Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR, Mufti Anam meminta Direktur Utama (Dirut) PT KAI, Bobby Rasyidin tak hanya sekedar minta maaf jika terbukti ada kelalaian manusia yang menyebabkan kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur beberapa hari lalu.
"Jika terbukti human error kami minta Dirut dan pemimpin level tertinggi lainnya untuk bertanggungjawab dan mundur. Tidak cukup dengan minta maaf dan evaluasi," kata dia saat dikonfirmasi, Rabu (29/4/2026).
Advertisement
"Evaluasi total manajemen operasional dan budaya keselamatan di tubuh KAI. Jangan sampai orientasi bisnis dan ketepatan waktu mengalahkan aspek keselamatan," sambungnya.
Politikus PDIP ini menuturkan, apa yang terjadi di Bekasi tersebut, jelas memperlihatkan ada yang tidak beres dalam tata kelola keselamatan perkeretaapian Indonesia.
"Saya menerima informasi bahwa kereta api jarak jauh tidak mendapatkan sinyal terkait keberadaan kereta di depannya. Jika benar, maka ini adalah kegagalan sistem dan bahkan mungkin human error," ungkap Mufti.
Menurut dia, di banyak negara, sistem Automatic Train Protection (ATP) atau European Train Control System (ETCS) sudah menjadi standar minimum untuk mencegah tabrakan, bahkan ketika masinis melakukan kesalahan.
"Kenapa sistem pengaman berlapis seperti ini belum sepenuhnya diterapkan secara optimal di Indonesia," tutur Mufti.
Klaimnya, pemerintah selalu menganakemaskan KAI. Oleh karena itu, ia mengaku kecewa dengan kinerja KAI.
"KAI Sebagai salah satu BUMN yang paling privileged, justru gagal melindungi nyawa rakyat," kata dia.




