Harmoni Antara Katolik–Anglikan, Uskup Agung Canterbury Berdoa Bersama Paus Leo XIV

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BANDA ACEH — Uskup Agung Canterbury Sarah Mullally bertemu dan berdoa bersama Paus Leo XIV di Istana Apostolik, Vatikan, dalam rangkaian ziarahnya ke Roma yang menegaskan kembali komitmen dialog Katolik dan Anglikan.

Pertemuan itu berlangsung pada hari ketiga ziarah Uskup Agung Canterbury ke Roma. Selain melakukan pertemuan pribadi, Paus Leo XIV dan Uskup Agung Sarah Mullally juga menyampaikan pidato, bertukar hadiah, serta mengikuti doa siang di Kapel Urbanus VIII.

“Saya sering menyebutkan bahwa damai Tuhan yang bangkit adalah ‘tanpa senjata’. Hal ini karena Dia selalu menanggapi kekerasan dan agresi dengan cara tanpa senjata, serta mengundang kita untuk melakukan hal yang sama,” kata Paus Leo XIV dalam sambutannya, dikutip dari Vatican News, Selasa (28/4/2026).

Dalam audiensi tersebut, Uskup Agung Canterbury memperkenalkan delegasinya kepada Paus Leo XIV. Delegasi itu terdiri atas Uskup Agung Westminster Richard Moth, Direktur Anglican Centre in Rome Uskup Anthony Ball, Penasihat Nasional untuk Hubungan Ekumenis Pendeta Dr. Matthias Grebe, serta Direktur Pelayanan Episkopal Canon Margaret Cave.

Setelah audiensi, Uskup Agung Sarah bergabung dengan Paus Leo XIV dalam ibadat doa siang di Kapel Urbanus VIII. Paus memimpin ibadat tersebut, sementara Paus dan Uskup Agung Canterbury mengucapkan doa rahmat bersama.

Dalam pidatonya kepada Paus Leo XIV, Uskup Agung Sarah membuka sambutan dengan mengutip Surat Efesus 2:14. “Sebab Dialah damai sejahtera kita; di dalam daging-Nya Ia telah mempersatukan kedua pihak dan telah merobohkan tembok pemisah,” ujarnya.

Baca Juga

  • Trump Ogah Minta Maaf ke Paus Leo XIV dan soal Gambar AI
  • Diserang Trump, Paus Leo Tetap Suarakan Perdamaian atas Konflik Iran
  • Pesan Paskah 2026, Paus Leo XIV Desak Pemimpin Dunia Akhiri Perang

Uskup Agung Sarah menyampaikan terima kasih atas sambutan Paus Leo XIV, termasuk doa dan ucapan baik yang diberikan saat pelantikannya. Dia menyebut pertemuan tersebut sebagai sukacita dan kehormatan karena dapat diterima bersama delegasi dari Lambeth Palace.

“Bulan lalu saya melakukan perjalanan menuju pelantikan saya di Canterbury sebagai seorang peziarah, berjalan mengikuti jejak para murid yang telah mendahului saya. Saya datang ke Roma sebagai seorang peziarah, melanjutkan perjalanan yang dimulai di Canterbury,” kata Uskup Agung Sarah, dilansir dari situs resmi Uskup Agung Canterbury.

Uskup Agung Sarah turut menyampaikan apresiasi atas keberadaan Anglican Centre in Rome. Dia menyebut lembaga itu sebagai buah nyata dari pertemuan bersejarah pada 1966 antara Paus Paulus VI dan Uskup Agung Michael Ramsey, menjadi titik balik penting dalam hubungan kedua gereja.

Menurutnya, pertemuan tersebut terus menghasilkan buah melalui Anglican-Roman Catholic International Commission, International Anglican-Roman Catholic Commission for Unity and Mission, serta berbagai hubungan saling percaya yang tumbuh antara Gereja Anglikan dan Katolik. Hubungan itu disebutnya sebagai tanda keyakinan bersama kepada Injil Yesus Kristus.

Dalam konteks dunia saat ini, Uskup Agung Sarah menilai umat Kristen dipanggil untuk menghidupi dan mewartakan Injil dengan kejelasan baru. Dia menyebut dunia tengah menghadapi kekerasan tidak manusiawi, perpecahan mendalam, dan perubahan sosial yang cepat.

Uskup Agung Sarah juga menyinggung pesan Paus Leo XIV mengenai berbagai ketidakadilan di dunia. Namun, dia menilai Paus berbicara lebih kuat lagi tentang harapan.

“Ziarah Anda ke Afrika penuh dengan kehidupan dan sukacita. Dunia membutuhkan pesan ini pada saat ini. Terima kasih,” kata Uskup Agung Sarah.

