 petugas di KKHI Makkah dan 68 petugas yang disebar di 10 sektor. KKHI juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang, seperti radiologi dan laboratorium yang tidak tersedia di tingkat pos kesehatan sektor.
Terkait aspek legalitas operasional, Edi menyebutkan bahwa KKHI tahun ini menggandeng pihak ketiga, yakni Saudi German Hospital, untuk memfasilitasi perizinan layanan. Sesuai regulasi yang berlaku di Arab Saudi, setiap pelayanan kesehatan wajib berkolaborasi dengan pihak ketiga setempat.
Untuk memenuhi rasio pelayanan satu klinik per 5.000 calon haji, KKHI telah menyiapkan sekitar 47 pos kesehatan yang tersebar di Makkah, Madinah, hingga kawasan Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).
Baca juga: DPR RI nilai Indonesia perlu punya RS di Makkah, ini sebabnya
Baca juga: Menag bersyukur klinik kesehatan haji diizinkan beroperasi kembali
Edi menyoroti tingginya angka jamaah calon haji berisiko tinggi (risti) tahun ini yang mencapai lebih dari 70 persen, dengan 30 persen diantaranya merupakan kelompok lanjut usia (lansia).
"Inilah pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memberikan perlindungan. Lansia membutuhkan perhatian khusus, baik dari sisi kesehatan, transportasi, maupun akomodasi,” kata Edi.
Sebagai langkah mitigasi kesehatan, Edi mengimbau jamaah untuk senantiasa menjaga kondisi fisik dengan rutin mengonsumsi air putih minimal 200 mililiter per jam, menghindari paparan cuaca panas berlebih, serta mengutamakan waktu istirahat sebelum menjalankan ibadah, khususnya bagi jamaah yang baru tiba dari Madinah.





