Baca juga: Link Pengumuman Hasil Seleksi Manajer Kopdes Merah Putih 2026, Begini Cara Ceknya!
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menegaskan bahwa skala program yang besar dengan target puluhan ribu koperasi di seluruh Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kesiapan manajerial di tingkat lapangan.
“Risiko utama ada pada kemampuan manajer koperasi dalam mengelola usaha secara profesional. Ini harus diantisipasi sejak awal,” ujarnya di Jakarta, Rabu.
Pemerintah sendiri telah membuka rekrutmen sekitar 30.000 manajer koperasi sebagai tahap awal penguatan Kopdes Merah Putih. Rekrutmen ini menyasar lulusan D3 hingga S1 dari berbagai jurusan, dengan batas usia maksimal 35 tahun dan syarat IPK minimal 2,75.
Namun, Esther menilai rekrutmen besar-besaran tersebut perlu diimbangi dengan pelatihan yang sistematis agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, terutama terkait pengelolaan dana dan risiko kredit macet.
“Kalau prinsip manajemen risiko tidak diterapkan dengan baik, potensi kredit bermasalah bisa muncul,” katanya.
Dari sisi pendanaan, setiap koperasi direncanakan mendapatkan modal sekitar Rp3 miliar hingga Rp5 miliar. Dengan target pembentukan hingga 80.000 koperasi, total kebutuhan anggaran program ini diperkirakan mencapai Rp240 triliun hingga Rp400 triliun.
Besarnya skala pendanaan tersebut membuat sistem pengawasan menjadi krusial. INDEF mendorong adanya mekanisme kontrol yang lebih ketat, termasuk pemanfaatan platform data terpadu serta koordinasi dengan otoritas seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain itu, transparansi dan akuntabilitas disebut menjadi faktor penting untuk mencegah potensi penyimpangan dalam pengelolaan koperasi. Peluang Kopdes Merah Putih Perkuat Ekonomi Desa Di sisi lain, Esther menilai Kopdes Merah Putih memiliki peluang besar untuk memperkuat ekonomi desa, khususnya dalam memperluas akses pembiayaan, memperpendek rantai distribusi, dan mendukung ketahanan pangan.
Namun, ia menekankan bahwa pendekatan satu model untuk semua daerah tidak akan efektif. Struktur usaha koperasi harus disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing wilayah.
“Sektor usaha paling menguntungkan sangat tergantung karakteristik daerah. Tidak bisa disamakan,” ujarnya.
Sebagai contoh, daerah berbasis perikanan dapat mengembangkan koperasi yang fokus pada pengolahan hasil laut, termasuk akses pembiayaan dan fasilitas penampungan produk.
Pemerintah menargetkan Kopdes Merah Putih menjadi ekosistem ekonomi desa yang terintegrasi, dengan unit usaha seperti gerai sembako, simpan pinjam, gudang logistik, hingga distribusi pangan.
Jika dikelola dengan baik, program ini diharapkan tidak hanya menjadi lembaga ekonomi formal, tetapi juga motor penggerak ekonomi berbasis potensi lokal di tingkat desa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)




