Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), melalui Digital Economy Outlook 2024, mencatat sektor ekonomi digital memiliki pertumbuhan rata-rata 7,6 persen. Pertumbuhan ini tiga kali lebih cepat dibandingkan sektor ekonomi umum.
Pesatnya pertumbuhan ekonomi digital didorong oleh ekspansi sektor e-commerce, fintech, layanan jasa digital, dan platform berbasis data. Kondisi ini memungkinkan terjadinya peningkatan akses, efisiensi transaksi, dan inovasi dalam berbagai aktivitas ekonomi.
Inovasi dalam berbagai aktivitas ekonomi turut mendorong para pelaku ekonomi menjadi semakin kreatif dalam mendulang keuntungan. Ruang ekonomi digital yang fleksibel dari batasan sekat ruang memungkinkan para pelaku ekonomi mendapatkan penghasilan dengan cara lebih mudah, cepat, dan di mana saja.
Kemudahan cara mendapatkan penghasilan secara digital ini pun membuat orang mulai mengejar ”cuan sambil rebahan”. Mendapatkan uang tidak lagi sepenuhnya identik dengan kerja keras berpeluh keringat. Ruang digital menawarkan rumah yang mendukung berbagai model bisnis digital yang memungkinkan seseorang memperoleh penghasilan, bahkan tanpa memiliki produk sendiri.
Salah satu model yang berkembang pesat akhir-akhir ini ialah pemasaran berbasis afiliasi (affiliate marketing). Model ini memungkinkan seseorang mendapatkan komisi dari mempromosikan produk pihak lain melalui berbagai kanal digital, dalam bentuk tautan atau link.
Tautan tersebut akan mengarahkan orang mengakses produk yang dipasarkan. Tautan berfungsi sebagai kode unik untuk mengidentifikasi berbagai aktivitas pengguna yang dihasilkan dari dari tautan tersebut. Aktivitas yang dapat tercatat antara lain jumlah klik, penjualan, dan jumlah orang yang mendaftar ke sebuah e-commerce ataupun situs web dari tautan tersebut.
Aktivitas tersebut diakumulasi dalam bentuk komisi dengan besaran yang bervariasi, tergantung pada kebijakan setiap penyedia layanan. Begitulah pemasaran berbasis afiliasi menghasilkan keuntungan. Beberapa lembaga menunjukkan bahwa penghasilan para afiliator, sebutan untuk pelaku affiliate marketing, memiliki rata-rata tahunan yang terlihat menjanjikan.
Survei yang digagas Authority Hacker, sebuah platform edukasi dan bisnis di bidang digital marketing global, menunjukkan bahwa afiliator global memiliki penghasilan rata-rata 8.000 dolar AS per bulan atau setara dengan Rp 137.920.000. Rilisan lembaga survei lain, Affiliate Booster, pun menunjukkan angka di kisaran kurang lebih sama.
Jika dilihat kembali, angka rata-rata di atas nyatanya tidak selalu mencerminkan kondisi mayoritas para afiliator. Rata-rata penghasilan cenderung terdorong oleh segelintir afiliator dengan penghasilan sangat tinggi, sementara sebagian besar lainnya justru berada pada tingkat pendapatan yang jauh lebih rendah.
Tak kurang dari 41 persen afiliator mendapatkan penghasilan di bawah 1.000 dolar AS per bulan. Dengan demikian, meskipun terlihat menjanjikan, keberhasilan dalam dunia affiliate marketing secara finansial memang baru diraih oleh sebagian kecil pelaku.
Bagaimana dengan di Indonesia? Laporan E-conomy SEA 2024 yang disusun Google, Temasek Holdings, dan Bain & Company menunjukkan nilai ekonomi digital Indonesia tercatat sekitar 90 miliar dolar AS pada tahun 2024.
Nilai tersebut bertumbuh sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi penghasilan terbesar berasal dari sektor e-commerce dengan angka 65 miliar dolar AS. Nilai tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan aset ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Senada dengan perkembangan global, potensi ekonomi digital tersebut turut didorong oleh berkembangnya affiliate marketing di Indonesia. Geliatnya semakin menjanjikan, dengan potensi rupiah fantastis.
Saat ini diperkirakan terdapat 3,2 juta afiliator aktif dengan potensi total penghasilan mencapai Rp 12,4 triliun. Suburnya jumlah pengguna internet di Indonesia turut mendukung berkembangnya affiliate marketing. Model bisnis ini banyak digunakan oleh platform populer, seperti Shopee, Tokopedia, termasuk juga media sosial seperti Tiktok.
Media sosial menjadi salah satu kanal utama distribusi konten afiliasi. Tingginya keterlibatan pengguna dan sifatnya yang sangat visual serta cepat menyebar membuat media sosial menjadi sarana ideal tidak hanya bagi afiliator, tetapi juga bagi ”konsumen” dari para afiliator.
Tidak jarang, para afiliator berlomba-lomba menarik perhatian orang lain untuk mengunjungi tautan yang telah dibagikan dengan membuat berbagai konten, seperti video singkat penggunaan barang, bahkan membuat narasi clickbait yang membuat orang tertarik untuk mengunjungi tautan yang dibagikan. Intinya, berbagai upaya dilakukan agar menarik orang mengklik tautan yang dibagikan
Fenomena berikutnya yang perlu dicatat, semakin banyak orang yang menjadi afiliator membuat mereka yang berkecimpung di sini harus semakin kreatif dalam mengemas produk yang dipasarkan. Berbagai upaya dilakukan, baik melalui pendekatan visual, narasi, maupun strategi konten yang sesuai dengan karakteristik platform yang digunakan.
Pada titik ini, affiliate marketing tidak lagi sekadar aktivitas membagikan tautan, tetapi telah berkembang menjadi kompetisi dalam merebut perhatian di ruang digital yang semakin padat dan dinamis. Narasi yang ditawarkan tidak lagi hanya kemudahan dalam mendapatkan pundi-pundi. Kemudahan tersebut pada akhirnya menuntut kreativitas untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Fenomena afiliasi pada akhirnya memperlihatkan wajah lain dari ekonomi digital, yakni sebuah ruang yang terbuka bagi siapa saja, tetapi tidak memberikan hasil yang sama bagi semua orang. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi digital tidak hanya menciptakan peluang baru, tetapi juga menggeser bentuk persaingan yang kelihatannya mudah, sekaligus lebih ketat.
Akses yang mudah tidak serta-merta menjamin hasil yang setara bagi setiap pelakunya. Di balik narasi ”cuan dari rebahan”, terdapat realitas bahwa perhatian, konsistensi, dan strategi tetap menjadi faktor utama yang menentukan siapa yang mampu bertahan dan siapa yang tertinggal. (LITBANG KOMPAS)
Serial Artikel
Digitalisasi UMKM Indonesia Masih Semu
Dominasi produk impor yang mencapai 90 persen menjadi penghambat pertumbuhan jumlah UMKM sektor produktif di lokapasar.





