Usulan gerbong kereta rel listrik (KRL) khusus wanita dipindahkan dari ujung memantik pro kontra. Usulan pemindahan gerbong wanita itu muncul usai insiden tabrakan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Usulan itu awalnya disuarakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. Dia mengusulkan agar gerbong KRL wanita diletakkan di tengah rangkaian kereta.
"Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," kata Arifah kepada wartawan seusai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Pada kecelakaan yang terjadi Senin (27/4), KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang menuju Cikarang dari belakang. Imbas kecelakaan tersebut, Arifah mengusulkan gerbong ujung depan dan belakang diisi penumpang pria.
"Jadi yang laki-laki di ujung. Depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu," kata dia.
Usulan tersebut ramai dibahas di media sosial (medsos) hingga legislator pria dan wanita. Pihak KAI sampai pihak pemerintah juga angkat bicara terkait usulan pemindahan gerbong KRL wanita tersebut.
Kecelakaan kereta itu menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan 90 orang terluka. Seluruh korban merupakan perempuan karena lokomotif KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong khusus perempuan yang ada di bagian paling belakang rangkaian KRL.
(jbr/mei)





