Bagaimana Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

1.  Kapan saja pernah terjadi kecelakaan besar kereta api di Indonesia dalam 20 tahun terakhir?

2.  Apa penyebab kecelakaan kereta api yang terjadi?

3.  Berapa korban akibat kecelakaan?

4.  Bagaimana upaya mitigasi kecelakaan?

Kapan saja pernah terjadi kecelakaan besar kereta api di Indonesia dalam 20 tahun terakhir?

Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek yang menabrak rangkaian kereta rel listrik rute Kampung Bandan-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, menyedot perhatian publik. Peristiwa yang terjadi pada Senin (27/4/2026) menelan sejumlah korban. Sampai dengan Rabu (29/4/2026) malam, dilaporkan 16 orang meninggal dan 90 orang terluka. Beberapa perjalanan kereta terganggu.

Jika ditarik ke belakang kecelakaan yang melibatkan kereta api massal (commuter line) dan kereta api jarak jauh juga pernah terjadi pada tahun 2024. Kereta api Turangga PLB 65A bertabrakan dengan Kereta api Commuter Line Bandung 350 di KM 181+700 kawasan Haurpugur, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/1/2024) pukul 06.30. 

Kejadian dua kereta yang bertabrakan ini sangat mengejutkan. Dari sejumlah video, tampak sebagian gerbong kereta dalam kondisi bergeser bahkan hingga terbalik. Lokasi kejadian di pinggir areal persawahan.

Pada tahun 2010, di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah juga pernah terjadi insiden tabrakan kereta berjarak kurang dari 500 meter dari Stasiun Petarukan. Saat itu, KA Senja Utama jurusan Jakarta-Semarang yang berhenti di jalur tiga ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya. Setidaknya, 36 nyawa melayang dalam peristiwa itu. Kecelakaan diduga karena masinis tertidur dan melanggar sinyal.

Beberapa tahun sebelumnya, insiden tabrakan antara Kereta Api Kertajaya dan Kereta Api Sembrani juga terjadi di Stasiun Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, tahun 2006. Akibatnya, 14 tewas dalam tabrakan maut itu.

Baca JugaPetaka Itu Tertinggal di Cicalengka
Apa penyebab kecelakaan kereta api yang terjadi?

Kelalaian manusia menjadi salah satu penyebab kecelakaan kereta api yang terjadi. Dalam kasus tahun 2010 di Kabupaten Pemalang, kecelakaan terjadi akibat masinis yang diduga tertidur dan melanggar sinyal. Pola yang mirip pun menjadi penyebab tabrakan. 

Hasil penyelidikan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan, masinis KA Kertajaya diduga menjalankan lokomotif tanpa aba-aba petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) dan kondektur, sesuai dengan prosedur pemberangkatan KA.

Faktor kelalaian manusia kembali ditemukan dalam kecelakaan maut di Desa Cigedug, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Desember 2001. Saat itu, KA Empu Jaya dari Pasar Senen ke Lempuyangan ”adu kepala” dengan KA Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) dari Surabaya Gubeng menuju Pasar Senen.

Pelanggaran sinyal pun menjadi penyebab KA Empu Jaya jurusan Jakarta-Yogyakarta terlibat kecelakaan dengan lokomotif Cirebon Ekspres yang sedang langsir di Stasiun Kejaksan Cirebon, Minggu (2/9/2001) sekitar pukul 03.44.

Saat itu, lokomotif Cirebon Ekspres nomor CC20120 sedang langsir, menunggu berangkat pukul 03.55 ke Jakarta. Namun, dari arah berlawanan datang KA Empu Jaya yang melaju dengan kecepatan sekitar 80 kilometer per jam. Hasil penyelidikan, KA Empu Jaya melanggar sinyal.

Selain faktor kelalaian manusia, sistem dan infrastruktur kerapkali menjadi penyebab kecelakaan. Tragedi di Stasiun Bekasi Timur ini mencerminkan adanya keretanan sistemik dalam penyelenggaraan perkeretaapian nasional. Pertama, rentan pada lintas padat berbasis mixed traffic, yakni KRL dan KA jarak jauh atau KA antarkota. Kedua, sistem pengendalian perjalanan kereta. Ketiga, mitigasi risiko kecelakaan KA untuk rear-end collision atau tabrakan dari belakang.

