Jakarta, VIVA – Ekspor Indonesia selama ini banyak ditopang komoditas tambang seperti nikel. Namun, produk baja olahan dari sektor manufaktur, saat ini mulai masuk ke pasar ekspor, salah satunya melalui pengiriman pipa stainless steel ke Jerman.
PT Stainless Prima Pipe (SPP) melakukan ekspor perdana sebanyak 20 ton pipa stainless steel ke Jerman dari fasilitas produksinya di Kawasan GIIC Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Ekspor ini menjadi langkah awal perusahaan untuk masuk ke pasar internasional, khususnya Eropa. Pengiriman tersebut juga menjadi bagian dari upaya peningkatan ekspor produk manufaktur bernilai tambah dari Indonesia.
Hal tersebut dipaparkan Direktur Utama PT Stainless Prima Pipe, Mustika Ali. Ia mengatakan, ekspor perdana ini menjadi awal perluasan pasar perusahaan ke luar negeri.
“Ekspor perdana ini merupakan momentum penting bagi kami untuk membuktikan bahwa produk manufaktur Indonesia mampu bersaing di pasar global. Kami optimistis dapat terus memperluas jangkauan pasar Internasional ke depan,” ujar Mustika Ali, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Selasa, 28 April 2026.
Pelepasan ekspor dilakukan bersama Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajari Puntodewi. Dalam kegiatan tersebut, Kementerian Perdagangan menyampaikan dukungan terhadap ekspor produk manufaktur bernilai tambah.
Melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), pemerintah melakukan fasilitasi promosi melalui pameran dagang di dalam dan luar negeri, termasuk business matching dan pitching produk ke perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.
Pemerintah juga mendorong penguatan industri besi dan baja nasional, khususnya produk pipa stainless steel untuk industri makanan, minuman, dan farmasi. Penguatan industri tersebut dinilai memerlukan dukungan dari pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain agar tata niaga lebih baik dan iklim usaha tetap kondusif bagi industri baja dalam negeri.
General Manager PT SPP, Edi Tandiono, mengatakan, kapasitas produksi maksimal perusahaan dapat mencapai 1.100 ton per tahun. Perusahaan juga telah menggunakan standar internasional seperti ASTM, 3A, dan EN 10357.
Menurutnya, standar tersebut diterapkan untuk menjaga kualitas produk agar sesuai dengan kebutuhan pasar ekspor.





