Arinjani Novita Sari (25) menjadi salah satu korban kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Keluarga sempat berpencar mencari keberadaan Arinjani ke sejumlah rumah sakit di Bekasi.
Ibu Arinjani, Yani (54), menceritakan detik-detik sebelum anaknya hilang kontak. Saat itu, Arinjani masih sempat berbalas pesan dengan tantenya pada malam hari.
"Adik saya jawab lagi 8.52 (malam) itu, Mas, itu apa namanya, 'ada pempek mau digorengin nggak?' Nggak jawab, Mbak. Kita telepon kok nggak diangkat, 'apa anaknya tidur?' kita mikirnya mah ini aja gitu," kata Yani seusai pemakaman Arinjani di TPU Mangun Jaya, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4/2026).
Kecemasan keluarga memuncak saat kakak Arinjani memberi kabar soal adanya kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Yani mengaku langsung gemetar dan berusaha menghubungi anaknya.
"Kakaknya itu kan itu juga kerja kan. Dia ngabarin, 'dengar kabar, Tan, Arin udah pulang belum?', 'belum', dibilang gitu. 'Itu ada kecelakaan di Bekasi Timur'. Ya Allah kita udah gemeteran, Mbak. Gimana nih? Ditelepon balik terus nggak bisa, Mbak. Nggak bisa dihubungin lagi. (Pukul) 20.52 itu setelah balas WA lagi itu nggak dibalas. Udah nggak bisa dihubungin, tapi nomor itu aktif, berdering terus gitu," katanya.
Keluarga kemudian segera bergerak menuju lokasi dan posko di Stasiun Bekasi Timur. Bahkan keluarga juga sempat berpencar ke rumah sakit sekitar. Namun nama Arinjani tak ditemukan dalam data korban yang dirawat di rumah sakit.
"Sampai pagi kita kan langsung bapaknya sama adik saya itu ke Bekasi Timur, ke posko itu kan. Kita lihatin di datanya itu di Bekasi, 'Kok di rumah sakit Bekasi nggak ada,' 'Ayo, yuk, kita nyari aja, kita memencar'. Kita keluarga memencar, Mbak. Rumah sakit ini, rumah sakit itu, semua Bekasi kita puterin sampai pagi pun ikut kita cari lagi," katanya.
Keluarga pun baru mengetahui keberadaan Arinjani setelah pihak KRL memastikan evakuasi terakhir telah selesai. Pihak KRL kemudian mengarahkan keluarga Arinjani untuk pergi ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
"Setelah jam berapa itu dari pihak KRL itu atau pihak itu ngasih tahu kalau korban itu udah, ini yang terakhir, evakuasi terakhir. 'Terus gimana dengan anak saya? Nomor ini nggak ada namanya kan di rumah sakit semua?' 'Ya udah Ibu ke Rumah Sakit Polri,' langsung menuju ke sana, Mbak. Tahunya itu sore jam 4 itu baru kabarin setelah bapaknya tes DNA," kata Yani.
Yani mengenang Arinjani sebagai sosok yang ceria dan membuat hidup suasana di rumah. Arinjani diketahui berprofesi sebagai auditor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.
"Anaknya itu ceria, Mas. Ceria, ramai, di rumah itu ramai. Pokoknya kalau ada dia itu ramai, ceria, baik, Mas, anaknya itu," katanya.
Sebagai informasi, kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Total ada 16 orang meninggal dunia akibat kecelakaan ini. Puluhan orang juga mengalami luka-luka dan mendapat perawatan.
(amw/amw)