Baca JugaTragedi Kereta Api, dari Bintaro hingga Cicalengka
Berapa korban akibat kecelakaan?

Dari kecelakaan yang terjadi, korban tewas dan luka melibatkan penumpang dan awak kereta. Dalam kejadian terbaru di Bekasi Timur, hingga Selasa (28/4/2026) malam, dilaporkan 16 orang meninggal dan 90 orang terluka.

Sementara dalam kecelakaan di Cicalengka, dua orang meninggal yang merupakan masinis dan asisten masinis yang mengemudikan Commuter Line. Dalam insiden antara KA Senja Utama jurusan Jakarta-Samarang dan KA Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya tahun 2010 di Kabupaten Pemalang, setidaknya 34 nyawa melayang. 

Korban yang mencapai puluhan nyawa pun jatuh dalam insiden tabrakan KA Kertajaya dan KA Sembrani di Kabupaten Grobogan Jateng pada tahun 2006. Setidaknya, 14 korban meninggal dunia dalam tabrakan maut tersebut. 

Kecelakaan kereta api yang merenggut korban paling parah dalam sejarah Indonesia terjadi pada tahun 1987. Menurut laporan resmi Perusahaan Jawatan Keret Api (PJKA), korban tewas 139 orang. Tabrakan terjadi antara KA Patas Merah dengan KA lokal jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota.  

Baca JugaTragedi Bekasi Timur Menguak Rapuhnya Sistem dan Infrastruktur Perkeretaapian
Bagaimana upaya mitigasi kecelakaan?

Merespons kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai, pendekatan lintas disiplin dapat dilakukan untuk merespons kecelakaan kereta ini, termasuk melakukan kajian sistem deteksi otomatis dan dampak medan magnet terhadap kendaraan di sekitar rel.

Kajian perkeretaapian tidak hanya berfokus pada aspek sarana, tetapi juga mencakup prasarana. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah structural health monitoring system yang digunakan untuk mengaudit kondisi jembatan kereta api secara real-time dalam meningkatkan keselamatan dan keandalan infrastruktur transportasi rel.

Upaya lain yang sudah dilakukan adalah pembenahan jalur rel. Pembangunan jalur ganda dan dwiganda selama ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan mengurangi konflik arah. Namun, kecelakaan Bekasi menunjukkan peningkatan kapasitas saja tidak cukup. Persoalan keselamatan bersifat dinamis dan membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.

Permasalahan harus dilihat dalam tiga dimensi utama: sarana-prasarana fisik, sistem dan manajemen, dan sumber daya manusia.

Aspek fisik mencakup rel, persinyalan, dan pelintasan. Sementara itu, aspek sistem menyangkut teknologi, manajemen operasi, pengendalian dan integrasi data. Sedangkan, aspek SDM berkaitan dengan skill, kompetensi, dan budaya keselamatan. Ketiganya harus berjalan dalam satu sistem terpadu. Kegagalan satu aspek dapat meruntuhkan keseluruhan sistem. (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaAtasi Kecelakaan Kereta, BRIN: Perlu Riset Lintas Disiplin

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tahap Seleksi PHTC 2026 Berlanjut, Ini Jadwal Tes Kompetensi Manajer Kopdes Merah Putih dan KNMP
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Menteri PPPA Sepakat Keselamatan Pria dan Wanita Prioritas: Tak Maksud Abaikan
• 16 jam laludetik.com
thumb
Prabowo: Banyak Negara Lain Belajar Program MBG ke Indonesia
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Ingin Hidup 1.000 Tahun Lagi: Saya Ingin Melihat Indonesia Jaya
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Menkomdigi Minta Publik Bijak Sebarkan Informasi Kecelakaan Kereta Bekasi
• 5 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.