FAJAR, WASHINGTON—Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan politik yang meningkat untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan Iran, yang telah menjadi beban berat bagi Gedung Putih.
Demikian laporan Reuters mengutip pejabat AS yang mengetahui masalah tersebut.
Menurut laporan yang diterbitkan pada hari Selasa, badan intelijen AS sedang mempelajari bagaimana Iran akan merespons jika Trump menyatakan kemenangan sepihak dalam perang yang telah berlangsung selama dua bulan dan telah menewaskan ribuan orang serta menjadi beban politik bagi pemerintahannya.
Atas permintaan para pejabat senior, badan intelijen menganalisis skenario ini untuk menilai implikasi dari potensi penarikan AS dari konflik tersebut.
Para penasihat telah memperingatkan bahwa melanjutkan perang dapat menyebabkan kerugian besar bagi Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan pada bulan November.
Sumber-sumber mengatakan kepada Reuters bahwa badan intelijen telah mencapai penilaian awal setelah kampanye militer pertama pada bulan Februari.
Dikutip dari MEMO, penilaian tersebut menemukan bahwa “jika Trump menyatakan kemenangan dan pasukan AS menarik diri dari wilayah tersebut, Iran kemungkinan akan menganggapnya sebagai kemenangan mereka sendiri.”
“Jika Trump malah mengatakan AS telah menang tetapi mempertahankan kehadiran pasukan yang besar, Iran kemungkinan akan melihatnya sebagai taktik negosiasi, tetapi bukan taktik yang akan mengakhiri perang,” tambah sumber tersebut. (amr)





