Jakarta, VIVA – Tabir aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, kian terbuka di ruang sidang Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Rabu, 29 April 2026.
Oditur militer membeberkan kronologi lengkap yang menunjukkan serangan itu bukan spontan, melainkan disusun rapi sejak sore hingga larut malam.
Dalam dakwaan, disebutkan empat terdakwa memulai pergerakan dari Mess BAIS TNI sekitar pukul 16.30 WIB. Mereka lebih dulu menyiapkan cairan kimia yang akan digunakan sebagai alat serangan.
”Lalu menuangkan air aki dan cairan pembersih karat yang berada di dalam lemari besi yang tidak dikunci. Kemudian terdakwa mencampur kedua cairan tersebut ke dalam gelas tumbler warna ungu dengan tutup warna hitam yang terdakwa bawa dari kamar,” kata oditur militer.
Cairan tersebut dibungkus plastik hitam dan dibawa berkeliling menggunakan sepeda motor. Sasaran mereka jelas, mencari keberadaan Andrie Yunus di sejumlah titik yang kerap dikunjungi.
Pencarian pertama dilakukan di kawasan Monas. Namun, target tak ditemukan sehingga para terdakwa bergerak menyisir lokasi lain hingga akhirnya berpencar.
”Bahwa sesampainya di Monas para terdakwa tidak menemukan keberadaan saudara Andrie Yunus, kemudian para terdakwa melanjutkan mencari saudara Andrie Yunus ke tempat lain dan sesampainya di Tugu Tani terdakwa 1 dan terdakwa 2 berpisah dengan terdakwa 3 dan terdakwa 4,” bunyi dakwaan yang disampaikan oleh oditur militer.
Dua terdakwa bergerak ke arah Kwitang, mendekati kantor KontraS. Sementara dua lainnya menuju kantor YLBHI dan memantau situasi hingga malam semakin larut.
Momen yang ditunggu akhirnya muncul sekitar pukul 23.00 WIB. Saat hendak pulang, salah satu terdakwa melihat Andrie keluar dari lokasi dengan sepeda motor.
”Bahwa sekira pukul 23.00 WIB terdakwa 1 dan terdakwa 2 menemui terdakwa 3 dan terdakwa 4 dan mengajak pulang. Kemudian pada saat akan pulang terdakwa 3 melihat saudara Andrie Yunus sedang naik sepeda motor warna kuning keluar kantor YLBHI dan berkata itu si Andrie Yunus orangnya keluar pake motor kuning,” kata dia.
Tanpa membuang waktu, keempatnya langsung membuntuti korban. Sekitar pukul 23.30 WIB, serangan dilakukan di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.





