Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berkomitmen memperkuat kedaulatan material konstruksi melalui peningkatan penggunaan aspal Buton (Asbuton) pada berbagai proyek infrastruktur nasional.
Adapun, upaya tersebut menjadi bagian dari agenda besar hilirisasi untuk menekan ketergantungan pada aspal minyak impor yang selama ini masih mendominasi pasar domestik.
Asbuton merupakan aspal alam yang terkandung dalam deposit batuan di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kekayaan sumber daya ini menjadikannya salah satu deposit aspal alam yang memiliki karakteristik unik untuk memperkuat struktur jalan raya di berbagai kondisi iklim.
Seiring dengan potensi tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kini tengah memacu penyusunan peraturan menteri (Permen) terkait kewajiban penggunaan Asbuton.
Menteri PU Dody Hanggodo menargetkan payung hukum tersebut dapat rampung dalam waktu dekat. Regulasi ini nantinya akan menjadi basis legal agar implementasi aspal lokal dapat dilakukan secara masif dan seragam di lapangan.
Pemerintah secara spesifik akan menerapkan skema A30, yakni mandat penggunaan campuran Asbuton sebesar 30% dalam setiap proyek pengaspalan. Kebijakan ini mengadopsi kesuksesan hilirisasi energi seperti program biodiesel B30 yang telah berjalan stabil.
Baca Juga
- Pemerintah Bakal Wajibkan Pembangunan Jalan Pakai Aspal Buton 30%
- Pemerintah Genjot Aspal Buton, Warisan Lama dengan Potensi Triliunan Rupiah
- Aspal Buton Jadi Kunci Kurangi Importasi
"Kita ingin menurunkan impor aspal, minimal sekitar 30%. Kita tidak mulai dari kecil, tetapi langsung A30 karena secara teknis sangat memungkinkan," jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (28/4/2026).
Melalui mandat ini, komposisi penggunaan aspal minyak impor ditargetkan menyusut signifikan dari level 78% menjadi sekitar 52%. Sebaliknya, serapan Asbuton diproyeksikan melonjak tajam dari posisi saat ini yang hanya berada di level 4%.
Secara makro, optimalisasi material asli Indonesia ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp4,08 triliun setiap tahunnya. Selain itu, kebijakan ini diprediksi menyumbang penerimaan pajak domestik mencapai Rp1,6 triliun.
Dody optimistis para kontraktor tidak akan menemui kendala teknis berarti dalam menerapkan campuran A30 tersebut. Menurutnya, penyesuaian teknologi dalam pengerjaan jalan dengan material lokal sangat memungkinkan untuk dilakukan dengan peralatan yang ada.
Selain itu, Permen PU tersebut juga akan mengatur target ruas jalan prioritas, tata cara pengadaan via e-katalog, hingga pemberian insentif bagi pengguna Asbuton olahan. Kebijakan ini juga mewajibkan standar pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 40%.
Kelebihan dan Tantangan Implementasi AsbutonKetua Umum Asosiasi Pengembang Aspal Buton Indonesia (Aspabi) Dwi Putranto mengungkapkan bahwa secara mutu Asbuton memiliki kandungan kimia yang lebih unggul dibandingkan aspal minyak impor. Bahkan, kualitasnya diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia oleh para pengguna di pasar China.
Keunggulan kimiawi ini menyebabkan jalan yang menggunakan Asbuton lebih tahan terhadap kerusakan rutting (alur) dan cracking (retak). Hal ini berdampak langsung pada daya tahan atau usia pakai jalan yang menjadi lebih panjang dan efisien secara biaya perawatan.
"Secara mutu, asbuton memiliki kandungan kimia yang lebih unggul dibandingkan aspal minyak impor, bahkan digadang-gadang sebagai aspal terbaik di dunia [oleh pemakai di China]," jelas Dwi Putranto kepada Bisnis, Selasa (28/4/2026).
Dia mengatakan, Asbuton juga terbukti tangguh terhadap suhu ekstrem, mulai dari suhu tinggi di Indonesia hingga suhu beku di wilayah Harbin, China. Dari sisi aplikasi, penggunaan Asbuton pada umumnya serupa dengan aspal minyak impor sehingga tidak memerlukan perubahan radikal.
