REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa cuaca ekstrem berkontribusi terhadap peningkatan kasus serangan jantung dan strok. Gelombang panas maupun gelombang dingin disebut sama-sama berbahaya, dengan dampak berbeda terhadap tubuh manusia.
Temuan ini dipresentasikan dalam kongres Asosiasi Kardiologi Preventif Eropa (EAPC) dan didasarkan pada analisis data lebih dari 8 juta penduduk Polandia Timur selama periode 2011 hingga 2020. Selama dekade itu, tercatat lebih dari 573 ribu kejadian kardiovaskular dan serebrovaskular besar (MACCE).
Baca Juga
Dokter Ungkap Alasan Serangan Jantung Lebih Mematikan pada Wanita
Cara Sederhana Tingkatkan Metabolisme Tubuh Agar Berat Badan Stabil
Usulan Gerbong Wanita ke Area Tengah KRL Tuai Kritik dan Perdebatan
Warga beraktivitas saat cuaca terik di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (24/4/2023). - (Republika/Thoudy Badai)
Profesor Lukasz Kuzma dari Medical University of Bialystok menjelaskan bahwa perubahan iklim mendorong meningkatnya kejadian cuaca estrem, bahkan di wilayah beriklim sedang yang sebelumnya kurang mendapat perhatian penelitian. "Polandia sekarang mengalami gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya, di samping gelombang dingin yang sudah ada," kata Kuzma dilansir laman Fox News, Kamis (30/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Penelitian menunjukkan gelombang panas memberikan dampak langsung. Pada hari terjadinya suhu ekstrem, kejadian kardiovaskular meningkat sebesar 7,5 persen sementara angka kematian akibat kardiovaskular melonjak hingga 9,5 persen.
Sebaliknya, gelombang dingin memiliki efek yang tertunda namun berlangsung lebih lama. Risiko kejadian kardiovaskular meningkat antara 4 persen hingga 5,9 persen dalam beberapa hari setelah paparan suhu dingin ekstrem.