Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Apa Dampaknya? 

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa (28 April) mengumumkan akan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+ mulai 1 Mei. Keputusan ini semakin melemahkan pengaruh OPEC terhadap pasokan dan harga minyak global. 

Sejumlah analisis menyebutkan bahwa keluarnya UEA akan membebaskan negara tersebut dari pembatasan produksi, sehingga ke depan dapat meningkatkan produksi secara bertahap. Namun, akibat blokade Selat Hormuz, dampaknya dalam jangka pendek masih terbatas. Dalam jangka panjang, langkah ini berpotensi menekan harga minyak dan menguntungkan ekonomi global.

Dalam pengumumannya, UEA menyatakan bahwa keputusan keluar dari OPEC dan sekutunya didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas produksi saat ini dan masa depan. Keputusan ini tidak mengubah komitmen UEA terhadap stabilitas pasar global, melainkan justru meningkatkan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan pasar.

Saat ini, sebagai salah satu produsen utama OPEC, produksi harian UEA sekitar 3,5 juta barel, sementara kapasitas produksinya bisa mencapai 4 hingga 5 juta barel per hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, UEA berulang kali menyatakan ketidakpuasan terhadap kuota produksi yang ditetapkan OPEC, yang dinilai terlalu rendah dan membatasi pendapatan. UEA ingin meningkatkan kuota produksi, sementara Arab Saudi cenderung mempertahankan pembatasan produksi untuk menopang harga minyak.

 “Semua orang tahu bahwa OPEC pada dasarnya dipimpin oleh Arab Saudi. Keluarnya UEA berarti organisasi ini mulai terpecah. Alasan utamanya adalah UEA ingin mengekspor lebih banyak minyak, sementara Arab Saudi ingin menjaga harga tetap tinggi dan tidak ingin meningkatkan produksi terlalu banyak. Dengan keluar dari OPEC, UEA dapat melepaskan diri dari pembatasan tersebut dan berusaha meningkatkan ekspor untuk memperoleh lebih banyak devisa,” kata seorang pengamat Li Linyi. 

Selain itu, ada pandangan bahwa faktor politik regional juga berperan. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara UEA dan Arab Saudi cenderung mendingin karena perbedaan kepentingan politik dan ekonomi di Timur Tengah.

Pengamat Lan Shu:  “Iran adalah salah satu pendiri utama OPEC, sementara Rusia merupakan pendorong utama dalam OPEC+. Namun, dalam lima tahun terakhir, perkembangan di Timur Tengah dan Eropa menunjukkan bahwa tindakan Rusia dan Iran telah merusak tatanan internasional yang ada dan mengancam stabilitas harga minyak global. Keluarnya UEA dari OPEC mungkin hanyalah domino pertama dalam rangkaian efek yang lebih luas.”

Pengamat menilai bahwa dalam jangka pendek, dampak keluarnya UEA masih terbatas karena Selat Hormuz masih diblokade, sehingga harga minyak kemungkinan tetap tinggi. Namun dalam jangka panjang, hal ini dapat menekan harga minyak dan menguntungkan konsumen global.

Seiring berkurangnya ketidakpastian pasar, mekanisme penentuan harga minyak juga diperkirakan akan kembali lebih bergantung pada hukum permintaan dan penawaran, bukan dominasi OPEC.

Pada saat yang sama, hal ini juga dipandang sebagai sebuah kemenangan bagi Presiden AS Donald Trump.

 “Amerika Serikat selama ini ingin mematahkan dominasi OPEC terhadap pasar minyak. Dengan keluarnya UEA dari OPEC, ini tentu menjadi kabar baik bagi AS, sekaligus membantu menekan harga minyak,” kata Li Linyi. 

Laporan oleh Chen Yue dan Chang Chun, NTD.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadi Perbincangan Global, No Na Kini Mejeng di NME
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Apa Dampaknya? 
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Tragedi Bekasi Timur: Trauma Penumpang dan Ujian Kepercayaan pada KRL
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Bagi Ahli Waris Tenaga Medis di Ponorogo
• 4 jam lalurealita.co
thumb
Penjualan Naik 44 Persen, Trimegah Karya (UVCR) Balik Posisi Rugi Jadi Untung Rp4,3 Miliar
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.