Terkait kesanggupan suplai, Dwi menyebut industri Asbuton olahan sebenarnya masih berada dalam kondisi under utility dengan utilisasi di bawah 5%. Artinya, masih banyak potensi produksi yang belum termanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Adapun, yang masih menjadi persoalan, imbuh Dwi, adalah terbatasnya kapasitas pelabuhan di Pulau Buton. Selain itu, percepatan pengesahan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) sangat dibutuhkan agar pasokan bahan baku tidak terkendala.
Di sisi lain, rencana peningkatan aspal lokal ini turut disambut baik oleh para pelaku konstruksi. Ketua Umum Gabungan Pekerja Konstruksi (Gapensi) Andi Rukman Karumpa menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan ini.
Langkah pemerintah yang hendak meningkatkan penggunaan Asbuton 30% dinilai strategis menuju kemandirian material konstruksi nasional.
"Saat ini, penggunaan Asbuton masih sekitar 4% dari konsumsi nasional, dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 30% dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, secara arah kebijakan, ini langkah yang tepat dan visioner," ujar Andi Rukman.
Dia melihat kebijakan ini dapat memberikan efek ekonomi berantai hingga Rp22,67 triliun serta mendorong penciptaan lapangan kerja baru. Namun, Andi mengingatkan bahwa keberhasilan di lapangan sangat bergantung pada kesiapan ekosistem konstruksi.
Adapun, sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi mencakup penyesuaian metode kerja serta kesiapan teknologi pengolahan di setiap wilayah. Konsistensi kualitas dan kelancaran distribusi material juga menjadi kunci utama agar para kontraktor dapat bekerja dengan tenang.
Gapensi berharap pemerintah memastikan rantai pasok Asbuton tersedia secara merata di seluruh daerah. Dengan begitu, hilirisasi sumber daya alam dalam negeri ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi pengusaha lokal.
“Dari sisi Gapensi, kami melihat ini sebagai peluang besar. Namun, implementasinya tetap perlu memperhatikan kesiapan di lapangan,” pungkasnya.
Mengenal Jenis-jenis Produk Asbuton OlahanSaat ini, terdapat enam jenis produk Asbuton olahan yang telah beredar di pasaran dengan spesifikasi yang beragam. Masing-masing jenis dirancang untuk memenuhi kebutuhan konstruksi tertentu, mulai dari pengerjaan panas hingga dingin.
Pertama adalah Asbuton B 5/20, produk butiran dari tambang Kabungka dengan kadar bitumen sekitar 20%. Produk ini berfungsi sebagai zat aditif di asphalt mixing plant (AMP) untuk menghasilkan campuran beraspal panas yang setara dengan aspal modifikasi.
Kedua, terdapat Asbuton B 50/30 dari tambang Lawele yang memiliki nilai penetrasi lebih tinggi. Jenis ini digunakan sebagai substitusi aspal minyak dan cocok untuk berbagai tipe konstruksi seperti butur seal atau campuran hampar dingin.
Selanjutnya, adalah Asbuton pracampur yang merupakan hasil pencampuran Asbuton dengan aspal minyak di pabrik. Produk ini memiliki tingkat kemurnian di atas 90% dan dapat langsung digunakan di ketel AMP tanpa tambahan aspal lainnya.
Jenis keempat adalah Asbuton kadar bitumen tinggi yang dihasilkan melalui proses pemurnian sebagian atau semi ekstraksi. Serupa dengan tipe B 5/20, produk ini digunakan sebagai aditif untuk meningkatkan kualitas dan mutu campuran beraspal.
Kelima, pemerintah juga memperkenalkan Asbuton murni yang telah melalui proses pemurnian sepenuhnya. Produk ini tidak mengandung mineral lain dan memiliki performa yang setara dengan aspal minyak Pen 60/70 atau Pen 40/50 konvensional.
Terakhir, terdapat inovasi bernama CPHMA atau cold paving hot mix Asbuton. Ini merupakan campuran dingin yang dapat langsung dihamparkan di jalan tanpa perlu pemanasan ulang di lokasi proyek.
CPHMA sangat praktis karena dapat disimpan dalam kemasan karung hingga jangka waktu 6 bulan. Produk ini menjadi solusi tepat untuk pekerjaan tambal lubang (patching) atau pembangunan jalan di lokasi terpencil yang jauh dari fasilitas AMP.





