Dalam Perjalanan Pulang, Para Komuter Ini Pamit untuk Selamanya

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Isak tangis pecah di berbagai sudut, Selasa (28/4/2026) sore, di depan Instalasi Kedokteran Forensik RS Bhayangkara Tingkat I Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri atau RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Ada yang terhuyung karena nyaris pingsan, ada pula yang berpelukan untuk saling menguatkan. Mereka baru saja mendengar pernyataan resmi, orang-orang terkasih pergi untuk selamanya akibat tumburan kereta di Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Di antara mereka yang bersedih, terdapat Luthfi Dwi Fajar Riansyah (27). Ia berusaha tegar saat menanti penyerahan jenazah dari pihak rumah sakit kepada keluarga korban tabrakan kereta.

Ketika nama kakaknya, Nur Ainia Eka Rahmadyna, dipanggil, tubuhnya bergetar. Matanya mulai berair. Ia ternyata tidak sekuat itu ditinggal sang kakak.

Ainia merupakan karyawan di Kompas TV yang bekerja di bagian control room officer (CRO). Warga Tambun Selatan, Bekasi, ini kerap mengandalkan KRL dari rumahnya ke tempat kerja di daerah Palmerah. Sebagai komuter, ia harus menempuh perjalanan dari Stasiun Tambun ke Stasiun Palmerah dan sebaliknya.

Luthfi biasa menjemput Ainia di stasiun. Namun, pada Senin (27/4/2026) malam, Ainia belum juga tiba. ”Seharusnya dia sudah sampai di Stasiun Tambun pukul 20.55 WIB, tetapi saya tunggu sampai sejam, dia belum datang. Saya tanya petugas di stasiun, ternyata ada tabrakan di Stasiun Bekasi Timur,” katanya.

Ia lalu pulang ke rumah untuk mengambil telepon seluler sekaligus mengabarkan keluarga. Ketika sampai di rumah, ia menyaksikan berita tentang tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang di sekitar Stasiun Bekasi Timur, sebelum Stasiun Tambun.

Baca JugaMisteri KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, Bagaimana Persinyalan Mengaturnya?

Tabrakan itu mengakibatkan 15 korban tewas, termasuk Ainia, dan 84 korban luka-luka. Luthfi dan keluarga pun terpukul atas kepergian sang kakak untuk selama-lamanya. ”Mbak Ainia itu kakak yang baik. Tegas sama adiknya. Kadang ngeselin, tapi juga ngangenin," ucap Luthfi yang berusaha tertawa meski getir.

Ia pun masih ingat kenangan ketika mengantar dan menjemput kakaknya dari rumah di Tambun Selatan ke Stasiun Tambun. ”Jarak dari rumah ke stasiun itu sekitar 20 menit, tetapi kalau sama dia (Ainia) bisa 30 menit. Soalnya enggak boleh kencang-kencang,” kata Luthfi.

Bagi keluarga, Ainia turut menjadi penopang ekonomi, selain kakak yang bekerja di bengkel traktor. ”Dia tulang punggung keluarga. Dari awal kerja dia membantu ekonomi kami, termasuk biaya kuliah saya. Kadang, saya dikasih tambahan untuk uang bulanan,” kenang Luthfi tentang kakak sulung dari tiga bersaudara itu.

Tidak hanya keluarga, rekan kerja Ainia juga merasa kehilangan. Salah satunya Herlin Setyo Nugroho yang bekerja di bagian CRO Kompas TV. ”Waktu tahu Ainia belum sampai rumah, teman-teman gelisah. Kami mencari info ke stasiun sampai rumah sakit. Kami terus berdoa dan berharap dia selamat,” ujarnya.

Namun, takdir berkata lain. Ainia pulang untuk selamanya dalam perjalanan pulang ke rumah. ”Rasanya berat banget ditinggalkan teman kerja yang bertahun-tahun bareng. Dia orang baik dan suka membantu rekan kerjanya,” ucap Herlin yang turut mendampingi keluarga korban saat penyerahan jenazah.

Pemimpin Redaksi Kompas TV Yogi Arief Nugraha mengatakan, keluarga besar Kompas TV mengucapkan dukacita mendalam atas wafatnya Ainia dalam tabrakan kereta. Ainia, katanya, tidak hanya menjadi rekan kerja selama 11 tahun terakhir, tetapi juga sudah menjelma sebagai sahabat dan keluarga.

”Dia ada di balik setiap siaran-siaran Kompas TV. Dia sangat dikenal, pergaulannya luas, inisiatifnya sangat baik sekali. Dia banyak berkontribusi dalam perjalanan Kompas TV,” kata Yogi. Pihaknya pun menyampaikan dedikasi Ainia untuk kemajuan Kompas TV.

