Di tengah kondisi pasar yang dinamis, "Sang Raksasa" otomotif ini menunjukkan ketangguhannya meski harus menghadapi tantangan berat di sektor komoditas.
Walau kontribusi dari lini pertambangan turun, kontribusi sektor lainnya seperti, otomotif, jasa keuangan, hingga properti justru tetap meningkat.
Tercatat, pendapatan bersih konsolidasian grup pada kuartal pertama tahun 2026 adalah sebesar
Rp78,7 triliun, 6 persen lebih rendah dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2025.
Laba bersih grup juga tercatat hanya mencapai Rp5,9 triliun, 16 persen lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025.
Hal ini disebabkan oleh kinerja yang lebih rendah dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi. Selain itu, pada periode ini, grup mencatat beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas.
"Pada kuartal pertama tahun 2026, laba Grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut," jelas Presiden Direktur Astra, Rudy dalam keterangan tertulis, Kamis, 30 April 2026.
Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih grup turun 8 persen menjadi Rp6,8 triliun.
Meski begitu, nilai aset bersih per saham pada 31 Maret 2026 naik sebesar 2 persen menjadi Rp5.810.
Utang bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp1,8 triliun pada 31 Maret 2026, dibandingkan dengan kas bersih Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham.
Sementara utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp66 triliun pada 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025.
Baca juga: Astra (ASII) Ganti Pucuk Pimpinan, Chatib Basri Perkuat Jajaran Komisaris Tantangan di Sektor Tambang dan Alat Berat Laba bersih divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menurun 79 persen menjadi Rp408 miliar. Pada periode ini, UT mengakui non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi.
Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih divisi ini turun 42 persen menjadi Rp1,1 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan kinerja terutama disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah pada tahun 2026. Otomotif dan jasa keuangan penopang kinerja Meski sektor tambang sedang "dingin", lini otomotif dan mobilitas tetap menjadi andalan utama Astra. Laba bersih dari sektor ini naik 4 persen menjadi Rp2,4 triliun. Menariknya, pertumbuhan ini tetap terjadi berkat moncernya bisnis mobilitas dan komponen, sekalipun volume penjualan mobil sedang mengalami tantangan.
Tak mau kalah, divisi Jasa Keuangan juga mencatatkan rapor hijau. Laba bersih di sektor ini terkerek naik 6 persen menjadi Rp2,3 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kuatnya bisnis pembiayaan konsumen seiring dengan meningkatnya nilai portofolio pembiayaan perusahaan. Agribisnis hingga properti kompak melejit Sementara itu, untuk sektor agribisnis laba bersih tercatat melejit 35 persen yakni Rp298 miliar, berkat volume penjualan CPO yang naik tipis dan harga yang stabil.
Sektor infrastruktur juga tumbuh 32 persen menjadi Rp343 miliar. Kenaikan tarif tol dan volume lalu lintas harian yang naik 14 persen menjadi mesin uang di sektor ini.
Sedangkan untuk sektor teknologi informasi mencatat laba bersih yang meningkat 47 persen menjadi Rp53 miliar berkat efisiensi dan peningkatan marjin usaha.
Lalu untuk sektor properti mencatat kenaikan laba fantastis sebesar 145 persen menjadi Rp115 miliar, yang bersumber dari aset gudang industri baru yang telah diakuisisi.
"Ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan," tutur Rudy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





