JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Komunikasi Publik KRL Mania, Gusti, menilai standar operasional prosedur (SOP) dan infrastruktur keselamatan jauh lebih krusial dibanding sekadar pengaturan posisi gerbong dalam rangkaian kereta.
“Yang lebih penting itu adalah sebetulnya bagaimana infrastruktur keamanannya dan juga bagaimana SOP jika ada kejadian seperti ini, seperti itu sih,” kata Gusti saat dihubungi Kompas.com, Selasa (29/4/2026).
Gusti menambahkan, usulan terkait perubahan posisi gerbong, termasuk yang disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, pada dasarnya sah sebagai bagian dari perhatian terhadap kelompok tertentu.
Baca juga: Anggota DPR: Di Era Teknologi, Keterlaluan Masih Membiarkan Palang Kereta Ilegal!
“Itu (usulan gerbong wanita dipindah ke tengah) sesuai dengan tupoksi beliau sebagai Menteri PPPA, jadi sah-sah saja menyampaikan usulan itu. Tapi keselamatan dan keamanan itu bukan soal gender,” ujarnya.
Menurut Gusti, dalam setiap insiden kecelakaan, korban tidak bisa dipilah berdasarkan jenis kelamin karena semua penumpang memiliki risiko yang sama.
“Korban itu tidak melihat laki-laki atau perempuan, semua bisa jadi korban. Jadi agak kurang pas kalau fokusnya ke gender,” kata dia.
Sebelumnya, Menteri PPPA, Arifah Fauzi mengusulkan pemindahan posisi gerbong khusus wanita pada KRL Commuter Line ke bagian tengah rangkaian.
Baca juga: Mega Perintahkan Fraksi PDIP Dorong Evaluasi Sistem Kereta Api Nasional
Pernyataan itu ia sampaikan mengingat korban dari insiden tabrakan kereta di Bekasi Timur kebanyakan dari kaum perempuan.
Menurut dia, jika merujuk dari insiden tersebut, posisi ujung depan dan belakang rangkaian kereta dianggap lebih berisiko saat terjadi kecelakaan.
Maka dari itu, ia mengusulkan bagian tersebut sebaiknya diisi oleh penumpang umum atau laki-laki untuk meminimalkan fatalitas pada kelompok rentan.
"Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah," kata Arifah Fauzi.
Tabrakan terjadi antara KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi sekitar pukul 20.52 WIB pada Senin malam.
Titik kejadian berada di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920.
Baca juga: Pemerintah Diminta Audit Manajemen KAI Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Akibat kejadian tersebut, 15 penumpang KRL tewas hingga pukul 08.45 WIB, berdasarkan data terbaru yang disampaikan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, Senin (28/4/2026).
Para korban saat ini menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Sementara itu, sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




