Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong penguatan kolaborasi riset internasional guna menjawab tantangan perubahan iklim dan mendukung pembangunan nasional. Hal tersebut, diungkapkan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman.
Tak hanya itu, ia menuturkan jika saat ini kemitraan Indonesia dan Australia semakin solid melalui program KIE yang diinisiasi KONEKSI.
Selain itu, ia mengatakan jika program tersebut menjadi wadah strategis agar hasil riset tidak berhenti pada kajian akademik, melainkan dapat diimplementasikan menjadi kebijakan dan solusi konkret bagi masyarakat.
Upaya ini juga sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai prioritas pembangunan nasional.
“Melalui kemitraan tersebut, sebanyak 38 kegiatan riset inovatif telah dikembangkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” ungkapnya kutip Rabu, 29 April 2026.
Ia mengatakan, jika riset tersebut mencakup sembilan pilar utama, yakni ketahanan iklim, keamanan air, sistem pangan, kesehatan, transisi energi, pengurangan risiko bencana, keanekaragaman hayati, pembiayaan iklim, serta tata kelola inklusif.
“Kesembilan pilar yang diusung antara institusi Indonesia dan Australia ini membawa signifikansi yang luar biasa dan dapat kita jabarkan dalam tiga aspek fundamental bagi masa depan Indonesia, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan,” tegas Dirjen Fauzan.
Dari aspek ekonomi, riset diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan energi melalui inovasi, seperti pengembangan varietas padi tahan iklim serta integrasi budidaya rumput laut dengan energi surya.
“Inovasi teknologi genetik ini krusial untuk memastikan ketahanan pangan yang bermuara pada stabilitas ekonomi nasional,” jelas Dirjen Risbang.
Pada aspek sosial, riset difokuskan untuk mengatasi ketimpangan dampak perubahan iklim, khususnya bagi kelompok rentan. Sementara dari sisi lingkungan, penelitian diarahkan pada penguatan sistem pemantauan bencana berbasis teknologi, perlindungan keanekaragaman hayati, serta penyusunan kebijakan transisi energi dan dekarbonisasi yang berkeadilan.
“Tujuan akhir dari inisiatif ini adalah melindungi keragaman hayati kita, mengamankan ketersediaan air, dan mengelola risiko bencana secara terintegrasi,” jelas Dirjen Fauzan.
Sebagai bagian dari hilirisasi riset, Ditjen Risbang mengembangkan tiga skema kolaborasi dengan industri, yakni “Ajakan Industri”, “Dorongan Teknologi”, dan “Sinergi”.
Selama periode 2022–2025, sebanyak 3.653 kolaborasi telah didanai dengan melibatkan 2.734 mitra. Total investasi mencapai Rp3 triliun, dengan kontribusi industri sebesar 53 persen dan pemerintah 47 persen.
Editor: Redaksi TVRINews





