Pemerintah memanfaatkan pasar keuangan domestik untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa, (28/4). Dari lelang tersebut, pemerintah menetapkan total nominal dimenangkan senilai Rp 40 triliun, di tengah derasnya minat investor yang tercermin dari total penawaran masuk mencapai Rp 74,95 triliun.
"Total penawaran yang masuk sebesar Rp 74,95 triliun," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4).
Lelang dilakukan melalui sistem Bank Indonesia untuk sembilan seri SUN yang terdiri dari tiga seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan enam seri obligasi negara berkupon tetap atau Fixed Rate (FR), yakni SPN01260530, SPN12260730, SPN12270429, serta FR0109, FR0108, FR0106, FR0107, FR0102, dan FR0105.
Dari sisi permintaan, minat terbesar tercatat pada seri FR0109 dengan penawaran mencapai Rp 34,744 triliun. Angka ini jauh melampaui seri lain seperti FR0108 sebesar Rp 9,2209 triliun dan FR0107 sebesar Rp 7,050 triliun. Sementara itu, seri lainnya juga mencatat permintaan yang cukup merata, yakni SPN01260530 sebesar Rp 3,435 triliun, SPN12260730 Rp 3,1942 triliun, SPN12270429 Rp 4,562 triliun, FR0106 Rp 4,692 triliun, FR0102 Rp 4,2005 triliun, serta FR0105 Rp 3,8528 triliun.
Meski penawaran yang masuk hampir menyentuh Rp 75 triliun, pemerintah tetap selektif dalam menyerap dana dengan mempertimbangkan strategi pembiayaan dan kondisi pasar. Dari instrumen jangka pendek, pemerintah memenangkan masing-masing Rp 1 triliun untuk SPN01260530, Rp 2,4 triliun untuk SPN12260730, dan Rp 4,4 triliun untuk SPN12270429.
Sementara itu, pada obligasi berkupon tetap, nominal terbesar dimenangkan pada FR0109 sebesar Rp 15,75 triliun. Diikuti FR0107 sebesar Rp 5,15 triliun, FR0108 Rp 3,25 triliun, FR0102 Rp 3,6 triliun, FR0106 Rp 2,7 triliun, dan FR0105 sebesar Rp 1,75 triliun.
Imbal hasil atau yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SPN berada di kisaran 4,89000 persen hingga 5,55000 persen. Untuk tenor lebih panjang pada seri FR, yield bergerak di rentang 6,63518 persen hingga 6,87996 persen. Secara rinci, FR0109 dimenangkan pada level 6,63518 persen, FR0108 sebesar 6,80995 persen, FR0106 sebesar 6,81832 persen, FR0107 sebesar 6,74984 persen, FR0102 sebesar 6,86479 persen, dan FR0105 sebesar 6,87996 persen.
Dari sisi kupon, obligasi FR0109 menawarkan tingkat 5,87500 persen, FR0108 sebesar 6,50000 persen, sementara FR0106 dan FR0107 masing-masing berada di level 7,12500 persen. Adapun FR0102 dan FR0105 sama-sama memiliki kupon sebesar 6,87500 persen. Untuk seri SPN, instrumen diterbitkan dengan mekanisme diskonto.
Tenor yang ditawarkan dalam lelang ini bervariasi, mencerminkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan profil jatuh tempo utang. SPN01260530 akan jatuh tempo pada 30 Mei 2026, SPN12260730 pada 30 Juli 2026, dan SPN12270429 pada 29 April 2027. Sementara itu, obligasi FR0109 jatuh tempo pada 15 Maret 2031, FR0108 pada 15 April 2036, FR0106 pada 15 Agustus 2040, FR0107 pada 15 Agustus 2045, FR0102 pada 15 Juli 2054, serta FR0105 yang memiliki tenor terpanjang hingga 15 Juli 2064.
Tingkat kompetisi dalam lelang ini juga tercermin dari bid-to-cover ratio yang cukup solid. SPN01260530 mencatat rasio 3,44 kali, sedangkan SPN12260730 dan SPN12270429 masing-masing sebesar 1,33 kali dan 1,04 kali. Untuk seri FR, rasio tercatat sebesar 2,21 kali pada FR0109, 2,84 kali pada FR0108, 1,74 kali pada FR0106, 1,37 kali pada FR0107, 1,17 kali pada FR0102, dan 2,20 kali pada FR0105.
Seluruh hasil lelang tersebut akan diselesaikan pada 30 April 2026.





