[Berita Terlarang] Seiring Surutnya Gelombang Mahasiswa Tiongkok yang Belajar di Luar Negeri, Para Ahli Mengungkap Kebenaran yang Paling Ditakuti Beijing

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

Program studi ke luar negeri yang dulu dianggap sebagai “jalan emas” oleh masyarakat Tiongkok kini mengalami perubahan. Data terbaru menunjukkan jumlah pelajar Tiongkok yang belajar di luar negeri turun hampir 20% dari puncaknya, sementara jumlah yang kembali ke dalam negeri terus meningkat. Para pakar menyebut tren ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan internasional, pasar kerja, dan tingkat pengembalian investasi pendidikan.

EtIndonesia. Data terbaru dari Pusat Layanan Studi Luar Negeri Kementerian Pendidikan Tiongkok menunjukkan bahwa pada 2025 jumlah pelajar Tiongkok ke luar negeri mencapai lebih dari 570.000 orang, turun hampir 20% dibandingkan puncak lebih dari 700.000 orang pada 2019. Secara keseluruhan, skala ini kembali ke tingkat sekitar tahun 2016.

Di saat yang sama, jumlah pelajar yang kembali ke Tiongkok terus meningkat. Statistik Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa pada 2023 hampir 420.000 pelajar kembali, sekitar 500.000 pada 2024, dan meningkat menjadi hampir 540.000 pada 2025—menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun.

Para pakar menilai bahwa setelah pandemi, lanskap studi global telah berubah. Banyak negara memperketat kebijakan imigrasi dan ketenagakerjaan. Ditambah dengan perlambatan ekonomi Tiongkok, orang tua mulai mengevaluasi kembali “nilai guna” pendidikan luar negeri bagi anak-anak mereka, sehingga jumlah pelajar ke luar negeri menurun.

 “Khususnya negara-negara Barat seperti Eropa dan Amerika, kini menerapkan pemeriksaan yang lebih ketat terhadap mahasiswa Tiongkok. Saat ini, peluang untuk belajar di AS atau Eropa semakin kecil, bahkan dalam hal penerbitan visa pun menjadi lebih sulit,” ujar Profesor bidang studi internasional di Universitas St. Thomas, Amerika Serikat, Ye Yaoyuan. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian pelajar Tiongkok beralih ke negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan. Namun negara-negara ini juga mulai meninjau ulang mekanisme penerimaan mahasiswa Tiongkok, sehingga tren penerimaan secara keseluruhan menjadi lebih konservatif.

Ye Yaoyuan menambahkan:  “Dari sisi penawaran, pertama, keinginan pelajar Tiongkok untuk pergi ke luar negeri tidak setinggi dulu. Kedua, bahkan jika mereka ingin pergi, proporsi penerimaan oleh negara lain juga menurun. Hal ini secara alami menyebabkan penurunan jumlah pelajar Tiongkok di luar negeri.”

Meningkatnya jumlah pelajar yang kembali ke Tiongkok juga berkaitan erat dengan semakin ketatnya pasar kerja di luar negeri. Banyak negara memprioritaskan tenaga kerja domestik, sehingga peluang bagi mahasiswa asing untuk tetap bekerja setelah lulus menjadi semakin sulit.

Ye Yaoyuan mengatakan:  “Di Amerika Serikat, jika Anda tidak kembali dan menjadi imigran ilegal, itu akan berdampak sangat buruk, terutama di bawah pemerintahan Trump. Karena itu, kita melihat angka kepulangan pelajar Tiongkok meningkat.”

Menurut data Kementerian Pendidikan Tiongkok, secara jangka panjang, dari 1978 hingga 2025, total sekitar 9,46 juta warga Tiongkok telah belajar di luar negeri, di mana sekitar 8,01 juta telah menyelesaikan studi mereka, dan lebih dari 87% memilih kembali ke Tiongkok untuk berkembang.

 “Dari jutaan itu, sebagian besar adalah peneliti tamu, termasuk yang datang beberapa kali. Jadi jumlah sebenarnya dari pelajar yang kembali tidak sebanyak itu, dan dibandingkan dengan sekitar 11 juta lulusan universitas setiap tahun di Tiongkok, mereka tetap minoritas,” ujar Profesor di Sekolah Bisnis Aiken, Universitas Carolina Selatan, Xie Tian.

Para pakar menganalisis bahwa negara-negara Barat dalam beberapa tahun terakhir terus memperketat pembatasan terhadap pelajar Tiongkok, terutama di bidang teknologi tinggi dan bidang sensitif. Ke depan, jumlah pelajar ke luar negeri kemungkinan akan terus menurun.

Xie Tian mengatakan:  “Secara keseluruhan, dunia kini perlahan menutup pintunya bagi Tiongkok. Jalur bagi Tiongkok untuk memperoleh atau bahkan mencuri teknologi maju melalui pelajar luar negeri juga semakin tertutup. Selain itu, industri teknologi tinggi di AS juga sedang melakukan PHK, dan AI mulai menggantikan banyak posisi. Banyak yang kembali ke Tiongkok karena tidak mendapatkan pekerjaan, sementara mereka yang bisa bertahan biasanya tidak pulang.”

Menurut laporan The Wall Street Journal, dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya persyaratan imigrasi di AS, ditambah propaganda media resmi Tiongkok yang melebih-lebihkan masalah keamanan di Amerika, membuat banyak elit Tiongkok memilih kembali ke dalam negeri untuk berkembang.

Para pakar juga menunjukkan bahwa memburuknya ekonomi Tiongkok, meningkatnya tingkat pengangguran, serta keterbatasan perkembangan industri teknologi tinggi, membuat kemampuan menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi menjadi terbatas. Akibatnya, para lulusan luar negeri menghadapi dilema “pendidikan tinggi, pekerjaan rendah”.

“Masalah pertama adalah kemampuan mereka tidak menemukan posisi yang sesuai di pasar Tiongkok, sehingga banyak yang mengalami penurunan kualitas pekerjaan. Kedua, budaya perusahaan di Tiongkok berbeda dengan di Barat atau Jepang, terutama dalam hal hubungan sosial (guanxi), sehingga banyak lulusan luar negeri sulit beradaptasi dan tidak mampu sepenuhnya meningkatkan daya saing industri,” ujar Ye Yaoyuan. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian perusahaan milik negara, BUMN pusat, dan instansi pemerintah di Tiongkok bahkan mengecualikan lulusan luar negeri dalam rekrutmen. Akibatnya, lulusan universitas ternama yang telah menghabiskan biaya ratusan juta rupiah untuk studi di luar negeri tetap menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah kembali ke Tiongkok.

Disunting/Diwawancarai oleh Li Yun – NTD


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kombes Eko Ubah Pola Pikir Warga untuk Jaga Hutan, Kembangkan Green Policing
• 4 jam laludetik.com
thumb
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Pastikan Santunan Rp50 Juta untuk Korban Meninggal Kecelakaan Maut KRL di Bekasi Timur
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Presiden Prabowo Targetkan Indonesia Swasembada Energi Paling Lambat 2029
• 31 menit lalumatamata.com
thumb
Kronologi Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Versi Oditurat Militer: Pelaku Ingin Beri Efek Jera
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Omongan Giuseppe Marotta Segera Terbukti? Satu Laga yang Rugikan Inter Milan Dikabarkan Ikut Diperiksa dalam Skandal
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.