Baca JugaPilu Selimuti Pemulangan Jenazah Korban Kecelakaan Kereta
Tas tertinggal

Duka mendalam juga dirasakan Baskoro Aji (30), pekerja pabrik di Bekasi. Selasa sore itu, ia terus mendekap tas berwarna keabuan yang telah kusam. Air matanya menetes, sesekali ia tak kuasa menahan rintihan duka sambil mengelap tangis dengan kerah kemejanya.

Ia menerima tas tersebut dari petugas di Stasiun Bekasi Timur. Tas itu milik istrinya, Tutik Anitasari (31). Tas itu tertinggal di gerbong KRL dalam tumburan kereta. Sejak semalam sebelumnya, ia mencari-cari sang istri yang merupakan pegawai salah satu klinik kecantikan di daerah Tebet, Jakarta Selatan.

Tutik hilang kontak sejak Senin malam. Biasanya, Tutik sudah tiba di rumah mereka di Cibitung, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, sekitar pukul 21.00. Kabar kecelakaan KA di Bekasi Timur kian membuat Baskoro cemas.

Baskoro hanya terdiam ketika menerima ucapan dukacita. ”Dia tidak kuat, makanya minta saya untuk menguruskan di sini,” ucap Heri Sartomi (53), paman Baskoro, saat ditemui di RS Polri Kramatjati pada Selasa sore.

Heri-lah yang berkomunikasi dengan para petugas di RS Polri. Ia pula yang datang ke konferensi pers terkait hasil identifikasi jenazah korban tabrakan KA. Baskoro yang tadinya terus tidak percaya istrinya tiada, perlahan lebih tabah ketika tiba saatnya pemulangan jenazah ke rumah duka masing-masing.

Bukan hanya suami Tutik yang terpukul. Para rekan kerjanya di klinik pun merasakan kehilangan. ”Mbak Tutik itu orang yang enggak pernah mau ngomongin orang lain,” kata manajer cabang klinik tersebut, Parid.

Parid mengenang Tutik sebagai pegawai yang bekerja dengan cakap, tetapi lebih suka menyendiri di waktu luangnya. Namun, ia memahami sikap itu karena Tutik menghindari obrolan untuk membicarakan orang lain alias gibah di saat rekan kerjanya beristirahat dan berkumpul.

Meski kerap menyendiri, Tutik mampu menjadi sosok pengayom, terutama bagi teman-teman kantor yang masih lajang. Itulah mengapa tidak ada satu orang pun yang membicarakan kejelekan ibu satu anak ini. ”Mungkin karena dia orang baik, Tuhan memanggil dia. Tuhan sayang dia,” ujarnya.

Ainia dan Tutik merupakan dua dari 15 korban tewas dalam tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Sebanyak 10 korban baru selesai diidentifikasi di RS Polri pada Selasa sore. Identifikasi menggunakan data primer, seperti sidik jari, dan data sekunder, yakni properti korban.

Selain Ainia dan Tutik, korban lainnya yang telah teridentifikasi adalah Harum Anjasari (27), warga Cipayung, Jakarta Timur; Nur Alimantun Citra Lestari (19), warga Pasar Jambi; Farida Utami (50), warga Cibitung, Bekasi; Vica Acnia Pratiwi (23), warga Cikarang Barat; serta Ida Duraida (48), warga Cibitung, Bekasi.

Baca JugaTragedi Bekasi Ungkap Masalah Klasik Pelintasan Sebidang KA

Korban yang teridentifikasi lainnya adalah Gita Septia Wardany (20), warga Cibitung, Bekasi; Fatmawati Rahmayani (29), warga Bekasi Selatan; serta Arinjani Novita Sari (25), warga Tambun Selatan. Adapun lima korban lainnya dibawa ke sejumlah rumah sakit di Bekasi dan telah diserahkan kepada keluarga.

Kepergian para korban tabrakan kereta telah membawa duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekan kerja korban. Perjalanan para korban yang merupakan komuter telah berakhir. Semoga kecelakaan kereta ini juga yang terakhir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemkomdigi dan Roblox Siap Bertemu Bahas Kepatuhan PP Tunas 30 April
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Korban Tewas Kecelakaan KRL-KA di Bekasi Timur Bertambah Jadi 16 Orang
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Akan Bentuk Satgas PHK, Jadi Kado Hari Buruh?
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Bernardo Tavares: Mental Pemain Kunci Persebaya Menang Telak Atas Arema
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kesalahan Memakai Bedak yang Bikin Makeup Terlihat Cakey
• 22 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.