Di antara ratusan jemaah calon haji yang memenuhi Aula Arafah di Asrama Haji Makassar, Selasa (28/4/2026) malam, Kamiseng (46) tampak lebih banyak diam. Namun, di balik itu, tersimpan jejak panjangnya puluhan tahun menarik becak sekaligus menabung uang recehan untuk satu mimpi, berhaji.
Malam itu, Kamiseng dan istrinya, Risnawati Dewi (40), mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan, verifikasi kartu Nusuk hingga pembagian biaya hidup.
Usai seluruh rangkaian kegiatan itu, mereka bergegas kembali ke Wisma Raudah, tempat ratusan jemaah asal Sulawesi Barat yang tergabung dalam Kelompok Terbang 12, menginap.
Kamiseng adalah bagian dari 16.750 jemaah calon haji yang akan dan telah diberangkatkan dari Embarkasi Makassar. Sebagian telah tiba di Madinah dan melaksanakan rangkaian ibadah haji
“Alhamdulillah akhirnya bisa berangkat. Kalau sudah panggilan, pasti ada saja jalannya dan dimudahkan,” kata Kamiseng, malu-malu.
Kamiseng mengatakan, mimpi berhaji sudah ia pupuk sejak berusia belasan tahun. Hal itu juga yang mendorongnya merantau. Dari kampung halamannya di Bantaeng, dia pergi ke Pangkajene Kepulauan. Minim keahlian, ia menjadi penarik becak.
Setelah mendaftar, saya makin semangat menarik becak dan menabung berapa pun yang bisa disisihkan. Kami benar-benar berhemat dan mengatur keuangan.
“Akan tetapi, karena saingannya bentor (becak motor), saya pergi ke Mamuju. Di sana, saya masih menjadi tukang becak. Hanya itu modal dan kemampuan saya,” katanya.
Di Mamuju, Ibukota Sulawesi Barat, angkutan umum belum populer. Itu memberinya peluang sebagai pengayuh becak. Kini, dalam sehari, ia bisa mengumpulkan Rp 50.000.
Setelah merasa cukup bisa menabung, ia mulai menyisihkan uang untuk berhaji di tahun 2000. Saat itu, usianya baru 20 tahun.
Keinginan ini didukung istrinya. Keduanya menikah muda. Setiap kali pulang mengayuh becak, Risnawati akan mengatur uang untuk berbagai kebutuhan dan selebihnya ditabung.
Keduanya menabung dalam kaleng bekas cat berukuran 5 kilogram yang disimpan di kamar tidur. Isi celengan ini mulai pecahan Rp 2.000 hingga Rp 100.000. Kebanyakan pecahan Rp 10.000 dan Rp 20.000.
“Saya tidak menyimpan di bank karena saya malu datang ke bank. Apalagi uang tabungan kami pecahan kecil-kecil. Selama menabung, tak sekali pun kami hitung atau ambil,” kata Kamiseng.
Hingga akhirnya, 13 tahun kemudian tabungan itu dibuka. Isinya mengejutkan, lebih dari Rp 50 juta. Kamiseng berpikiran, uang itu sudah cukup untuk mendaftar haji berdua.
Saat mendaftar, keduanya diberitahu kemungkinan baru akan berangkat adalah 2030 atau bahkan lebih. Namun, hal itu tidak membuat mereka berkecil hati. Tekad mereka sudah bulat pergi ke Tanah Suci.
“Setelah mendaftar, saya makin semangat menarik becak dan menabung berapa pun yang bisa disisihkan. Kami benar-benar berhemat dan mengatur keuangan. Intinya setelah menyisakan uang makan, sekolah anak, keperluan rumah, selebihnya ditabung,” kata ayah dua anak ini.
Hingga akhirnya jalan ilahi itu datang. Tak disangka, panggilan berhaji datang lebih awal. Saat mendapat pemberitahuan bahwa mereka akan berangkat tahun ini, keduanya kembali membuka celengan. Isinya, lebih dari cukup untuk pelunasan.
Untuk pelunasan dan membayar berbagai urusan dan perlengkapan, biayanya sekitar Rp 30 juta per orang. “Masih ada sisa untuk bekal dan tabungan,” kata Risnawati.
Kamiseng ingat betul, saat akan berangkat menyetor biaya pelunasan haji dengan mengendarai becaknya, rekannya sempat bertanya akan kemana.
“Waktu saya bilang mau bayar uang haji, mereka tertawa,” katanya.
Jika Kamiseng dan Risnawati berhaji dari tabungan hasil mengayuh becak, Ali Imran (60), jemaah asal Parepare, pergi Tanah Suci setelah melakukan banyak pekerjaan, mulai dari berjualan kue putu, nasi kuning, hingga ojek motor.
“Habis shalat subuh saya jual putu sampai jam 8 pagi. Setelah itu saya mengojek. Kadang saya tambah jual nasi kuning. Kalau puasa, saya jual kue buka puasa. Pokoknya macam-macam. Asal halal dan bisa menambah tabungan haji, saya kerjakan,” katanya.
Dia juga menabung dalam ember bekas cat berukuran 5 kg. Alasannya sama dengan Kamiseng. Karena menabung recehan, mereka malu datang ke bank. Saat pelunasan, dia membuka lima ember berisi tabungan selama 13 tahun. Nilainya lebih dari cukup untuk membayar ongkos haji dan bekal di jalan.
Berjuang menuju Tanah Suci juga dilakukan Asis Deng Lipung, penjual ikan keliling asal Kabupaten Gowa. Puluhan tahun bersepeda dan berkeliling menjajakan ikan, dia tak hanya mampu mendaftar sekaligus melakukan pelunasan haji untuk dirinya, tapi juga istri dan mertuanya.
Penghasilannya setiap hari paling banyak Rp 100.000. Namun dia konsisten menabung setidaknya Rp 30.000 per hari. Sisanya digunakan untuk kebutuhan harian dan biaya pendidikan dua anaknya.
Perjuangannya bukan tanpa drama. Saat namanya dinyatakan masuk dalam daftar calon jemaah haji tahun ini, Asis sempat panik karena belum memiliki cukup dana untuk pelunasan. Sebelumnya ia juga sempat menghadapi kendala tunggakan saat proses pendaftaran.
“Alhamdulillah karena sudah panggilan, semua masalah bisa diselesaikan. Ada saja jalannya hingga bisa berangkat bertiga bersama istri dan mertua,” katanya.
Haji memang panggilan. Bukan soal mampu atau tidak tapi buah kesabaran dan keyakinan. Seperti Kamiseng, yang mengayuh becak puluhan tahun, mengumpulkan uang recehan untuk tiba sebentar lagi di Tanah Suci.




