Harga Nikel Shanghai Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan, Kekhawatiran Pasokan Menguat

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Harga nikel Shanghai melanjutkan penguatan pada Rabu (29/4/2026) hingga menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan.

Harga Nikel Shanghai Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan, Kekhawatiran Pasokan Menguat. (Foto: MBMA)

IDXChannel - Harga nikel Shanghai melanjutkan penguatan pada Rabu (29/4/2026) hingga menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan.

Penguatan ini terjadi setelah produsen nikel asal China memangkas produksi di unitnya di Indonesia, yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan logam untuk baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik (EV).

Baca Juga:
Penjualan Ramayana (RALS) Turun 14 Persen di Tengah Momentum Lebaran

Kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange naik 1,2 persen ke 150.550 yuan per ton. Sepanjang sesi, harga sempat menyentuh 152.230 yuan, tertinggi sejak 26 Januari.

Hingga pukul 14.32 WIB, kontrak nikel acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menguat 0,31 persen ke USD19.510 per ton, setelah sehari sebelumnya mencapai level tertinggi hampir dua tahun di USD19.565.

Baca Juga:
Harga Energi Global Diprediksi Naik 24 Persen pada 2026 Imbas Perang Iran-AS

Harga nikel sebelumnya sudah ditopang kekhawatiran atas potensi pengetatan pasokan akibat kuota produksi yang lebih rendah di Indonesia. Di sisi lain, biaya produksi meningkat karena kelangkaan sulfur di tengah konflik Timur Tengah.

Sepanjang April, harga nikel di Shanghai dan London masing-masing telah menguat sekitar 11 persen dan 13 persen.

Baca Juga:
The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga pada April 2026, Pantau Dampak Perang Iran

Melansir dari Reuters, Zhejiang Huayou Cobalt pada Selasa menyatakan unitnya di Indonesia akan menghentikan sementara sebagian lini produksi mulai 1 Mei, sehingga memangkas sekitar setengah kapasitas pabrik.

Langkah ini diambil setelah lonjakan harga sulfur meningkatkan biaya pada salah satu proyek nikel untuk baterai.

"Produsen nikel berbasis high-pressure acid leach (HPAL) di Indonesia, yang menyumbang sekitar 14 persen pasokan global, menghadapi tekanan dari kenaikan harga sulfur dan pasokan yang semakin ketat, sehingga menjaga harga tetap cenderung menguat," tulis analis Morgan Stanley dalam catatannya.

Untuk logam lain di SHFE, tembaga turun 0,53 persen, aluminium melemah 0,1 persen, sementara timbal dan seng relatif stabil, dan timah naik 0,74 persen.

Di LME, tembaga menguat 0,54 persen, aluminium naik 0,2 persen, timah melonjak 1,64 persen, timbal naik tipis 0,2 persen, sementara seng turun 0,18 persen. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wacana Penutupan Prodi Tidak Relevan dengan Industri, Ini Kata Rektor Unesa
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Ramalan Terbaru Harga Minyak hingga Emas dari Bank Dunia
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Sosok Citra, Perantau Asal Jambi Korban Tabrakan KRL di Bekasi: Selalu Ceria
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Bagaimana Kelanjutan Proses ”Judicial Review” UU Peradilan Militer?
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Alur Pendaftaran Kuliah di Al-Azahar Kairo Mesir 2026, Perhatikan Syarat dan Mekanismenya
• 10 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.