Makassar, ERANASIONAL.COM – Penantian panjang selama 26 tahun berbuah manis.
Sepasang suami istri asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), akhirnya mampu mewujudkan impian menunaikan ibadah haji.
Mereka menabung dari hasil menarik becak sejak tahun 2000, kini keduanya berangkat ke tanah suci bersama ratusan Jemaah Calon Haji (JCH) dari kloter 12 Embarkasi Makassar.
Suasana haru dan penuh bahagia menyelimuti asrama haji Sudiang, Makassar. Ratusan jemaah calon haji tampak berjalan kaki dari wisma Raudhah menuju Aula Mina untuk mengikuti proses pelepasan ke tanah suci.
Di antara ratusan jemaah tersebut, terselip kisah mengharukan dari pasangan suami istri, Kamiseng dan istrinya Risnawati. Keduanya akhirnya berangkat haji setelah menabung selama 26 tahun dari penghasilan sederhana sebagai penarik becak.
Senyum bahagia tak lepas dari wajah Kamiseng dan sang istri saat melangkah memasuki Aula Mina. Momen ini menjadi bukti nyata dari perjuangan panjang yang telah mereka lalui bersama.
Kamiseng diketahui merantau ke Kota Mamuju, Sulawesi Barat, dan menggantungkan hidup dari mengayuh becak. Penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp90 ribu per hari.
Dari penghasilan tersebut, Kamiseng dan istrinya menyisihkan sebagian rezeki untuk tabungan haji. Setiap hari, uang hasil kerja keras dibagi untuk kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, dan sebagian kecil di simpan dalam celengan.
Meski hanya 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari, konsistensi menjadi kunci perjuangan mereka. Sejak tahun 2000 mulai menabung, hingga akhirnya pada tahun 2013 keduanya memberanikan diri mendaftar haji.
Kesabaran dan ketekunan itu pun berbuah hasil, saat tabungan yang dikumpulkan mencapai lebih dari 25 juta rupiah untuk pelunasan biaya haji.
Kamiseng mengaku tak menyangka bisa berangkat ke tanah suci bersama istri tercinta. Baginya, ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan niat tulus akan selalu menemukan jalannya.
“Dari mengayuh becak saja, tidak ada yang lain. Kami menabung setiap hari sejak tahun 2000 sampai akhirnya bisa mendaftar,” jelas Kamiseng, di Asrama Haji Sudiang, Rabu (29/4).
Kisah ini menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian. Dengan niat, usaha, dan kesabaran, setiap harapan dapat terwujud.
“Saya dan istri tidak menyangka dipanggil Allah kke tanah suci. Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata,”ujarnya berbinar-binar.





