JAKARTA, KOMPAS.TV - Isu soal mobil listrik yang bisa mati mendadak saat melintasi rel kereta api kembali jadi perbincangan. Namun, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa hal tersebut secara teknis sangat kecil kemungkinannya terjadi.
Menurutnya, medan elektromagnetik yang dihasilkan rel kereta tidak cukup kuat untuk mengganggu sistem kelistrikan kendaraan, baik mobil listrik (EV) maupun mobil berbahan bakar konvensional.
“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api, karena medan elektromagnetik yang dihasilkan rel terlalu lemah untuk memengaruhi sistem kelistrikan kendaraan, baik EV maupun mobil berbahan bakar konvensional (ICE),” ujarnya Rabu (29/4/2026) dikutip dari Antara.
Yannes menjelaskan, mobil listrik modern sudah dirancang dengan perlindungan terhadap gangguan elektromagnetik.
Baca Juga: Festival Literasi Anak Rimba Kata 2026 Digelar di Bintaro, Ajak Anak Belajar Sambil Bermain
Setiap kendaraan juga wajib melalui serangkaian uji kompatibilitas sebelum dipasarkan secara luas.
Beberapa standar internasional yang digunakan antara lain ISO 11451 dan ISO 11452 untuk menguji ketahanan terhadap medan elektromagnetik, serta ISO 7637 yang mengukur gangguan listrik pada sistem tegangan tinggi.
Selain itu, ada pula standar CISPR dan regulasi UNECE R10 yang mengatur emisi radiasi serta kompatibilitas elektromagnetik kendaraan.
“Ini adalah regulasi wajib yang harus dipenuhi sebelum kendaraan boleh dipasarkan di banyak negara. Artinya, setiap EV yang dipasarkan secara legal wajib melewati serangkaian pengujian ini.” kata Yannes.
Jika Mogok, Penyebabnya Bukan dari Rel
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Gading-Persada
Sumber : Antara
- mobil listrik
- rel kereta
- medan magnet
- kendaraan listrik
- investigasi mobil
- pakar itb





