Kesadaran perempuan terhadap kesehatan kini semakin berkembang. Menjaga tubuh tetap bugar tidak lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup yang dijalani dengan lebih sadar. Banyak yang mulai memilih langkah preventif, mulai dari menjaga pola makan, rutin berolahraga, hingga mengonsumsi suplemen untuk mendukung kesehatan secara menyeluruh.
Di kawasan Asia Pasifik, layanan kesehatan preventif menjadi perhatian utama, dengan 92% konsumen menilai hal ini penting bagi kesejahteraan mereka. Angka yang sama juga terlihat di Indonesia, di mana mayoritas responden menyampaikan bahwa menjaga kesehatan sejak dini menjadi prioritas, berdasarkan studi terbaru yang dilakukan oleh Herbalife.
Menurut Dr. Alex Teo, Director, Research Development and Scientific Affairs, Asia Pacific Herbalife, semakin banyak individu yang mengambil langkah aktif untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. “Banyak individu kini mengambil langkah untuk meningkatkan kesehatan mereka, termasuk secara sadar memilih makanan yang lebih sehat, berolahraga, serta mengonsumsi suplemen kesehatan. Saat ini, suplemen dipandang sebagai cara untuk mendukung kesehatan secara umum, meningkatkan imunitas, serta membantu individu mencapai tujuan kesehatannya. Tidak jarang dokter, ahli gizi, perusahaan layanan kesehatan, bahkan teman, merekomendasikan penggunaan suplemen.”
Survei Herbalife terhadap 9.000 konsumen di 11 pasar pada Mei 2025 menunjukkan bahwa hampir sembilan dari sepuluh konsumen di Indonesia mengonsumsi suplemen secara rutin. Namun di balik kebiasaan tersebut, hanya 69% responden yang merasa yakin bahwa mereka telah mengambil keputusan yang tepat dalam memilih suplemen.
Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan menjaga kesehatan tidak selalu sederhana. Mengonsumsi suplemen bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga membutuhkan pemahaman yang cukup. Mulai dari mengetahui kandungan bahan, kualitas produk, dosis yang tepat, hingga potensi interaksi dengan obat lain menjadi hal penting yang sering kali belum sepenuhnya dipahami.
“Pengambilan keputusan suplemen yang bertanggung jawab berarti memiliki pemahaman menyeluruh mengenai komposisi bahan dalam produk, kualitas produk, dosis yang direkomendasikan, batas konsumsi, serta potensi interaksi dengan suplemen atau obat lain. Tanpa pengetahuan yang memadai, konsumen dapat mengalami kesulitan untuk memperoleh manfaat suplementasi yang aman dan efektif, sekaligus memperkuat upaya kesehatan preventif mereka,” tambah Dr. Teo.
Studi ini juga menemukan adanya kesenjangan pengetahuan di berbagai kelompok usia. Banyak konsumen yang belum memahami cara konsumsi suplemen yang aman dan efektif, termasuk dosis yang tepat dan batas maksimum konsumsi, terutama saat mengonsumsi lebih dari satu jenis suplemen.
Pada kelompok usia Boomer di kawasan APAC, setengah dari responden mengonsumsi suplemen setiap hari, namun hanya 30% yang memperhatikan pentingnya pengambilan keputusan yang tepat. Tingkat kepercayaan diri mereka juga paling rendah, dengan hanya 42% yang merasa yakin terhadap keputusan yang diambil. Sebaliknya, Gen Z justru menunjukkan tingkat kesadaran dan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam memilih suplemen.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah kurangnya pemahaman mengenai interaksi antara suplemen dan obat. Sebagai contoh, St. John’s Wort dapat menurunkan efektivitas beberapa obat seperti warfarin dan statin. Sementara itu, konsumsi kalsium yang berlebihan dapat menyebabkan hiperkalsemia, kondisi ketika kadar kalsium dalam darah terlalu tinggi, yang berisiko pada kesehatan tulang dan ginjal. Survei Herbalife menunjukkan bahwa 62% responden di Indonesia tidak mengetahui batas maksimum konsumsi kalsium harian, dan 73lum memahami dampak dari konsumsi berlebih.
Di sisi lain, terdapat kesadaran yang cukup tinggi bahwa keputusan yang tepat dalam konsumsi suplemen sangat penting. Sebanyak 90% responden di Indonesia menyadari peran mereka dalam hal ini. Namun, menjaga kesehatan tidak bisa dilakukan sendiri.
“Walaupun saat ini konsumen memiliki akses informasi yang luas, pengambilan keputusan suplemen yang tepat tetap memerlukan upaya yang tidak sedikit. Konsumen perlu membaca label dengan cermat, melakukan riset mandiri, serta mencari panduan dari sumber yang kredibel,” ujar Dr. Teo.
Peran tenaga kesehatan dan penyedia suplemen juga menjadi penting. Lebih dari setengah konsumen di Indonesia mengandalkan dokter atau ahli gizi dalam menentukan pilihan, namun masih ada sebagian yang belum memanfaatkan sumber terpercaya tersebut.
Karena itu, menjaga kesehatan menjadi tanggung jawab bersama. Konsumen perlu aktif mencari informasi yang tepat, tenaga kesehatan memberikan panduan berbasis ilmiah, dan penyedia suplemen menghadirkan transparansi melalui pelabelan yang jelas serta kualitas produk yang terjamin.
Pada akhirnya, suplementasi dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju hidup yang lebih sehat, selama dilakukan dengan cara yang tepat. Edukasi yang berkelanjutan, dukungan dari berbagai pihak, serta kesadaran individu menjadi kunci agar setiap keputusan yang diambil benar-benar membawa manfaat jangka panjang.
“Untuk mendorong hasil kesehatan yang lebih baik, penyedia suplemen perlu bekerja sama erat dengan konsumen dalam mendukung tujuan kesehatan mereka. Perusahaan nutrisi dapat memainkan peran yang lebih besar sebagai pemimpin pemikiran di bidang nutrisi, sementara edukasi kepada konsumen terkait suplemen perlu terus ditingkatkan agar mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik. Upaya ini akan membuka jalan bagi penerapan suplementasi yang bertanggung jawab sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat di seluruh kawasan, sehingga membantu mereka menjaga kesehatan dalam jangka panjang,” tutup Dr. Teo.




