Pengantar redaksi:
Artikel yang pernah diunggah 9 Juni 2025 ini mendapatkan penghargaan emas di ajang Digital Media Awards Asia 2026 oleh WAN-IFRA di Manila, Filipina, Selasa (28/4/2026). Juri menganggap artikel ini sebagai karya terbaik pada kategori ”Best in Countering Disinformation”, unggul atas 17 finalis yang mewakili 11 negara.
Investigasi Harian Kompas per April hingga Mei 2025 mengungkap anatomi jaringan pendengung atau buzzer yang mempunyai sistem koordinasi berlapis dan terstruktur. Hal ini membuat koordinasi menjadi efektif, sekaligus menjamin kepatuhan setiap operator buzzer menjalankan perintah sekaligus menjaga kerahasiaan klien.
Kerahasiaan klien adalah prinsip yang harus dijaga dalam jaringan buzzer. Sebab, tak ada seorang pun yang mau mengakui bahwa ia menggunakan buzzer.
Investigasi Kompas mengungkap, penggunaan buzzer dimulai dari komunikasi pemesan jasa buzzer ke agensi atau koordinator buzzer. Agensi atau koordinator ini yang nantinya akan menggerakkan pasukan buzzer yang jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu orang.
Penggunaan buzzer di tingkat elite umumnya terkait isu serius, biasanya isu politik, isu kepentingan publik, dan isu kontroversial. Kelompok elite ini terdiri dari orang-orang kaya dan berpengaruh, dari pengusaha, perusahaan, tokoh politik, hingga tokoh masyarakat. Ada yang menggunakan buzzer untuk membangun opini publik, untuk kepentingannya, dan kelompoknya.
Adapun entitas usaha yang menggunakan jasa buzzer biasanya untuk memenangkan persaingan usaha. Saat ini, selain oleh kalangan elite, penggunaan buzzer meluas hingga ke akar rumput. Bahkan, di tingkat usaha kecil, buzzer juga untuk mendongkrak penjualan atau menyerang saingan usahanya.
Koordinasi operasi buzzer secara umum berupa hierarkis seperti piramida. Semakin ke bawah, jumlah mereka semakin banyak. Di jaringan operator buzzing atau buzzer, jumlahnya bisa mencapai ribuan. Kompas menemukan, dua koordinator buzzer dan tiga agensi mempunyai akses ke 5.000-70.000 buzzer.
Di puncak piramida terdapat pemodal, yang menyediakan dana untuk menjalankan operasi buzzer. Motifnya mulai dari kepentingan politik hingga bisnis atau personal.
Untuk isu sensitif, seperti politik, hubungan pemodal dengan koordinator buzzer biasanya difasilitasi perantara. Mereka umumnya individu yang punya kedekatan dengan kalangan elite yang biasanya menjadi pemodal untuk isu-isu sensitif, tetapi mereka juga dekat dengan petinggi di jaringan buzzer. Perantara ini bisa berasal dari beragam kalangan, mulai dari pengusaha hingga tokoh masyarakat.
Di bawah perantara, terdapat perancang strategi yang akan melakukan analisis isu lalu merancang peta operasi. Perancang strategi juga bertugas menentukan target, waktu operasi, narasi yang akan digunakan, dan platform yang digunakan. Para perancang inilah yang menentukan bentuk operasi buzzer agar sesuai dengan tujuan proyek.
Selanjutnya, rancangan operasi dari perancang strategi akan diturunkan pada koordinator dan agensi buzzer. Jumlah koordinator dan buzzer dalam satu operasi bisa lebih dari satu, tergantung skala operasi buzzer. Semakin besar, semakin banyak koordinator dan agensi yang digunakan.
Tugas koordinator dan agensi ini merekrut dan menyiapkan pasukan buzzer. Selain itu, mereka juga bertugas menerjemahkan rancangan operasi menjadi narasi untuk diunggah ke media sosial buzzer.
Perekrutan untuk satu operasi buzzer hanya akan dilakukan di jaringan yang mereka kelola sebelumnya. Mereka akan memberi tugas dan perintah, memantau jalannya operasi, dan memastikan bahwa pesan yang disebar sesuai target. Koordinator dan agensi ini dapat mengelola hingga puluhan ribu akun media sosial.
Di dasar piramida, terdapat para buzzer itu sendiri. Mereka adalah akun-akun media sosial yang bertugas menyebarkan narasi, menaikkan tagar, mengomentari isu, hingga menyerang pihak tertentu sesuai arahan.
Sering kali, mereka bekerja menggunakan identitas anonim atau akun palsu. Buzzer atau operator buzzing ini hanya terhubung dengan koordinator atau agensi masing-masing.
Kinerja buzzer ini dikelola dan diawasi oleh koordinator atau agensi di setiap tingkatan. Pemilik agensi pemasaran digital LC, SK (30), mempunyai satu tim khusus untuk memantau kinerja dan kepatuhan para operator buzzer untuk menjaga kerahasiaan klien.
SK membagi mereka dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas koordinator buzzer di bawahnya. Ia memperlihatkan, grup-grup percakapan yang masing-masing terdiri atas 200-250 orang itu. ”Kami memberi tahu ada lowongan di sini, memberi perintah juga di sini,” katanya di Tangerang, Provinsi Banten, Kamis (22/5/2025).
