jpnn.com - REMBANG - KH Achmad Rosikh Roghibi berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bebas dari kepentingan politik praktis dan orientasi ekonomi.
Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang yang biasa disapa Gus Rosikh itu menyampaikan bahwa muktamar yang merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU, seharusnya menjadi ruang yang sakral, diisi oleh semangat keikhlasan dan tanggung jawab keumatan, bukan arena perebutan kekuasaan ataupun transaksi berbasis cuan.
BACA JUGA: Info dari Gus Ipul soal Persiapan Muktamar NU
“NU ini berdiri di atas fondasi perjuangan para ulama. Kalau muktamar sudah disusupi kepentingan politik dan kepentingan materi, maka arah perjuangan NU akan menyimpang dari khitahnya,” ujarnya.
Dia pun menilai pentingnya mengembalikan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada dzuriyah muasis, yakni keturunan para pendiri NU, yang dinilai memiliki kedekatan historis, kultural, dan spiritual dengan nilai-nilai dasar organisasi.
BACA JUGA: Muktamar NU: ABUKTOR--Asal Bukan Koruptor
"Sudah saatnya PBNU kembali dipimpin oleh dzuriyah muassis yang memahami betul ruh perjuangan NU. Ini bukan soal eksklusivitas, tetapi soal menjaga kesinambungan nilai dan amanah para pendiri,” tutur Gus Rosikh.
Dia juga mengingatkan bahwa dominasi kepentingan politik dalam tubuh organisasi berpotensi menjauhkan NU dari khitahnya.
BACA JUGA: Menjelang Muktamar NU, Gus Salam Didoakan Guru Wildan Banjar
"PBNU harus kembali ke pesantren, kembali ke ulama yang benar-benar hidup dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Jangan sampai NU hanya menjadi alat kepentingan kekuasaan,” katanya. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan




