Pantau - Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong perguruan tinggi membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mendukung peningkatan gizi nasional melalui Program Makan Bergizi Gratis.
Peran Strategis Kampus dalam Program Gizi NasionalKepala BGN Dadan Hindayana menilai kampus memiliki peran strategis dalam menyukseskan program tersebut melalui pembangunan dan pengelolaan SPPG secara mandiri.
Ia mengungkapkan, "Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri."
SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi, tetapi juga menjadi pusat aktivitas ekonomi berbasis pangan yang terintegrasi.
Program ini membuka peluang besar bagi kampus untuk menghubungkan kegiatan akademik dengan praktik lapangan secara langsung.
Mahasiswa dapat terlibat dalam sektor pertanian, peternakan, hingga distribusi pangan sebagai bagian dari pembelajaran.
SPPG juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium hidup untuk riset dan inovasi di bidang teknologi pertanian, pengolahan pangan, serta manajemen rantai pasok.
Kebutuhan Lahan dan Peternakan untuk Operasional SPPGDalam operasionalnya, satu SPPG membutuhkan sekitar 8 hektare lahan sawah untuk memenuhi kebutuhan beras.
Selain itu, diperlukan sekitar 19 hektare lahan jagung guna mendukung pakan ternak dalam rantai pasok pangan.
Sektor peternakan menjadi bagian penting, termasuk kebutuhan ayam petelur dalam jumlah besar.
Dadan menyampaikan, "Kalau ingin telurnya dipasok sendiri, maka harus ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG."
SPPG juga berperan sebagai penampung utama produk pangan lokal dan menjadi penggerak ekonomi di tingkat daerah.
Ia menegaskan, "SPPG ini menjadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal. Jadi, bukan hanya soal memberi makan, melainkan juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan."
Program ini diharapkan memberikan dampak luas terhadap sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi melalui ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.




