JAKARTA, KOMPAS.TV - Usulan pemindahan gerbong khusus wanita pada KRL Commuter Line yang disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mendapat tanggapan dari pengamat transportasi Deddy Herlambang.
Ia menilai kebijakan tersebut tidak menyentuh akar persoalan keselamatan perkeretaapian, terlebih setelah insiden kecelakaan di Bekasi Timur.
Menurutnya, fokus utama seharusnya tetap pada keselamatan seluruh penumpang tanpa membedakan gender.
“Sama saja, nyawa laki-laki atau perempuan semua mahal. Justru lebih eksklusif bila KKW (kereta khusus wanita) diletakkan di ujung-ujung, seperti di Jepang,” kata dia di Jakarta, Rabu (29/4/2026) dikutip Antara.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 29 April Anjlok Rp30 Ribu, Ini Rincian Terbarunya
Deddy menegaskan, kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 harus menjadi titik evaluasi serius bagi sistem perkeretaapian nasional.
Ia menilai, meskipun Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 telah menetapkan keselamatan sebagai prinsip utama, penerapan di lapangan masih belum memenuhi standar fail-safe system.
Menurutnya, kondisi lintas padat dengan sistem campuran (mixed traffic) antara KRL dan kereta jarak jauh menjadi salah satu titik rawan. Ia juga menyoroti potensi risiko tabrakan dari belakang (rear-end collision) serta lemahnya sistem pengendalian perjalanan kereta.
Usulan Perbaikan Infrastruktur dan Sistem Operasi
Sebagai langkah perbaikan, Deddy mendorong percepatan pembangunan jalur double-double track di lintas Bekasi–Cikarang. Tujuannya untuk memisahkan jalur KRL dan kereta antarkota agar operasi lebih aman dan terstruktur.
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- transportasi kereta
- keselamatan krl
- deddy herlambang
- gerbong wanita
- kecelakaan bekasi
- sistem kereta





