REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di akhir bulan April atau mengawali bulan Mei beberapa kampus biasanya disibukkan dengan kegiatan menyambut Ujian Tengah Semester (UTS) bagi mahasiswanya, seperti di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Serang yang dijadwalkan akan berlangsung dari 30 April s.d. 3 Mei 2026.
Baca Juga
Cinta Segitiga Berujung Kematian, karena Cemburu Pria Asal Baleendah Bunuh Suami Mantan Istrinya
GoTo Cetak Laba Bersih Perdana, Bukukan Rp171 Miliar pada Kuartal I 2026
Sejak 2005 Ada 504 Kepala Daerah Ditangkap karena Korupsi, Jateng Sumbang 41 Kasus
Beberapa dosen juga sibuk membuat soal berkaitan dengan materi yang sudah diberikan baik berupa ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, berbasis proyek (Project Based Learning), dan simulasi. Namun di era digital seperti sekarang ini seorang tenaga pengajar di perguruan tinggi dihadapkan pada permasalahan digitalisasi yang memudahkan akses bagi mahasiswanya dalam menyelesaikan tugas atau menjawab soal-soal ujian. Fenomena ini tidak hanya menjadi masalah akademik, tetapi juga masalah moral dan etika yang bertentangan dengan ajaran agama. .rec-desc {padding: 7px !important;} Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 9: يَخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ "Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar." Rasulullah Saw. juga menegaskan larangan segala bentuk penipuan dan kecurangan dalam sabda beliau: مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا "Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami." (HR. Muslim no. 101) Hadis lain menyebutkan: مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ "Barangsiapa melakukan tipu daya ia bukanlah bagian dariku, dan pelaku makar serta tipu daya masuk neraka." (HR. Thabrani) Untuk itu penulis sengaja menyajikan catatan ini untuk berbagi tips membuat soal agar mahasiswa tidak googling saat mencari jawaban. Sebagaimana tidak bisa kita pungkiri, satu sisi media digital, salah satunya gadget bisa dimanfaatkan untuk mempercepat akses informasi, memudahkan komunikasi akademis, dan meningkatkan produktivitas. Begitupun bagi kampus kampus dapat meningkatkan efisiensi pembelajaran, aksesibilitas informasi, dan komunikasi. Di sisi lain berdampak negatif terhadap gangguan fisik, mental dan akademik mahasiswa. Gangguan fisik dan mental seperti gangguan mata, nyeri otot, kecemasan, stres, dan risiko depresi meningkat. Sementara gangguan akademik, seperti konsentrasi belajar menurun. Kecanduan (pada game, misalnya) membuat mahasiswa susah fokus saat kuliah. Kemudian penurunan motivasi dan nilai, seperti lupa tugas, menunda pekerjaan, dan kurang produktif. Jika sudah seperti ini, mahasiswa maunya mengambil jalan pintas, mencari jawaban dengan cara “googling”.
Dalam kaitan ini menurut peneliti Chairunnisa & Majdi (2022) bahwa lingkup kecurangan akademik bertambah di kelas daring, termasuk pembayaran pihak ketiga untuk mengerjakan tugas dan penggunaan internet untuk mencari jawaban secara instan. Hal ini sejalan dengan temuan University of California yang menyatakan bahwa penggunaan teknologi untuk menyontek dapat mengurangi integritas akademik dan kualitas hasil pembelajaran.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.