Bos JPMorgan Blak-blakan soal Ancaman Krisis Obligasi Global

cnbcindonesia.com
12 jam lalu
Cover Berita
Foto: Bloomberg via Getty Images/Bloomberg

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memperingatkan potensi terjadinya "semacam krisis obligasi" di masa depan seiring meningkatnya risiko utang pemerintah secara global. Ia mendesak para pembuat kebijakan untuk segera bertindak sebelum tekanan pasar memaksa intervensi yang lebih drastis.

Pernyataan tersebut disampaikan Dimon dalam sebuah konferensi investasi yang digelar oleh dana kekayaan negara Norwegia. Saat ditanya soal kekhawatirannya terhadap lonjakan utang pemerintah di berbagai negara, ia memberikan peringatan tegas.

"Dengan kondisi saat ini, akan ada semacam krisis obligasi, dan kemudian kita harus menghadapinya," ujar Dimon, seperti dikutip CNBC International, Rabu (29/4/2026).


Pilihan Redaksi
  • Mengapa "Good Afternoon" dari Bos The Fed Jadi Ucapan Termahal Dunia?
  • Purbaya Kantongi Rp 40 T dari Lelang 9 Surat Utang Negara
  • 5 Hal Paling Ditunggu dari Fed: Bye Powell, Dunia Bisa Berubah Drastis

Meski demikian, Dimon mengaku tidak terlalu khawatir terhadap kemampuan sistem keuangan dalam merespons krisis tersebut. Namun, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif sejak dini.

"Saya tidak terlalu khawatir kita akan mampu menghadapinya. Saya hanya berpikir bahwa kematangan seharusnya menunjukkan bahwa kita harus menghadapinya, bukan membiarkannya terjadi," tambahnya.

Dimon menjelaskan bahwa kombinasi berbagai risiko global saat ini semakin kompleks dan berpotensi memicu gejolak tak terduga. Ia menyoroti sejumlah faktor seperti ketegangan geopolitik, harga minyak, hingga defisit anggaran pemerintah yang terus melebar.

"Tingkat faktor-faktor yang menambah risiko sangat tinggi, seperti geopolitik, minyak, defisit pemerintah," jelasnya. "Faktor-faktor tersebut mungkin akan hilang, tetapi mungkin juga tidak, dan kita tidak tahu kombinasi peristiwa apa yang menyebabkan masalah ini."

Dalam skenario krisis obligasi, pasar biasanya mengalami lonjakan tajam imbal hasil (yield) serta penurunan likuiditas. Kondisi ini terjadi ketika investor berbondong-bondong menjual obligasi sementara pembeli menarik diri, sehingga memaksa bank sentral turun tangan sebagai pembeli terakhir untuk menstabilkan pasar.

Dimon mencontohkan krisis obligasi pemerintah Inggris pada 2022 sebagai gambaran nyata. Saat itu, lonjakan yield memicu gejolak pasar hingga Bank of England harus melakukan intervensi darurat.

Selain itu, Dimon juga menyinggung risiko di sektor kredit. Meski menilai pasar kredit swasta yang bernilai sekitar US$1,7 triliun atau setara Rp28.900 triliun belum cukup besar untuk menjadi ancaman sistemik bagi ekonomi AS, ia mengingatkan potensi tekanan yang lebih luas.

"Kita sudah lama tidak mengalami resesi kredit, jadi ketika kita mengalaminya, itu akan lebih buruk dari yang orang kira," ujarnya. "Mungkin akan mengerikan."


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
CEO BlackRock 'Warning' Resesi Global Jika Minyak Sentuh USD150

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buka Data, Kemenperin Bantah Adanya Deindustrialisasi
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Bestari Saintek 2026 Tancap Gas, 122 Riset Siap Hilirisasi Industri
• 5 jam laludisway.id
thumb
Hakim Diduga Jadi Pemilik Daycare Little Aresha di DIY, Ini Hasil Konfirmasi Mahkamah Agung
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Na Daehoon Murka, Ketiga Anaknya Foto Bareng Selingkuhan Jule
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Banjir Terjang Tiga Desa di OKU, Puluhan Rumah Terdampak
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.