Bukan Hanya Nikel, Produk Baja Olahan RI Mulai Masuk ke Pasar Ekspor

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Ekspor Indonesia selama ini banyak ditopang komoditas tambang seperti nikel. Namun, produk baja olahan dari sektor manufaktur, saat ini mulai masuk ke pasar ekspor, salah satunya melalui pengiriman pipa stainless steel ke Jerman.

PT Stainless Prima Pipe (SPP) melakukan ekspor perdana sebanyak 20 ton pipa stainless steel ke Jerman dari fasilitas produksinya di Kawasan GIIC Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Baca Juga :
Mobil Listrik Baru Wuling Buatan RI Bakal Mengaspal di Luar Negeri
Murahnya BBM Subsidi RI Berpotensi Picu Ekspor Ilegal, Purbaya Ungkap Faktanya

Ekspor ini menjadi langkah awal perusahaan untuk masuk ke pasar internasional, khususnya Eropa. Pengiriman tersebut juga menjadi bagian dari upaya peningkatan ekspor produk manufaktur bernilai tambah dari Indonesia.

Hal tersebut dipaparkan Direktur Utama PT Stainless Prima Pipe, Mustika Ali. Ia mengatakan, ekspor perdana ini menjadi awal perluasan pasar perusahaan ke luar negeri.

“Ekspor perdana ini merupakan momentum penting bagi kami untuk membuktikan bahwa produk manufaktur Indonesia mampu bersaing di pasar global. Kami optimistis dapat terus memperluas jangkauan pasar Internasional ke depan,” ujar Mustika Ali, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Selasa, 28 April 2026.

Pelepasan ekspor dilakukan bersama Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajari Puntodewi. Dalam kegiatan tersebut, Kementerian Perdagangan menyampaikan dukungan terhadap ekspor produk manufaktur bernilai tambah.

Melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), pemerintah melakukan fasilitasi promosi melalui pameran dagang di dalam dan luar negeri, termasuk business matching dan pitching produk ke perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.

Pemerintah juga mendorong penguatan industri besi dan baja nasional, khususnya produk pipa stainless steel untuk industri makanan, minuman, dan farmasi. Penguatan industri tersebut dinilai memerlukan dukungan dari pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain agar tata niaga lebih baik dan iklim usaha tetap kondusif bagi industri baja dalam negeri.

General Manager PT SPP, Edi Tandiono, mengatakan, kapasitas produksi maksimal perusahaan dapat mencapai 1.100 ton per tahun. Perusahaan juga telah menggunakan standar internasional seperti ASTM, 3A, dan EN 10357.

Menurutnya, standar tersebut diterapkan untuk menjaga kualitas produk agar sesuai dengan kebutuhan pasar ekspor.

Baca Juga :
Indonesia Ekspor 250 Ribu Ton Urea ke Australia, Prabowo Diapresiasi PM Albanese
Partai Kanan Ekstrem Eropa Mulai Menjauh dari Israel Gara-gara Perang Iran
Langit Eropa Terancam Sepi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UMKM REWAKO Didorong Tembus Pasar Global
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Detik-Detik Kecelakaan Truk Pupuk Tabrak Motor di Pangkalpinang, 3 Orang Tewas Tertindih
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Tim Khusus Basarnas Special Group Dikerahkan Mengevakuasi Korban Tabrakan Maut KRL Commuter Line vs KA Argo Bromo 
• 18 jam laluerabaru.net
thumb
IHSG Melemah 7 Hari Beruntun, Simak Penyebab dan Proyeksinya
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Petani Majalengka Sebut Kesejahteraan Meningkat di Era Presiden Prabowo
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.