Laba Vale (INCO) Menanjak 85 Persen Jadi USD43,6 Juta di Kuartal I-2026

idxchannel.com
18 jam lalu
Cover Berita

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan laba bersih senilai USD43,6 juta atau setara Rp757,11 miliar (mengacu kurs Rp17.365 per USD) pada kuartal I-2026.

Laba Vale (INCO) Menanjak 85 Persen Jadi USD43,6 Juta di Kuartal I-2026. (Foto Istimewa)

IDXChannel - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan laba bersih senilai USD43,6 juta atau setara Rp757,11 miliar (mengacu kurs Rp17.365 per USD) pada kuartal I-2026. Nilai ini melonjak 85 persen secara kuartalan (qoq).

EBITDA juga tercatat mengalami peningkatan 29 persen secara kuartalan menjadi USD80,1 juta.

Baca Juga:
RKAB 2026 Disetujui, Vale (INCO) Lanjutkan Operasional Tambang Sorowako hingga Pomalaa

CEO dan Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto mengatakan, kinerja tersebut didukung oleh kenaikan harga dan peningkatan efisiensi yang berkelanjutan. Meskipun pendapatan mencapai USD252,7 juta, fundamental pertumbuhan tetap kokoh.

"Meskipun produksi dan pengiriman nikel matte lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, Perseroan berhasil mencapai kinerja keuangan yang kuat, didukung oleh harga jual yang lebih tinggi, manajemen biaya yang disiplin, dan peningkatan efisiensi operasional," ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI, Jakarta, Rabu (29/4/2026)

Baca Juga:
Vale (INCO) Bukukan Laba Bersih USD76,1 Juta, Meningkat 32 Persen

Pada kuartal I-2026, Vale mencatat produksi nikel matte sebesar 13.620 metrik ton (ton), dibandingkan dengan 17.052 metrik ton pada kuartal IV-2025 dan 17.027 metrik ton pada kuartal I-2025.

Baca Juga:
Butuh Capex hingga Modal Kerja, INCO Eksekusi Greenshoe USD250 Juta

Menurut dia, hasil ini sepenuhnya sesuai dengan rencana perseroan, yang mencerminkan optimalisasi kegiatan pemeliharaan yang terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semester I-2026, serta dampak dari persetujuan RKAB 2026.

Sejalan dengan penyesuaian produksi yang direncanakan, pengiriman nikel matte menurun sebesar 25 persen secara kuartalan.

"Ke depan, PT Vale tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton dan berada pada posisi yang baik untuk memperoleh peningkatan dari harga nikel LME yang lebih tinggi," kata dia.

Selain produksi nikel matte, 2026 merupakan tahun penting dalam lintasan pertumbuhan Vale, karena perseroan mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan, yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa secara bersamaan.

Tonggak strategis ini ditunjukkan oleh volume produksi yang dapat ditingkatkan di setiap blok pertambangan, dan penjualan pertama bijih nikel limonit dari area Pomalaa pada awal 2026, yang menandai perluasan signifikan portofolio komersial Vale dan memperkuat diversifikasi pendapatan di masa mendatang.

Bernardus menegaskan, Vale memperoleh keuntungan dari membaiknya dinamika harga nikel dunia selama kuartal tersebut, dengan Vale mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar USD14.213 per metrik ton, yang mewakili peningkatan 15 persen dari USD12.308 per metrik ton pada kuartal IV-2025, dan menghasilkan total pendapatan sebesar USD252,7 juta.

Dari sisi biaya, biaya tunai per unit penjualan nikel matte pada kuartal I-2026 tetap kompetitif di USD10.382 per ton, sedikit lebih tinggi dari USD9.573 per ton pada kuartal IV-2025, terutama mencerminkan harga input komoditas yang lebih tinggi.

Untuk bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit tetap stabil, dengan Bahodopi di USD21 per ton dan Pomalaa di USD13 per ton, termasuk royalti dan logistik. 

Dalam waktu dekat, kata dia, perseroan mengharapkan optimalisasi biaya tunai akan didorong oleh volume penjualan lebih tinggi dari blok Pomalaa seiring dengan peningkatan skala operasi. Peningkatan volume diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan menghasilkan skala ekonomi lebih besar.

"Sebagian akan mengimbangi basis biaya yang secara struktural lebih tinggi di Bahodopi dan mendukung profil biaya keseluruhan yang lebih seimbang," ujarnya.

Ke depan, perseroan mengharapkan kinerja EBITDA, pendapatan, dan laba yang lebih kuat, didorong oleh harga nikel LME yang lebih tinggi, peningkatan leverage operasional, dan perluasan margin seiring dengan peningkatan volume produksi.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Cetak Laba Bersih Rp15,5 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 13,7 Persen
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Santunan Korban KRL Cair 2x24 Jam, Negara Tegaskan Hadir Lindungi Pekerja
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
BlackRock dan Stanchart Guncang Dunia Aset Kripto
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Alasan Jaecoo Belum Jual J5 Hybrid ke Indonesia
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Cerita Keluarga Kristen Lebanon Temukan Rumahnya Hancur akibat Serangan Israel
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.