SK merupakan agensi kecil yang memperoleh proyek dari agensi besar. Ia jarang menerima pekerjaan langsung dari klien. Setiap proyek itu selalu disertai perjanjian kerahasiaan untuk tak mengungkap pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tengah dikerjakan. ”Setiap konten mereka kami pantau. Kalau ada yang melanggar, kami masukkan ke black list dan tidak akan kami pakai lagi,” katanya.
Dari sisi jalur pemesanan, investigasi Kompas menemukan terdapat dua jalur yang berbeda, yaitu isu sensitif dan alur isu ”aman”. Isu aman yang dimaksud biasanya untuk mendengungkan kegiatan atau produk komersial.
Meski disebut isu aman, operasi ini juga biasanya diikat perjanjian untuk menjaga kerahasiaan. Adapun isu-isu sensitif biasanya menyangkut isu yang kontroversial, isu politik, atau isu yang melibatkan kalangan elite. Jalur isu sensitif ini lebih rumit. Perbedaannya, ada perantara untuk isu sensitif. Layanan buzzer jenis ini kecil kemungkinan bisa ditemukan pada dokumen lelang. Proyek ini dijalankan secara tertutup.
Penggunaan perantara membuat sang pemesan jasa tak perlu terhubung langsung dengan jaringan buzzer. Dengan demikian, alur ini juga akan melindungi identitas pemesan operasi buzzer. Komunikasi antara koordinator dan pemesan operasi buzzer biasanya dilakukan lewat perantara.
Seorang perantara akan menegosiasikan harga dengan pemesan jasa. Setelah cocok, perantara menghubungi koordinator buzzer untuk mengeksekusi proyek. Namun tak jarang, sebagaimana diungkap dua koordinator buzzer dalam penelusuran Kompas, petinggi jaringan buzzer ini dapat bertemu langsung dengan sang pemesan operasi buzzer setelah operasi berlangsung.
Koordinator buzzer bisa mengerjakan dengan timnya sendiri atau memberikannya ke koordinator buzzer lain dan hanya mengambil margin dari nilai proyek. Dari semua tingkat ini, perantara mendapat profit paling besar, hingga 20 persen dari nilai proyek. Ini karena perantara mempunyai akses langsung ke pemberi proyek.
Dalam bisnis buzzer, akses adalah modal utama. Seberapa pun besar jaringan buzzer, tanpa akses ke orang-orang yang tepat, mereka tidak akan mempunyai proyek yang bisa dikerjakan. Tak hanya pemesanannya, jalur pembayaran buzzer di isu sensitif ini pun biasanya penuh lika-liku. Sejumlah taktik diterapkan hingga transaksi antara pemesan jasa dan jaringan buzzer sulit dilacak.
Koordinator di Jakarta Pusat, NR, mengaku honornya dibayarkan oleh perusahaan swasta yang sama sekali tak ia kenal. Perusahaan yang melakukan transfer honor ini pun berganti tiap beberapa bulan sekali. Adapun koordinator buzzer yang tinggal di sekitar Jawa Tengah, Irwan (bukan nama sebenarnya), pernah dibayar dengan emas batangan yang ditinggalkan di lahan parkir.
Perusahaan pemesan akan bertemu dengan agensi-agensi besar yang akan merancang strategi operasi buzzer. Selanjutnya, agensi-agensi besar itu akan menurunkan strategi itu ke agensi-agensi kecil. Tugas agensi kecil di antaranya merancang narasi dan meneruskan pesanan itu ke para koordinator buzzer yang ada dalam jaringannya. Dari koordinator buzzer, barulah order diteruskan ke buzzer.
Ditemui akhir April 2025, MA (30), pemilik agensi digital di Tangerang, Banten mengawali kerja dengan kesepakatan pemilik brand. Tahap berikutnya, ia merancang narasi kampanye yang harus dilakukan buzzer anggotanya. Penjelasannya dibuat sesederhana mungkin agar mudah dipahami anggotanya yang memiliki latar belakang berbeda. Selanjutnya, buzzer membuat konten dan mengunggahnya di media sosial.
Tangkapan layar dan pranala dari konten itu dilaporkan ke grup untuk dipantau tim MA. Imbalan diberikan setelahnya. Menurut MA, posisi buzzer penting karena mereka bisa membelokkan pemikiran orang. Saat ini, pasukan buzzer ibu-ibu yang bernaung pada agensinya mencapai ribuan akun.
Terkesan berbeda, jaringan buzzer sebenarnya cair dan fleksibel. Mereka bisa mengambil proyek apa pun selama honor dan sistem kerja cocok. Jaringan buzzer yang biasa menggarap isu serius juga menggarap buzzer produk. Begitu pula sebaliknya. Jaringan buzzer yang biasa menggarap pemasaran produk juga bisa menggarap isu politik. Sejumlah jaringan buzzer pemasaran produk juga menerima tawaran isu politik, terutama selama musim Pemilu 2024.
Irwan misalnya, mengambil proyek buzzer produk perawatan kulit dan makanan. Uang yang dia terima dari buzzer produk ini tidak sebesar proyek isu politik. Untuk isu politik, uang yang ia terima bisa mencapai lebih dari Rp 6 miliar per proyek. ”Proyek kami tak selalu isu serius, ada juga produk cokelat dan skincare masuk ke kami. Itu juga dibuzzerin loh,” ujarnya.