Menurutnya, melalui hal-hal tersebut kesaksian bersama umat Kristen menjadi semakin kuat. Dia juga menyampaikan syukur karena dapat berdoa bersama Paus Leo XIV pada pagi itu.

“Pada tahun-tahun mendatang, saya akan tetap bersatu dengan Anda dalam doa: doa untuk perdamaian di dunia kita; doa untuk keadilan; dan doa agar setiap orang dapat menemukan kepenuhan hidup yang Allah tawarkan,” ujar Uskup Agung Sarah.

Dia menegaskan umat Katolik dan Anglikan dipersatukan dalam doa karena mereka berdoa kepada Bapa melalui Yesus Kristus. Dalam bagian akhir pidatonya, dia menyapa Paus Leo XIV sebagai saudara terkasih dalam Kristus.

Dia turut menyinggung kunjungan Raja Charles III yang disebut sangat dihargai, terutama karena doa bersama dan semangat persaudaraan yang menyertainya. Uskup Agung Sarah menyampaikan bahwa Church of England akan menyambut hangat Paus Leo XIV apabila suatu saat berkunjung ke Inggris.

“Dengan rasa syukur atas pelayanan Anda sebagai Uskup Roma, dan atas keramahan Anda yang murah hati hari ini, saya meyakinkan Anda akan doa-doa saya saat kita berjalan bersama menuju persatuan yang menjadi kehendak Tuhan kita,” ujarnya.

Sementara itu, Paus Leo XIV dalam sambutannya menyampaikan sukacita dapat menerima Uskup Agung Canterbury pada masa Paskah. Paus juga mengenang pertemuan bersejarah antara Paus Santo Paulus VI dan Uskup Agung Michael Ramsey yang berlangsung 60 tahun lalu.

Paus Leo XIV turut menyampaikan apresiasi atas pelayanan Anglican Centre in Rome. Dia juga menyapa Direktur Anglican Centre in Rome, Uskup Anthony Ball, yang menjadi wakil Uskup Agung Canterbury untuk Takhta Suci.

Paus menilai perpecahan di antara umat Kristen melemahkan kemampuan untuk membawa damai Kristus kepada dunia secara efektif. Karena itu, umat Kristen perlu terus berdoa dan bekerja untuk menyingkirkan penghalang bagi pewartaan Injil.

“Jika dunia ingin menerima pewartaan kita dengan sungguh-sungguh, maka kita harus terus-menerus dalam doa dan upaya untuk menyingkirkan setiap batu sandungan yang menghalangi pewartaan Injil,” kata Paus Leo XIV.

Paus juga mengingat kembali upaya dialog teologis selama puluhan tahun antara Katolik dan Anglikan dalam perjalanan memulihkan “persekutuan penuh dalam iman dan kehidupan sakramental.” Meskipun perjalanan ekumenis itu kompleks, dia menyebut dialog tersebut telah menghasilkan buah dalam sejumlah persoalan yang secara historis memecah kedua gereja.

Dalam pertemuan itu, Uskup Agung Canterbury memberikan sejumlah hadiah kepada Paus Leo XIV. Hadiah tersebut terdiri atas edisi antik tahun 1910 buku The Dream of Gerontius karya Kardinal Newman yang dilengkapi delapan ilustrasi berwarna oleh Robert T. Rose, retablo Peru bergambar adegan kelahiran Yesus, dan madu Lambeth Palace.

Hadiah kedua, retablo Peru, merupakan karya devosional tradisional yang memadukan keterampilan tangan, kisah, dan iman. Retablo yang menggambarkan kelahiran Yesus itu mencerminkan sifat universal kisah Kristen dalam berbagai budaya dan konteks.

Hadiah terakhir berupa madu Lambeth Palace diberikan sebagai hadiah pribadi dari Uskup Agung Canterbury kepada Paus. Madu tersebut disebut sebagai tanda sederhana dan ramah yang berakar pada tempat dan kehidupan sehari-hari, dibuat dari nektar sarang lebah di taman Lambeth Palace.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Teridentifikasi, Ini Daftarnya
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Anak Berprestasi? Ini 9 Cara Memberi Pujian Agar Si Kecil Tetap Rendah Hati dan Makin Percaya Diri
• 8 jam laluharianfajar
thumb
3 Peraturan Tak Tertulis di Hotel yang Wajib Kamu Tahu
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Belajar dari China, Driver Ojol Digaji UMR-Punya Batas Jam Kerja
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KAI Surabaya batalkan tiga perjalanan KA imbas insiden di Bekasi
• 13 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.