Bisnis.com, PADANG - Pasar kopi secara global masih kuat meski tengah terjadi geopolitik di Timur Tengah dan hal ini membuat salah satu eksportir kopi Sumatra membangun optimistis meningkatkan kinerja ekspor.
CEO PT Alko Sumatra Kopi, Suryono mengatakan bicara soal kebutuhan kopi secara global, Indonesia menjadi negara ketiga terbesar yang memasok kopi ke pasar global. Dalam hal ini, Alko juga ikut berperan melakukan ekspor kopi di Indonesia ke berbagai negara Eropa hingga Timur Tengah.
“Alko mengekspor kopi spesialis kualitas premium, baik itu arabika maupun robusta. Kopi yang diekspor ini, berada di berbagai provinsi di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, hingga ke daerah timur Indonesia,” katanya di Padang, Kamis (30/4/2026).
Dia menyampaikan kopi yang diekspor oleh perusahaan yang tumbuh dan berkembang di Kerinci ini, telah memiliki mitra dengan merek yang sudah terkenal. Seperti brand yang ada di Amerika Serikat, Italia, Arab Saudi, dan berbagai merek kopi lainnya.
Melihat besarnya kebutuhan kopi dunia ini, Suryono berkeinginan agar ekspor kopi asal Indonesia melalui Alko bisa mencapai 100 kontainer pada 2026 ini. Karena selama ini, secara tonase, Alko melakukan ekspor kopi sebesar 13.000 ton rata-rata per tahun.
Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 100 ton kopi yang berasal dari Provinsi Sumatra Barat. Diakuinya bahwa secara tonase masih cukup sedikit yang berasal dari Sumbar, karena produksi kopi di Sumbar masih tergolong sedikit.
Baca Juga
- Kopi Tebat Benawa: Upaya Menjaga Produksi Kopi Berkualitas dan Berkelanjutan
- Petani Kopi Sumsel Terimpit Harga Anjlok dan Cuaca Ekstrem
- Kementan Sebut Harga Kopi RI Stabil: Permintaan & Pasokan Domestik Kuat
“Kopi yang banyak kami ambil ya di Pulau Jawa, dan kopi di sana sebagian besar kopi robusta. Kalau kopi arabika di Pulau Sumatra,” jelasnya.
Suryono menegaskan untuk mengejar target 100 kontainer kopi pada tahun 2026 ini, Alko terus berupaya memperluas pasar dengan cara membangun mitra ke berbagai negara. Selain itu, Alko juga ikut berperan dalam produktivitas kopi, di mana petani Indonesia ini turut tergabung ke dalam koperasi yakni Koperasi Alam Koerintji.
“Kualitas kopi menjadi perhatian kami. Jadi petani kopi yang tergabung dalam koperasi yang kami bangun itu, telah mendapatkan cara menghasilkan kopi yang bagus,” sebutnya.
Pengiriman Kopi ke Oman
Suryono menjelaskan belum lama ini, PT ALKO Sumatra Kopi telah mencatatkan langkah baru dalam perdagangan kopi Indonesia dengan melakukan pengiriman 10 ton kopi ke Oman melalui jalur udara. Hal ini sebuah strategi yang jarang digunakan dalam ekspor komoditas kopi, karena tingginya biaya logistik.
Pengiriman tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan cepat dari pasar Timur Tengah, lanjut dia, khususnya Oman yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan signifikan terhadap konsumsi kopi specialty.
“Jadi, di tengah kebutuhan akan pasokan yang cepat dan konsisten, Alko memilih jalur udara sebagai solusi, meskipun biaya yang harus ditanggung jauh lebih tinggi dibandingkan pengiriman melalui laut,” ungkapnya.
Buktinya, melihat pada biaya pengiriman udara dalam ekspor ini mencapai sekitar Rp75.000 per kilogram, angka yang bahkan disebut 50% lebih tinggi dari harga kopi itu sendiri.
Kondisi ini menjadikan pengiriman tersebut sebagai salah satu ekspor kopi dengan biaya logistik paling tinggi, sekaligus menunjukkan adanya pergeseran dalam dinamika pasar global.
Dia bilang, dalam konteks perdagangan tradisional, kopi umumnya dikirim melalui jalur laut untuk menekan biaya. Namun, meningkatnya permintaan terhadap kopi premium dengan standar kualitas tinggi membuat faktor kecepatan menjadi semakin penting.
“Untuk segmen specialty coffee, waktu pengiriman berpengaruh langsung terhadap kualitas produk yang diterima oleh pembeli, terutama sebelum memasuki tahap roasting,” jelasnya.
Menurutnya pengiriman ke Oman ini juga mencerminkan semakin kuatnya posisi Timur Tengah sebagai pasar potensial bagi kopi Indonesia.
Artinya pertumbuhan café, roastery, dan budaya konsumsi kopi berkualitas di kawasan tersebut mendorong kebutuhan akan pasokan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga dapat diandalkan dari sisi waktu distribusi. Selain faktor logistik, pengiriman tersebut didukung oleh penerapan sistem traceability berbasis digital melalui platform Qthink-X.
Sistem ini memungkinkan setiap batch kopi yang dikirim dapat ditelusuri secara menyeluruh, mulai dari asal kebun, identitas petani, proses produksi, hingga distribusi. “Transparansi ini menjadi nilai tambah penting di pasar global yang semakin menuntut kejelasan asal-usul produk dan praktik keberlanjutan,” ucapnya.
Dia menyampaikan bahwa langkah yang diambil Alko ini mencerminkan perubahan arah industri kopi Indonesia. Jika sebelumnya fokus utama berada pada volume dan harga, kini mulai bergeser ke aspek kecepatan, transparansi, dan nilai tambah produk.
“Kami melihat dalam kondisi tertentu, buyer bahkan bersedia menanggung biaya lebih tinggi demi mendapatkan kepastian pasokan dan kualitas,” tegasnya.
Bagi ALKO, pengiriman melalui udara ini bukan sekadar transaksi, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi di pasar global. Kemampuan memenuhi permintaan dalam waktu singkat dinilai dapat meningkatkan kepercayaan buyer sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa depan.
Selanjutnya, pengiriman 10 ton kopi melalui jalur udara ini menjadi simbol bahwa kopi Indonesia tengah memasuki fase baru dalam perdagangan internasional. Bukan lagi sekadar komoditas, kopi kini berkembang menjadi produk bernilai tinggi yang ditentukan oleh kecepatan layanan, transparansi data, dan kepercayaan pasar.
“Dengan langkah ini, Alko menunjukkan bahwa pelaku industri kopi nasional mampu beradaptasi dengan tuntutan global, sekaligus membawa kopi Indonesia ke level yang lebih kompetitif di pasar dunia,” tutupnya.





