Jakarta: Penabur Intercultural Secondary & Junior College Kelapa Gading, Jakarta Utara, menggelar STEAM anda Art Exhibitions dengan tema "Unity in Kindness in Smart City" pada Rabu, 29 April 2026. Sebanyak 417 siswa yang terbagi ke dalam 34 tim saling berkolaborasi menciptakan proyek inovasi.
STEAM anda Art Exhibitions merupakan kegiatan tahunan yang bertujuan memperkenalkan siswa cara berkolaborasi menghasilkan solusi dalam menampilkan bakat seni maupun membuat kota modern yang ramah lingkungan. Semua itu dilakukan dengan menggabungkan ilmu Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika (STEAM).
"Seni dan STEAM adalah sebuah kolaborasi yang baik. Terkadang kita berpikir bahwa seni adalah kegiatan non-akademik, tetapi itu tidak benar. Untuk mempersiapkan pertunjukan seni yang baik diperlukan logika berpikir dan kerja sama yang baik antarsiswa, begitu juga STEAM yang penting membangun relasi dengan teman agar dapat berkolaborasi menghasilkan karya inovatif yang baik," ujar Kepala Sekolah Penabur Intercultural Secondary & Junior College Kelapa Gading, Bobby Aprianto di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.
Bobby menjelaskan tahapan proyek STEAM yang dilakukan oleh siswa. Pada tiga bulan pertama, para guru memperkenalkan kepada siswa apa itu design thinking. Tiga bulan berikutnya, siswa melakukan penelitian terhadap kota yang sudah ditugaskan karena setiap kelompok mendapatkan nama kota yang berbeda-beda.
"Kemudian, pada semester dua masing-masing kelompok mulai membangun proyek dan mendapatkan kesempatan berkonsultasi dengan guru sains maupun seni rupa untuk sentuhan akhir," jelas Bobby.
Baca Juga :
Pelajar Diajak Konservasi Laut lewat Penanaman Terumbu Karang di Banyuwangi
Bobby berharap kegiatan STEAM & ART Exhibitions dapat berguna bagi siswa saat ini dan di masa depan. Ia juga mengajak setiap siswa yang hadir, guru, dan orang tua untuk mendukung setiap karya siswa, baik di bidang seni maupun STEAM, dengan mengapresiasi pertunjukan di atas panggung maupun mengunjungi booth STEAM.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengarah Komite Ekonomi Kreatif Jakarta (KE JKT) Ricky Pesik, yang juga sebagai juri berpendapat ekspresi artistik dari setiap siswa yang merupakan Generasi Alpha ini tentu berbeda dengan generasi lainnya. Hasil karya seni yang mereka hasilkan terlihat lebih menggambarkan kebahagiaan,.
Di sisi lain, Ricky menyampaikan pendapatan dari ekonomi kreatif secara global 20 persen lebih besar dibandingkan gabungan ekonomi dan belanja militer Jerman. Namun, menurut dia, berbagai forum global masih banyak yang berfokus pada industri lama.
"Pada 2018, Indonesia akhirnya berinisiasi mengadakan World Conference on Creative Economy (WCCE), yaitu konferensi berskala internasional pertama dan terbesar yang berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif. Kegiatan ini rutin digelar setiap tahunnya hingga hari ini," jelas Ricky.
Ilustrasi IKN Nusantara. Foto: Dokumen Kementerian PUPR
Ricky turut menyampaikan Indonesia juga baru menetapkan undang-undang tentang ekonomi kreatif pada tahun 2019. Hal ini menjadi nilai tambah dari kekayaan intelektual.
Salah dua peserta, Nathan dan Danzel, menceritakan proyek yang telah mereka buat, yaitu IKN Smart City Keduanya, membuat sebuah sistem preventif apabila terjadi kebakaran hutan di IKN.
"Jadi, ketika ada api, sensor api akan mengirimkan sinyal ke microbit, relay mode, dan water supply. Lalu, ketika power supply dinyalakan, air akan memadamkan kebakaran yang terjadi di hutan," jelas Nathan dan Danzel.
Chloe, Michelle, Richelle, dan Wilson, peserta lainnya juga membuat proyek bertajuk IKN Smart City. Namun, tim mereka tidak berfokus pada pembuatan prototipe, melainkan pada riset. Mereka memiliki kekhawatiran apabila terjadi hujan maka IKN akan menjadi seperti Jakarta, yakni banjir dan membuat kota menjadi kotor.
"Jadi, kami memiliki solusi dengan menanam tanaman mangrove di sepanjang pesisir pantai. Tanaman mangrove akan mencegah banjir dan akan menghalau gas beracun yang berasal dari emisi kendaraan maupun pabrik. Dengan begitu, setiap orang yang tinggal akan memiliki kesehatan yang lebih baik," jelas Richelle.
Wilson menuturkan kesulitan dalam membuat proyek adalah mencari material yang tepat, terutama saat menggunakan styrofoam sebagai alas komponen listrik. Wilson dan tim memutuskan untuk tidak fokus pada komponen listrik, tetapi pada penelitian.
"Tantangan lainnya adalah anggota kelompok yang kurang kooperatif, tetapi kami berusaha membangun komunikasi dan akhirnya tetap bisa berkolaborasi dengan baik. Lalu, tantangan selanjutnya adalah pada 3D painting yang membutuhkan waktu pengerjaan cukup panjang. Ada kekhawatiran apakah hasilnya sesuai dengan desain fisik yang kami siapkan, tetapi pada akhirnya berhasil terpasang dengan baik," ungkap Wilson.




